Abdul Muhith – Dosen Keperawatan FKK

PENYAKIT gagal ginjal kronis dapat mengakibatkan implikasi positif dan negatif sebagai pengalaman traumatis. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan kejiwaan-psikologis dan fisik.

Namun dampak dari gangguan gagal ginjal kronis dapat mengalami Posttraumatic Growth (PTG) yaitu perubahan positif setelah kejadian traumatis selain perubahan negatif juga. Peristiwa traumatis ditandai oleh suatu keadaan yang memprovokasi rasa takut, tak berdaya atau ngeri saat menanggapi ancaman luka atau kematian.

info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Selain itu muncul berbagai reaksi termasuk reaksi akut seperti ketidakberdayaan, kebingungan, kegelisahan, kejutan, ketidakpercayaan dan kemarahan yang parah (Sharma dan Zhang, 2017).

Permasalahan psikologis meliputi masalah konsep diri, depresi, delirium, perilaku bunuh diri, kecemasan dan mudah panik (Sousa, 2008). Pasien yang menjalani hemodialisis, kebanyakan dari pasien mengalami gejala yang mengganggu kemampuan untuk berfungsi sesuai kapasitas normal dan menghambat kualitas hidup pasien (Letchmi, et al, 2011).

Hemodialisa merupakan terapi pengganti yang paling banyak digunakan pasien end stage renal disease dengan presentase 78% dan sisanya memakai terapi pengganti lainnya seperti transplantasi, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) dan CRRT (Continuous Renal Replacement Therapy) (IRR, 2015).

Hemodialisa merupakan salah satu terapi pengganti yang bekerja menggantikan fungsi kerja dan sebagian kerja dalam mengeluarkan sisa hasil metaboisme dan cairan yang berlebih dan zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh serta dilakukan rutin selama 2-3 kali seminggu dengan durasi waktu 3-4 jam persesi (Susantitaphong, et al., 2012). Sehingga upaya yang patut dilakukan untuk mencegah timbulnya Posttraumatic Growth.

Kualitas hidup dan konsep diri yang rendah adalah dengan memberikan terapi reiki berbasis spritual (Doa) mempunyai manfaat untuk memperpanjang hidup, mencegah kematian dan mengembalikan kualitas hidup yang cukup baik.

Namun hemodialisa tidak dapat menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal serta tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas endokrin atau metabolik yang dilakukan oleh ginjal sehingga pasien akan mengalami beberapa komplikasi baik dari penyakitnya atau terapinya (Tzanakaki, 2014).

Complementary adalah terapi yang sifatnya melengkapi terapi medis dan telah terbukti manfaatnya (Conn, Hollister, & Arnold, 2001). Salah satu terapi yang diklasifikasikan oleh National Center of Complementary and Alternative Medicine sebagai terapi “energy medicine” adalah reiki.

Terapi reiki adalah yang pertama kali digunakan dalam praktek, ia semakin sering digunakan dalam berbagai pengaturan medis termasuk perawatan rumah sakit, ruang gawat darurat, pengaturan kejiwaan, ruang operasi, rumah sakit perawatan anak, rehabilitasi, dan pusat kesehatan, unit kebidanan, ginekologi, perawatan bayi, HIV/AIDS.

Selain itu reiki di gunakan di unit perawatan transplantasi organ, untuk berbagai kondisi medis seperti kanker, rasa sakit, autisme, infertilitas, gangguan neuro degenerative dan sindrom kelelahan (Gala True and Albert Einstein, 2016).

Terapi reiki menggunakan energi vital sebagai penyembuhan (Mckenzie, 2016, dalam Soegoro, 2012). Pada pasien Gagal ginjal kronis dan DM, energi akan disalurkan oleh tangan praktisi reiki melalui cakra (pintu gerbang masuk dan keluarnya energi) mahkota, solar pleksus, dan seks.

Cakra mahkota berada di kepala (ubun-ubun), solar pleksus di area ulu hati, dan cakra seks disekitar dasar punggung /perineum. Penyembuhan terjadi melalui suatu proses dimana energi menstimulasi sel-sel dan jaringan yang rusak untuk kembali pada fungsinya yang normal (Goldberg, 2011, dalam Sjahdeini, 2015).

Relaksasi dan meditasi dalam terapi reiki juga menyebabkan sistem saraf simpatis diinhibisi sehingga menghambat sekresi norepineprin (Benson, Proctor, 2010). Inhibisi norepineprin menyebabkan frekuensi jantung, pernafasan, dan glukosa darah menurun. Selain itu hipofisis anterior juga diinhibisi sehingga ACTH yang mensekresi hormon stres seperti kortisol menurun sehingga proses glukoneogenesis, serta katabolisme protein dan lemak yang berperan dalam peningkatan glukosa darah menurun dan hormon stres seperti kortisol juga menurun (Guyton, 2011; Smeltzer & Bare, 2012).

Terapi reiki berkembang mereka mengkombinasikan reiki dengan terapi medis dalam menyembuhkan pasien (Vitale, 2017). Terapi reiki adalah merupakan perawatan langsung ditawarkan melalui sentuhan ringan pada penerima berpakaian lengkap yang duduk di kursi atau berbaring di meja perawatan.

Pengaturan kondisi tenang yang kondusif untuk relaksasi diinginkan, tetapi tidak perlu. Perawatan penuh biasanya termasuk menempatkan tangan pada posisi di kepala, dan di depan dan di belakang juga.

Tangan juga dapat ditempatkan secara langsung di atas cedera atau rasa sakit jika diinginkan, tetapi teknik ini bukan merupakan gejala atau patologis spesifik. Ketika sentuhan ringan dikontra indikasikan, seperti pada adanya lesi, tangan dapat melayang beberapa inci dari tubuh dengan perawatan penuh biasanya berlangsung 45 menit hingga 75 menit dan dilakukan selama 8-12 pertemuan/hari. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry