Sasmito petani di Sumberbulu Songgon Kabupaten Banyuwangi sedang mengolah tanah untuk ditanami pepaya. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Setiap orang Islam pasti ingin menyempurnakan Rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji. Rukun Islam adalah lima pilar dasar amalan lahiriah umat Muslim yang wajib dijalankan: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa Ramadan, dan Haji bagi yang mampu . Rukun-rukun ini menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim untuk mencapai ridho Allah SWT dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan iman

Dan dorongan sangat kuat untuk menuntaskan Rukun Islam yakni di daerah. Dimana banyak faktor yang menjadi sebab masyarakat menengah bawah di Indonesia masih menjadi mayoritas pendaftar haji. Namun, data spesifik tentang persentase pendaftar haji dari masyarakat menengah bawah tidak tersedia secara langsung.

Namun, kita dapat melihat beberapa indikator yang menunjukkan bahwa masyarakat menengah bawah masih memiliki minat besar untuk menunaikan ibadah haji. Jumlah jemaah haji Indonesia terus meningkat sejak pandemi berakhir. Kementerian Haji dan Umrah mengumumkan kuota haji nasional Indonesia untuk tahun 2026 sebanyak 221.000 jemaah. Dari jumlah tersebut, sekitar 203.320 jemaah merupakan haji reguler, sedangkan 17.680 jemaah termasuk haji khusus

Biaya haji yang relatif terjangkau dan program cicilan yang ditawarkan oleh pemerintah dan lembaga keuangan juga membuat haji lebih aksesibel bagi masyarakat menengah bawah. Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2026 adalah Rp87.409.366, dengan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) sebesar Rp54.193.806 (62%) dan Nilai Manfaat sebesar Rp33.215.559 (38%).

Haji Adalah Panggilan Allah
Haji memang merupakan panggilan dari Allah, dan tidak semua orang yang kaya atau mampu secara finansial dapat menunaikan ibadah haji. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak terlalu kaya tapi bisa menunaikan haji karena mereka telah mempersiapkan diri dan memiliki niat yang kuat.

Haji juga berkaitan erat dengan keimanan, kesabaran, dan ketulusan hati. Banyak orang yang telah menabung dan berkorban untuk dapat menunaikan haji, tapi tidak semua orang yang menabung bisa pergi. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak menabung tapi bisa pergi karena Allah memiliki rencana lain.

Jadi, haji bukan hanya tentang kemampuan finansial, tapi tentang keimanan dan kesabaran. Dan yang paling penting, haji harus dilakukan dengan niat yang ikhlas dan tulus, bukan hanya karena ingin menunjukkan status sosial atau kekayaan.

Seperti yang dilakukan Sasmito, petani asal Desa Sregi dan kini menetap di Sumberbulu Songgon Kabupaten Banyuwangi ini punya tekad kuat untuk menunaikan ibadah haji beserta istrinya. Tekad bulat tersebut diwujudkan dengan menyisihkan uang hasi panen aneka produk pertanian yang ditanam di pekarangan dan sawahnya.

“Sebetulnya sudah lama ingin daftar haji, bahkan saat masih untuk bisa mendapatkan nomor porsi haji sebesar Rp 20 juta. Namun waktu itu, keperluan untuk biaya pendidikan dua anaknya lebih penting, niat daftar haji dipendam terus dalam hati dengan tekad yang masih membara,” kata Sasmito menceritakan awal mula mendaftar haji.

Namun setelah satu anaknya sudah lulus kuliah di salah satu perguruan tinggi di Malang, Sasmito beserta istri berembuk untuk segera menuntaskan keinginan daftar haji. Namun keinginan tersebut tidak bisa langsung diwujudkan karena harus menunggu setiap panenan menyisihkan dana untuk ditabung.

“Seringkali uang hasil panen yang sudah disimpan, kepakai untuk kebutuhan dan menyiapkan keperluan tanam selanjutnya. Maklum sebagai petani yang diandalkan pastinya hasil panen. Belum lagi untuk keperluan harian, keperluan pendidikan anak bungsu, perlu beberapa tahun untuk bisa mengumpulkan dana sebesar Rp 50 juta untuk buat daftar haji berdua,” ujar Sasmito yang bisa menanam pepaya, lombok di pekarangan dan tanam padi dengan luas sawah yang tidak mencapai hektaran.

Sasmito mengakui sebagai petani perjuangan untuk menyisihkan dana untuk ditabung dari hasil panen tidak amudah perlu kesabaran dan tekad kuat. Mengingat usianya yang terus bertambah sementara daftar tunggu yang panjang tidak menyurutkan niatnya untuk tetap menyisihkan sebagian dari hasil panen.

“Plong ketika dana terkumpul Rp 50 juta dan datang ke bank juga ke kantor Kemenag untuk foto dan menyerahkan berkas tabungan haji dari bank. Soal kapan berangkat, kupasrahkan semaunya kepada Allah. Yang penting sudah daftar dan berharap sehat sampai saatnya dipanggil untuk berangkat Haji,” jelas Sasmito.

Sekitar awal tahun 2020 sebelum covid, saya minta bantuan ke teman di Surabaya melihat perkiraan berangkat dan hasilnya kisaran tahun 2028. Tapi saat covid sempat tidak berangkat dan ada pengurangan, bisa jadi jadwal yang awal mundur dan sampai saat ini masih belum tahu perkiraannya.

“Soal kapan berangkat, tidak dipikirkan. Saat ada pemberitahuan dari Kemenag, ya itulah saat terbaik dan waktunya. Selain menjaga kesehatan, juga menyiapkan dana untuk pelunasan haji kalau satu saat sudah datang waktunya. Maklum sebagai petani juga harus menyisakan hasil panenan untuk ditabung sedikit demi sedikit,” tegas Sasmito.

Ditanya apakah pernah melihat web BPKH dan aplikasi BPKH yang bisa melihat rincian hasil dana jamaah, Sasmito mengaku tidak tahu karena sebagai petani yang hidup di desa, tidak akrab dengan akses internet apalagi soal aplikasi. Namun Sasmito senang mendengar kalau biaya haji tahun 2026 turun, harapannya bisa terus turun dengan layanan yang terus meningkat.

“Meski belum tahu kapan pastinya dengan nomor porsi 1300882xxx, sudah harus menyiapkan dana untuk pelunasan. Sebagian langsung ditabung di tabungan haji, sebagian dibentukkan emas sehingga tetap mudah untuk dijual kalau pas diperlukan.” Pungkas Sasmito.

Perketat Uang Simpanan Demi Bisa Daftar Haji
Profesi apapaun asal bisa rutin dan ketat dalam mengelola pendapatan bisa juga terkumpul dan daftar haji. Itulah yang dilakukan Kodim, guru honorer yang juga jadi petani dan jadi terapis alternatif pijat di Desa Sukoreno, Umbulsari Kabupaten Jember.

“Saya daftar haji beserta istri sekitar awal tahun 2014. Selain dari hasil pertanian juga hasil dari pemasukan harian dari profesi sebagai terapis alaternatif pijat. Semua harusnya bisa asal konsisten dan tekad kuat. Kuncinya pada pengelolaan uang yang ada untuk disimpan, ditabung dan akhirnya didaftarkan haji.” Kata Kodim.

Untuk mengumpulkan dana Rp 50 juta dan bisa daftar haji kata Kodim perlu waktu lama karena kebutuhan lain yang juga tidak kalah pentingnya. Namun berbekal tekad kuata, setiap hasil dari panen, gaji guru honorer dan terapis pijat disisihkan agar bisa terkumpul.

“Belum pernah chek lagi kapan pastinya berangkat, namun sudah disiapkan untuk dana pelunasan kalau sewaktu waktu mendapatkan pemberitahuan untuk berangkat haji. Tidak berbeda dengan saat mendaftar, sudah beberapa tahun lalu dana untuk pelunasan sudah disiapkan meski belum tahu butuhnya berapa. Paling tidak sudah nyiapkan dua kalinya pelunasan karena kebutuhan syukuran haji di daerah juga besar. “

Di daerah semangat untuk daftar haji sangat kuat. Masih banyak profesi lain yang tidak disangka secara logika tidak bisa ternyata rela menyisihkan uang dengan rela memangkas keinginan dan kebutuhan lain demi bisa mengumpulkan dana untuk daftar haji. Sebut saja tukang becak, nelayan, penjual cilok, pedagang kaki lima, pedagang sayur keliling dan profesi lain.

Menurut analisa penulis yang juga berasal dari Desa di Kabupaten Jember, ada beberapa alasan mengapa petani dan masyarakat menengah bawah banyak yang mendaftar haji.

Kebutuhan spiritual : Bagi banyak orang, haji merupakan salah satu kebutuhan spiritual yang sangat penting. Mereka ingin menunaikan ibadah haji sebagai bagian dari kewajiban agama dan untuk meningkatkan keimanan.

Investasi akhirat: Bagi banyak orang, haji dianggap sebagai investasi akhirat yang dapat membawa pahala dan keselamatan di akhirat.

Prestise sosial: Haji masih dianggap sebagai salah satu simbol status sosial yang tinggi di masyarakat. Banyak orang yang mendaftar haji karena ingin meningkatkan status sosial mereka.

Kemudahan akses: Proses pendaftaran haji telah menjadi lebih mudah dan transparan, sehingga masyarakat menengah bawah dapat lebih mudah mendaftar.

Biaya relatif terjangkau: Biaya haji telah menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat menengah bawah, terutama dengan adanya program cicilan dan kredit yang ditawarkan oleh pemerintah dan lembaga keuangan.

Pengaruh budaya: Di beberapa daerah, haji dianggap sebagai salah satu tradisi yang harus dilakukan oleh setiap keluarga, sehingga banyak orang yang mendaftar haji karena pengaruh budaya dan keluarga.

Namun demikian, perlu diingat bahwa haji harus dilakukan dengan niat yang ikhlas dan kemampuan yang memadai, bukan hanya karena tekanan sosial atau ingin meningkatkan status sosial. Imm

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry