JAKARTA  | duta.co  – Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) diminta untuk menjadi garda terdepan dalam membangun dan mengembangkan perekonomian warga NU (nahdliyin) di Indonesia. Pasalnya, rata-rata perekonomian warga nahdliyin masih kelas menengah ke bawah.
“Kami sangat berharap melalui HPN perekonomian nahdliyin bisa tumbuh dan berkembang,” ujar Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memberikan arahan kepada ratusan pengusaha HPN di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (9/8).
Acara halal bihalal sekaligus peringatan harlah HPN yang ke-7 diisi dengan penyerahan sertifikat dari Museum Rekor Indonesia (MURI) kepada pengusaha Arief Setyawiyoga sebagai owner Warunge Aisyah dan Ginger Maniac untuk produk tempe dengan varian rasa terbanyak, sate bandeng dengan varian rasa terbanyak dan tempe mendoan dengan varian rasa terbanyak.
Owner Warunge Aisyah dan Ginger Maniac Arief Setyawiyoga bersyukur sekaligus mengapresiasi MURI yang telah memberikan pengakuan terhadap produk-produk miliknya. Arief berharap lantaran pengakuan MURI produknya kedepan semakin besar, berkembang dan memberikan manfaat besar kepada masyarakat Indonesia.
“Mudah-mudahan dan mohon doanya agar usaha kami semakin besar dan berkembang pesat,” ujarnya.
Dijelaskannya, lahirnya tempe dengan berbagai macam varian rasa ini adalah sebuah proses yang melawan mitos dan melawan proses alamiah dari berbagai bahan yang ada. “Bagaimana caranya keju ada di dalam tempe dan tidak rusak bercampur dengan ragi tempe. Bagaiman caranya getah bawang dan cabe bercampur dengan ragi sehingga proses peragian berjalan dan menjadi tempe Aisyah. Tempe mendoan Aisyah dan sate bandeng juga mendapatkan pengakuan dari MURI,” ujarnya.
Warunge Aisyah dan Ginger Maniac juga membagi-bagikan tempe mendoan secara gratis bersamaan soft launching 3 resto dan cafe yang ada di 3 kota yakni di Jalan Bhayangkara Kota Serang Banten, Jalan Caman Raya, Jatibening Bekasi, Jabar dan Jalan Merpati Kota Tegal, Jawa Tengah.
Sementara itu, Ketua Umum HPN Abdul Kholik menegaskan bahwa HPN menargetkan kemandirian ekonomi pada 2030 dan konglomerat papan atas di Indonesia dikuasai nahdliyin. “Mudah-mudahan ini bisa terwujud, amin,” ujar Cak Kholik.
Ke depan lanjutnya, selain akan memantapkan program HPN yang sudah berjalan pihaknya juga terus melakukan terobosan-terobosan dengan membuat berbagai wahana baik melalui media sosial maupun melalui kontak fisik langsung agar konektifitas para pengusaha berjalan. “Makanya HPN tidak akan mengandalkan bantuan dari pemerintah, HPN akan mandiri melakukan sinergi antar pengusaha,” tegasnya.
Misalnya bisnis beras, di saat ada problem di lapangan, maka pemerintah akan melakukan operasi pasar yang sebelumnya tidak pernah dilakukan seperti kemarin. Makanya kalau pengusaha beras bersinergi tentu akan berhadapan dengan kebijakan pemerintah.
“Nah, ini yang akan kita tiru, di HPN akan ada sinergi antar pengusaha supaya saling membantu, kalau pemerintah tidak berpihak kepada HPN,” pungkasnya. (hud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.