Ilustrasi seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. (fT/lembangnews.com)

JAKARTA | duta.co – Program Quick Win Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Nasional (BKKBN) melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) resmi digulirkan sebagai bentuk penguatan peran keluarga dalam membangun generasi emas Indonesia.

Salah satu bagian dari program ini adalah “Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah” yang bertujuan mendorong peran aktif ayah dalam pengasuhan anak.

Namun, program ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan publik, terutama dari warganet di media sosial yang menyoroti kondisi anak-anak yang tidak memiliki sosok ayah, baik karena perceraian maupun telah meninggal dunia.

Menanggapi hal ini, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa esensi program ini bukan semata kehadiran fisik seorang ayah, melainkan kehadiran sosok yang bisa memberikan dukungan psikologis dan afeksi dalam kehidupan anak.

“Saya mulai kemarin sampai tadi pagi masih melihat komentar-komentar di berbagai media sosial. Salah satunya ada pertanyaan: ‘Pak, bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya ayah, apakah itu tidak menyakiti hati mereka?’ Maka jawabannya, ini bukan soal fisik, tapi soal kehadiran sosok ayah secara psikologis,” ujar Wihaji saat ditemui usai kegiatan di Jakarta, Kamis (17/7/2025).

Menurutnya, data nasional mencatat sebanyak 20,9 persen anak-anak di Indonesia mengalami fatherlessness atau kehilangan sosok ayah dalam keseharian mereka. Karena itu, siapapun bisa mengambil peran sebagai figur ayah dalam mendampingi dan membentuk karakter anak.

“Kalau tidak punya ayah, maka yang mengambil peran adalah kepala rumah tangga perempuan. Maka terima kasih kepada para ibu yang juga menjadi sosok ayah bagi anak-anaknya. Mereka yang mengantar anak ke sekolah, berjalan kaki, naik sepeda, motoritu bukan hal kecil. Itu sentuhan psikologis yang akan diingat anak seumur hidup,” paparnya.

Program GATI menjadi salah satu langkah nyata dari Quick Win BKKBN untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia unggul. Selain kegiatan mengantar anak, program ini juga mencakup edukasi pengasuhan positif, komunikasi antara orang tua dan anak, serta peran ayah dalam mencegah kekerasan dalam rumah tangga.

“Terima kasih untuk seluruh ayah di Indonesia, dan juga para ibu hebat yang menggantikan peran ayah. Semoga anak-anak kita menjadi generasi emas, menuju masa depan Indonesia yang lebih baik,” tutup Wihaji. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry