Prof Fatah Syukur bersama Rektor UIN Walisongo. (FT/RIKZA)

SEMARANG | duta.co – Fatah Syukur, Kabid Dikdasmen LP Ma’arif NU Jateng, kini berhak menyandang  gelar profesor. Kamis (23/03/2017) kemarin ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang. Pengukuhan dilakukan oleh Rektor Prof H Muhibbin MAg yang menetapkan Prof Dr H Fatah Syukur MAg sebagai guru besar ke-16.

“Dengan bertambahnya profesor ini, kita berharap perguruan tinggi semakin maju dan berkualitas,” tandas Muhibbin. Oleh sebab itu, akreditasi program studi dan institusi harus dilakukan secara baik.

Gagasan Fatah Syukur tentang model manajemen madrasah efektif sangat menginspirasi para akademisi dan para guru. “Ini harus dikembangkan, tentunya dengan merujuk pada tokoh-tokoh Islam termasuk meniru model kepemimpinan Rasulullah,” kata Muhibbin.

Fatah merupakan dosen program studi Manajemen Pendidikan Islam yang lahir di Kudus, 12 Desember 1968 dari pasangan Noor Chan dan Djairah. Fatah dikenal sebagai seorang aktivis yang hidupnya banyak didedikasikan untuk kegiatan kemasyarakatan. Suami dari HJ Uswatun Marhamah SAg MPd itu, kini menjabat sebagai Wakil Dekan I FITK UIN Walisongo Semarang, Ketua Bidang Dikdasmen LP Ma’arif NU Jawa Tengah dan Ketua DPD ADI (Ahli dan Dosen Republik Indonesia) Jawa Tengah) dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni FITK.

Di antara aktivitas yang paling ditekuni Fatah sejak masih menjadi siswa di PGA Kudus adalah jurnalistik. “Saya sangat senang dengan jurnalistik dan dunia tulis menulis,” tegas Fatah.

Saat sekolah di PGA Kudus sudah aktif di majalah sekolah dan sering menulis artikel seputar problem sosial keagamaan. Setelah menjadi mahasiswa S1 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo pada tahun 1987, Fatah mulai memprakarsai pendirian Majalah Edukasi. Ia menjadi redaktur Majalah Edukasi dan sering menulis artikel.

Kegiatan jurnalistik di kampus IAIN Walisongo saat itu juga dia asah dalam Surat Kabar Amanat IAIN Walisongo. Di SKM Amanat, Fatah ditunjuk sebagai Pimpinan Redaksi. Pengalaman jurnalistik masih ia tekuni hingga lulus IAIN Walisongo pada tahun 1992 dengan menjadi wartawan Majalah Krida milik Korpri Pemprov Jawa Tengah. Fatah menjadi wartawan Krida selama 3 tahun. Ayah dari Abiq Muhammad Faesal, Michael Aflakhus Ishlas, Affandi Ziaul Haq dan Alfia Kurnia Wardhani ini juga aktif menjadi kontributor koran dan majalah: Warta NU, Tabloid Jum’at, Majalah Amanah, Majalah Rindang dan koran lokal.

Fatah menegaskan bahwa menulis adalah aktivitas yang tidak pernah berhenti ia lakukan. Maka hidupnya selalu ingin menunjukkan selalu berkarya. Skill jurnalistik inilah yang menjadikan ia ditunjuk sebagai vice editor in chief Jurnal Internasional Ihya’ Ulumuddin dan Redaktur Pelaksana Jurnal Pendidikan Islam. Boleh dikatakan bahwa Fatah memang bergelut di bidang jurnalistik semenjak sekolah hingga menjadi dosen aktif. Maka di usia  49 tahun, Fatah berhasil menjadi Profesor.

Dari kemampuan tulis menulis itu, kini Fatah sudah melahirkan karya 9 buku, 15 judul penelitian dan ratusan judul artikel yang dipublikasi di jurnal, majalah dan koran. Fatah juga sudah pernah memiliki pengalaman di luar negeri, yaitu: Malaysia, Singapura, Filipina, Arab Saudi, Australia dan Jepang.

Fatah menegaskan untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak secara langsung maupun tidak langsung membantu, mendukung, memberikan jalan kepadanya untuk bisa mencapai jabatan Guru Besar ini. “Saya yakin bahwa keberhasilan yang telah saya capai ini bukan semata-mata usaha saya, akan tetapi dibalik keberhasilan itu banyak orang-orang yang sangat berjasa, mendoakan, mendorong, memberi semangat, mengkritik, dan sebagainya,” ungkapnya. (rkz)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.