Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya

BELAKANGAN ini, dunia teknologi global ramai membicarakan upaya pengembangan mesin pembuat chip canggih yang dilakukan secara mandiri oleh para insinyur China.

Isu ini mencuat karena teknologi utama yang selama ini digunakan untuk memproduksi chip tercanggih, terutama yang dipakai untuk kecerdasan buatan, tidak mudah diakses oleh semua pihak.

Di balik pemberitaan tersebut, terdapat cerita yang lebih menarik dan penting untuk dipahami bersama, yaitu bagaimana keterbatasan akses teknologi justru mendorong lahirnya inovasi baru melalui rekayasa dan pemahaman dasar teknologi.

Mengapa Mesin Pembuat Chip Begitu Penting?

Chip semikonduktor adalah “otak” dari hampir semua teknologi modern, mulai dari ponsel pintar, pusat data, hingga sistem kecerdasan buatan. Untuk membuat chip berteknologi tinggi, dibutuhkan mesin khusus bernama litografi Extreme Ultraviolet (EUV).
Mesin ini bekerja dengan tingkat ketelitian yang luar biasa.

Pola sirkuit dicetak pada ukuran yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari virus. Agar proses ini berhasil, mesin harus bekerja dalam kondisi hampir sempurna, tanpa getaran, suhu sangat stabil, dan presisi ekstrem. Karena itulah, mesin EUV tidak hanya mahal, tetapi juga sangat sulit dibuat.

Ketergantungan pada Satu Teknologi
Saat ini, industri chip global sangat bergantung pada satu jenis teknologi litografi tersebut. Dalam dunia rekayasa, kondisi seperti ini dikenal sebagai titik lemah sistem, ketika satu komponen sangat menentukan keberhasilan seluruh sistem.

Jika satu teknologi menjadi penentu utama kemajuan, maka ekosistem teknologi menjadi kurang fleksibel. Ketika akses terhadap teknologi itu terbatas, pengembangan inovasi pun ikut terhambat. Kondisi inilah yang mendorong upaya untuk mencari pendekatan baru dan membangun teknologi alternatif.

Ketika Keterbatasan Memicu Kreativitas Rekayasa

Mengembangkan mesin pembuat chip dari nol bukan perkara sederhana. Tantangannya bukan hanya soal merakit alat, tetapi memahami cara kerja fisika cahaya, material, dan sistem kontrol secara mendalam. Setiap bagian mesin harus saling mendukung dan bekerja dengan sangat presisi.

Proses ini sering kali tidak langsung menghasilkan teknologi yang siap dipakai. Namun justru di situlah nilai pentingnya. Ketika insinyur dipaksa membangun sendiri, mereka tidak hanya mengandalkan teknologi yang sudah jadi, tetapi mulai memahami prinsip dasarnya. Dari sinilah lahir inovasi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dampaknya bagi Perkembangan Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan modern membutuhkan chip yang sangat kuat dan efisien. Ketika jalur teknologi tertentu tidak tersedia, pengembang AI tidak berhenti, melainkan mencari cara lain. Misalnya, dengan merancang chip yang lebih modular, menggabungkan beberapa jenis prosesor, atau mengoptimalkan perangkat lunak agar lebih hemat sumber daya.

Pendekatan seperti ini membuka peluang baru. AI tidak lagi hanya bergantung pada “chip paling kecil dan paling mahal”, tetapi juga pada desain sistem yang cerdas dan efisien. Dalam jangka panjang, hal ini justru dapat membuat teknologi AI lebih inklusif dan adaptif.

Teknologi Inti dan Makna Negara Adidaya

Dalam konteks teknologi, istilah negara adidaya tidak merujuk pada kekuatan politik atau militer, melainkan pada kemampuan suatu negara menguasai teknologi inti yang menjadi fondasi bagi berbagai inovasi lanjutan. Penguasaan ini mencakup kemampuan merancang mesin, memahami material, mengendalikan sistem presisi, serta membangun ekosistem teknologi secara menyeluruh.

Negara yang menguasai teknologi dasar semacam ini memiliki keunggulan struktural dalam pengembangan inovasi. Bukan karena mendominasi pihak lain, melainkan karena mampu menentukan arah pengembangan teknologi, menetapkan standar teknis, dan beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan. Dalam dunia rekayasa, penguasaan sistem inti inilah yang membedakan antara sekadar pengguna teknologi dan pencipta teknologi.

Upaya membangun teknologi chip secara mandiri menunjukkan bahwa kemandirian teknologi bukanlah sesuatu yang instan. Ia lahir dari proses panjang memahami sistem, bereksperimen, dan menghadapi kegagalan teknis. Namun justru melalui proses inilah kapasitas inovasi jangka panjang dapat terbentuk.

Pelajaran Penting bagi Dunia Teknologi dan Pendidikan

Perkembangan ini memberi pelajaran penting bahwa penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan membeli atau menggunakan alat tercanggih. Yang jauh lebih penting adalah memahami cara kerja, prinsip dasar, dan sistem di balik teknologi tersebut.

Bagi dunia pendidikan tinggi, ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran teknologi harus menekankan pemahaman konsep dan kemampuan merancang solusi, bukan sekadar keterampilan operasional. Teknologi akan terus berubah, tetapi pemahaman dasar akan selalu relevan.

Sejarah teknologi menunjukkan bahwa inovasi sering kali lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari keterbatasan. Ketika satu jalur tertutup, rekayasa akan mencari jalannya sendiri. Mesin pembuat chip tercanggih hari ini mungkin menjadi standar utama, tetapi tidak akan selamanya menjadi satu-satunya pilihan.

Masa depan teknologi akan ditentukan oleh kemampuan untuk memahami sistem secara menyeluruh, beradaptasi terhadap perubahan, dan membangun solusi yang berkelanjutan. Dalam dunia rekayasa, keterbatasan bukan akhir dari inovasi, melainkan awal dari lompatan berikutnya. *