
SURABAYA | duta.co – Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh, DEA, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan catatan penting dalam pengantarnya di depan ratusan peserta Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Kabupaten Tuban, Sabtu (11/04/2026) kemarin.
Mantan Mendikbud RI (Periode 2009-2014) itu, menegaskan, bawah ada tiga ketepatan yang mengiringi Muskerwil PWNU Jawa Timur kali ini. Pertama, di mana saat-saat ini, PBNU memerlukan pandangan-pandangan genuine original yang berasal dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. “Dan, PWNU Jawa Timur hari ini dan esok, insyaAllah akan merumuskan pandangan-padangan tersebut,” katanya.
Kedua, saat sekarang ini, (bahkan) Muktamar ke-35, jelas tidak sama dengan Muktamar ke-34 atau ke-33. Di mana tidak samanya? Tahunnya saja sudah berbeda. “Maksud saya yang berbeda itu bahwa Muktamar ke-35 ini berada di akhir abad pertama, dan awal abad kedua. Ini yang sering saya sampaikan, bahwa, kita sekarang sedang menyambung antara abad pertama dan abad kedua,” tegasnya.
Mengapa perlu ada semangat penyambungan? “Karena kalau tidak kita sambung, maka, ruh perjuangan para muassis (pendiri) NU tidak bisa mengalir, ibarat aliran listrik dari abad pertama ke abad kedua. Di situlah Muskerwil PWNU Jatim ini punya ketepatan kedua,” terangnya.
Ketiga, kata Prof Nuh, adalah resorsis (sumber daya manusia) NU di JawaTimur itu, luar biasa. Baik resorsis (terkait) sejarah — karena NU itu didirikan di Kota Surabaya (catatan sejarah begitu). Surabaya ada di mana? di Jawa Timur. Sehingga apa? Jawa Timur-lah yang (harus) menjadi pelopor untuk memberikan pandangan-pandangan yang genuine original, luar biasa demi masa depan NU.
“Mudah-mudahan dengan tiga ketepatan ini, Muskerwil NU Jatim akan menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa, menyiapkan masa depan NU di abad kedua, sehingga jauh lebih dahsyat lagi. Jauh lebih memberikan kemanfaatan. Jauh lebih bermartabat,” pungkasnya saat memberikan pengantar Muskerwil.
Menghidupkan Nahdlatut Tujjar
PWNU Jawa Timur memang tengah menggagas “Gerakan NUConomic” yang berbasis tiga pilar pemberdayaan ekonomi warga NU ala “Nahdlatut Tujjar”, yang telah disepakati pada Muskerwil PWNU Jatim di Tuban, 11-12 April, untuk dibawa ke Konbes atau Munas NU pada akhir April 2026 mendatang.
“Kalau Abad Pertama NU ada gerakan ‘Nahdlatut Tujjar’ yang dikembangkan para muassis NU, maka Abad Kedua NU juga harus menjadikan Nahlatut Tujjar sebagai inspirasi untuk mengembangkan gerakan serupa yang sesuai tantangan ekonomi abad kedua,” kata Wakil Ketua PWNU Jatim Dr H Hakim Jayli dalam pernyataan di Surabaya, Selasa.
Menurut dia, Komisi Ekonomi pada Muskerwil PWNU Jatim di Tuban, 11-12 April 2026 telah menyepakati “Gerakan NUConomic” yang berbasis tiga pilar pemberdayaan ekonomi warga NU ala “Nahdlatut Tujjar” itu dijadikan sebagai gerakan nasional melalui Konbes/Munas NU pada akhir April 2026 hingga Muktamar NU pada awal Agustus 2026.
Ia menjelaskan Program Ekonomi ala Nahdlatut Tujjar pada Abad Kedua NU yang pertama kali dikonsep oleh Fauzi Priambodo (wakil bendahara PWNU) saat masih menjadi Ketua PW LPNU itu fokus pada pemberdayaan ekonomi warga NU dengan konsep “NUConomic” berbasis pada tiga pilar, yakni Pendampingan UMKM, Pendampingan Petani/Nelayan/Peternak (industri hilirisasi), dan Pemanfaatan Filantropi Islam (ZIS/Wakaf) untuk pemberdayaan ekonomi warga.
Untuk pelaksanaannya, katanya, akan dibuat “pilot project” perhutanan sosial pada tiga titik, yakni PCNU Blitar, Kabupaten Malang dan Situbondo. “Pilot project yang juga sudah mulai berjalan adalah Sertifikasi Halal UMKM, Permodalan Usaha melalui ZIS Produktif, Pendampingam Kemasan dan Foto Produk UMKM,” katanya.
Bahkan, hilirisasi bidang Nelayan/Peternak juga sudah ada dukungan dari kader NU/alumni ITS Astutik MT yang menemukan kolagen berbahan sisik ikan lemuru (Sardinella lemuru) asal Banyuwangi, Jatim, yang berkualitas internasional.
Dalam Muskerwil Tuban itu, Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, menyinggung potensi ekonomi warga NU yang sangat besar, bukan hanya untuk ekonomi, tapi juga untuk penguatan sosial, kesejahteraan umat, dan kemandirian. “PBNU juga sudah mencanangkan holding PT Bulan Cahaya Lillah (BCL) yang nantinya bisa menjadi embrio Nahdlatut Tujjar Abad Kedua,” katanya.
Selain program ekonomi, PWNU Jatim dalam Muskerwil menjelang Konbes/Munas NU (akhir April) dan Muktamar NU (awal Agustus) itu juga mengusulkan pelembagaan “Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) Center” sebagai Lembaga/badan khusus dalam Konbes/Munas menjelang Muktamar Ke-35 NU. (net,pwnu)




































