
Dalam Sidang Terbuka Doktor pada 21 Januari 2026, dr Rika dinyatakan lulus sebagai doktor ke-1102 dengan predikat dengan pujian atau cumlaude. Sidang Ujian Doktor Terbuka yang dipimpin langsung oleh Dekan FK Unair Prof Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati,SpOG.,Subsp. Urogin-RE. Ujian tersebut dilaksanakan di Aula Kampus A FK Unair.
Di tengah kesibukan menjalankan tugas akademik dan profesional, Dr Rika tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam menempuh pendidikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan keberhasilannya menyelesaikan pendidikan dalam 3 tahun dan menghasilkan karya-karya publikasi pada jurnal bereputasi internasional.
Pada proses akademiknya, Dr Rika dibimbing oleh Prof Dr dr Anang Endaryanto, MARS., Sp.A(K) sebagai promotor, dengan Prof Dr dr Ni Made Mertaniasih, MS., Sp.MK(K) sebagai kopromotor I, serta Dr dr Retno Asih Setyoningrum, Sp.A(K) sebagai kopromotor II.
Disertasi yang disusun Dr Rika mengangkat judul “Mekanisme Peran Diversitas Mikrobiota Saluran Cerna dalam Meningkatkan Risiko Tuberkulosis pada Anak melalui Mediasi Viabilitas Mycobacterium tuberculosis serta Respons Sitokin Inflamasi”. “Penelitian ini berangkat dari konsep gut-lung axis, yaitu hubungan antara kesehatan saluran cerna dan paru-paru, yang memiliki peran penting dalam penyakit infeksi, termasuk tuberkulosis (TB) pada anak,” katanya.
Melalui penelitiannya, Dr Rika menganalisis perbedaan mikrobiota saluran cerna pada anak yang menderita TB dan anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TB. Penelitian ini melibatkan anak usia 1 bulan hingga 18 tahun dengan TB yang telah terkonfirmasi secara bakteriologis, serta saudara kandung yang tinggal serumah sebagai kelompok kontak. Sampel feses dan darah dianalisis menggunakan metode laboratorium modern untuk melihat profil bakteri usus, respons imun tubuh, serta keberadaan kuman TB.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan komposisi bakteri saluran cerna pada anak penderita TB, terutama penurunan salah satu kelompok bakteri yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Selain itu, ditemukan peningkatan respons imun tertentu yang berkaitan dengan peradangan pada anak yang sakit TB. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi mikrobiota usus berpengaruh terhadap sistem imun dan perjalanan penyakit TB pada anak.
Berdasarkan hasil tersebut, Dr. Rika menyimpulkan bahwa perubahan keseimbangan mikrobiota saluran cerna berkaitan dengan keberlangsungan hidup kuman TB serta respons imun tubuh. Mekanisme ini berperan dalam meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit TB. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan mikrobiota sebagai strategi pendukung dalam menjaga keseimbangan sistem imun dan menurunkan risiko TB pada anak.
Keberhasilan Dr. Rika Hapsari ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu kedokteran, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan tuberkulosis pada anak, serta menjadi inspirasi bagi sivitas akademika FK Unair untuk terus berprestasi di tengah berbagai tantangan. ril/lis





































