
PASURUAN | duta.co – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Pasuruan menyatakan dukungan penuh terhadap program inovasi “Gerakan Bangkit Kembali Belajar” (Gerbang Kembar), sebuah langkah strategis Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS).
Program tersebut resmi diluncurkan dan diresmikan oleh Bupati Pasuruan, HM. Rusdi Sutejo, pada Kamis (12/2/2026) di Pendopo Bupati Pasuruan, Nyawiji Ngesti Wenganing Gusti.
Ketua PGRI Kabupaten Pasuruan, H. Akhmad Ponali, S.Pd., M.Pd., yang ditemui usai acara, menegaskan bahwa PGRI memegang peranan vital sebagai ujung tombak dalam upaya menekan angka ATS di Kabupaten Pasuruan.
“PGRI sebagai organisasi profesi tidak hanya fokus pada kesejahteraan guru, tetapi juga pada aksesibilitas pendidikan bagi seluruh anak di Pasuruan,” ujarnya.
Menurut Ponali, terdapat sejumlah fungsi strategis yang dijalankan PGRI dalam mendukung penanganan ATS.
1. Detektor dan Validasi Data di Lapangan
Guru-guru yang tergabung dalam PGRI tersebar hingga ke pelosok desa. Mereka berfungsi sebagai “mata dan telinga” pemerintah dalam mendeteksi potensi anak putus sekolah.
Peran tersebut meliputi:
-
Identifikasi dini, mengenali siswa yang mulai sering bolos dan berisiko putus sekolah.
-
Validasi data, melakukan verifikasi langsung di lapangan untuk memastikan apakah seorang anak benar-benar putus sekolah atau hanya pindah sekolah, sehingga data ATS tetap akurat.
2. Edukator dan Penggerak Kesadaran Masyarakat
Banyak kasus ATS dipicu oleh kurangnya kesadaran orang tua maupun faktor ekonomi. Untuk itu, PGRI mengambil langkah proaktif melalui:
-
Home visit (kunjungan rumah), yakni guru mendatangi rumah siswa guna berdialog dengan orang tua tentang pentingnya pendidikan.
-
Kampanye literasi pendidikan, mengedukasi masyarakat bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan.
3. Fasilitator Jalur Pendidikan Alternatif
Bagi anak-anak yang tidak dapat kembali ke sekolah formal, PGRI turut mengarahkan ke jalur pendidikan nonformal, seperti:
-
PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) melalui program Paket A, B, dan C.
-
Program link and match, menghubungkan anak usia produktif yang putus sekolah dengan lembaga pelatihan keterampilan agar tetap memiliki daya saing.
Ponali menegaskan bahwa persoalan Anak Tidak Sekolah merupakan pekerjaan rumah bersama antara pemerintah, PGRI, orang tua, dan masyarakat.
“Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Peran orang tua dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan program ini,” tegasnya.
Melalui penguatan yang diberikan Bupati Pasuruan lewat program Gerbang Kembar, diharapkan angka ATS di Kabupaten Pasuruan dapat ditekan secara signifikan dan seluruh anak memperoleh hak pendidikan secara merata. (Puj)






































