dr A. Syaifuddin Zuhri SpOG (kiri) memberikan pengarahan kepada tenaga medis di Puskesmass di Tuban ketika melakukan pemeriksaan ibu hamil. DUTA/istimewa

Dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan (obstetri dan ginekologi) dari RSUD Tuban dr A. Syaifuddin Zuhri SpOG mendapatkan PAKI Award. Penghargaan itu diserahkan saat ajang Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) Persatuan Obstetri dan Ginekologi (POGI) 2019 di Shangrila Hotel Surabaya, Senin (8/7).

Penurunan Angka Kematian Ibu (PAKI) Award adalah ajang lomba dari inovasi dan terobosan para dokter kandungan di daerah dengan dukungan pemerintah setempat. Diikuti oleh banyak dokter ahli kandungan dari berbagai daerah di Indonesia. Dan satu dari tiga yang terpilih adalah dr Zuhri panggilan akrab  dr A. Syaifuddin Zuhri SpOG.

Inovasi yang dilakukannya adalah Permata yakni Persalinan Aman dan Tertata. Persalinan yang aman adalah semua ibu hamil dan bersalin berhak mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan itu harus memadai sarana prasarananya serta tenaga media yang memadai.

“Sekarang semua ibu hamil kita pantau. Tidak boleh lagi ada persalinan yang dilakukan di rumah,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi itu, ada kader-kader kesehatan setempat yang akan melakukan pemantauan. Dan mengarahkan para ibu hamil untuk ke layanan kesehatan yang ada.

“Persalinan itu adalah situasi yang bisa berakhir dengan tidak kita duga sebelumnya. Awalnya baik-baik saja tapi habis persalinan bisa mengalami pendarahan dan sebagainya. Bayangkan kalau itu dilakukan di rumah,” jelas dr Zuhri.

Selain itu, dr Zuhri dan timnya membentuk Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dadar  (Poned) di tujuh Puskesmas di Tuban. Di sana sudah ada tenaga dokter umum dan bidan yang sudah terlatih dan siap membantu persalinan 24 jam penuh.

Para petugas ini yang secara rutin datang ke rumah-rumah untuk memantau ibu hamil. “Ibu hamil itu proses, jadi kami bisa melakukan pemantauan dalam jangka waktu yang lama,” tukas dr Zuhri.

Sampai saat ini memang baru tujuh puskesmas yang berstatus Poned. Namun kata dr Zuhri, ada puskesmas singgahan yang juga mendapatkan pelatihan-pelatihan. “Karena untuk berstatus Poned itu juga harus dipikirkan sarana prasarananya. Salah satunya harus ada rawat inap. “Sebenarnya 70 persen puskesmas di Tuban sudah siap melayani persalinan tapi yang siap 24 jam baru 7 puskesmas itu,” jelas dokter lulusan FK Unair itu.

Ketua POGI Komisariat Pantura ini juga mengatakan, selain aman persalinan juga harus tertata. Tertata dalam hal personil, alat-alatnya dan sebagainya. Sehingga sebelum membantu persalinan semua sudah siap tanpa harus menunggu.

“Membantu persalinan itu bukan hanya dokter kandungan tapi melibatkan banyak tim. Tenaga inilah yang harus ditata agar tidak saling iri dan agar tahu tugas masing-masing,” jelasnya.

Yang berbeda dari program daerah lain, kata dr Zuhri adalah dengan melibatkan tim ahli lain tidak hanya dokter kandungan. “Ada spesialis jantung, anak dan spesialisbpenyakit lainnya ,” ujar Ketua POGI Pantura ini.

Dengan inovasi ini saat ini di Tuban bisa menekan angka kematian ibu hingga 50 persen. Pada 2015 jumlahnya 24 orang, setahun berikutnya 12 orang. Kini tiap tahun terus menurun hingga diharapkan bisa nol.

Ketua Pimpinan Pusat POGI, dr Ari Kusuma,SpOG mengungkapkan  menurunkan angka kematian ibu adalah bentuk tanggung jawab para dokter. “Tapi tidak hanya dokter, semua pihak sebenarnya bertanggungjawab,” tukasnya.

Pemberian PAKI Award ini memang dalam rangkaian PIT POGI 2019. Pemberian PAKI Award ini adalah salah satu dari rangkaian acara tahunan tersebut.

“Kita apresiasi para dokter yang sudah melakukan inovasi. Nantinya mereka yang sudah melakukan inovasi ini bisa diadopsi daerah lain,” ungkap Ketua POGI Surabaya, dr Brahmana Askandar SpOG. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry