PEMERIKSAAN: Petugas saat melakukan pemeriksaan pada siswa (duta.co/arif rahman)

MOJOKERTO | duta.co -Dinas Kesehatan Kota Mojokerto terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) diwilayahnya. Bahkan, agar kualitas SDM Kota Mojokerto memiliki daya saing, Dinkes berupaya fokus menekan angka obesitas, kekurangan gizi dan stunting pada anak-anak dengan digerakkanya kader UKS.

“Kesadaran akan kesehatan yang terus kita sosialisasikan. Kita mewaspadai, membina dan mengawasi perilaku lingkungan sekolah,” tutur Kepal Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, Cristiana Indah Wahyu, Senin (9/9).

Berbagai upaya telah dilakukan dinkes kali ini dengan upaya mengerakkan kembali dan dioptimalkanya kader UKS. Dengan langkah itu, diharapkan angka penderita obesitas dan kekurangan gizi pada anak usia dini menurun pesat.

“Nantinya kader UKS ini yang mencatat dan melaporkan ke gurunya, selanjutnya guru melaporkan ke puskesmas terdekat dan ujungnya di dinas kesehatan. Penanganan masalah kesehatan butuh langkah berkesinambungan,” jelasnya.

Menurutnya sesuai aturan jumlah kader UKS sebanyak 10 persen dari jumlah siswa di tiap sekolah, jika kader-kader itu digerakkan maka, baik guru maupun orang tua siswa yang langsung berinteraksi dengan anak akan mampu mengambil langkah intervensi yang tepat.

“Teman-teman sekolah memantau dan melaporkan ke guru, sehingga ada langkah yang sesuai untuk penangganannya,” imbuhnya.

Indah mencontohkan jika ada seorang siswa mengalami obesitas, maka guru yang berinteraksi memberikan rekomendasi kepada guru olah raga agar melakukan 4L yakni lari, lempar, loncat dan lompat.

“Artinya butuh langkah yang tepat untuk menangani masalah kesehatan tentunya oranh tua siswa harus mengetahui,” jelasnya.

Seperti data dari salah satu Pukesmas di Kota Mojokerto, anak-anak yang mengalami obesitas rata-rata pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Yakni, dari persentase 7,5 persen turun menjadi 2,8 persen untuk anak kekurangan gizi, sedangkan untuk obesitas, dari persentase 24,3 persen turun menjadi 17,8 persen. Ini artinya, peningkatan penderita obesitas dua tahun lalu, tidak lepas dari gaya hidup, pola makan yang kurang sehat hingga tidak adanya gerakan fisik.

“Dua tahun lalu, obesitas sempat naik. Meskipun penderita anemia dan kekurangan gizi, lebih dulu turun angkanya. Namun, kami sudah intervensi melalui penyuluhan, motivasi tentang pola makan yang sehat seperti apa. Sampai kami berikan contoh bekal dalam satu piring, isinya apa saja. Berapa banyak sayur, karbohidrat dan proteinnya,” jelasnya.

Dan hasilnya, penderita obesitas menurun drastis melalui screening kesehatan yang dilakukan di setiap sekolah. Pemeriksaan kesehatan ini, tidak hanya meliputi status gizi pada anak. Melainkan, pemerikasaan fisik, panca indera, anemia, buta warna dan golongan darah. Jika nantinya ditemukan gejala, petugas akan memberikan surat rujukan untuk pemeriksaan lanjutan.

“Tidak hanya dari status gizi. Semua yang ada kelainannya, misalnya kelainan di matanya. Ternyata dia butuh kaca mata. Maka kami akan berikan rujukan ke puskesmas dan kami tindak lanjuti lagi. Kalau obesitas, dan kurang gizi, akan kami berikan konseling. Kalau anemia, akan diberikan tablet penambah darah,” tuturnya.

Lebih lanjut Indah, screening kesehatan di tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika, tahun sebelumnya, screening kesehatan hanya dilakukan untuk anak kelas 1 SD, 1 SMP dan 1 SMA saja, mulai tahun ini penerapan tersebut berubah.

“Mulai tahun ini ada yang berbeda. Karena kami mengacu pada standar pelayanan minimal (SPM) yang baru. Screening kesehatan untuk kelas 1 SD, SMP dan SMA. Sedangkan pemeriksaan berkala untuk SD kelas 2 sampai 6 dan SMP Kelas 2 sampai 3. Untuk SMA Kelas 2 dan 3 pemeriksaan usia produktif. Kalau jenis pemeriksaan, semuanya sama baik SD, SMP dan SMA,” tutupnya.ari

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry