
CATATAN PERADABAN

Dr. Romadlon Sukardi, MM*
Di tengah zaman yang ditandai oleh perubahan cepat, kompetisi yang semakin tajam, polarisasi sosial, serta kompleksitas persoalan umat dan bangsa, dunia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat dalam mengambil keputusan, tetapi juga pemimpin yang mampu menghadirkan ketenangan, kesejukan, dan harapan. Kepemimpinan Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A., Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, menarik untuk dibaca dalam perspektif tersebut: teduh dalam sikap, lembut dalam komunikasi, teguh dalam prinsip, adaptif membaca zaman, dan transformatif dalam gerak. Penghargaan The Religious Leadership, Education, and Social Harmony Award pada Radar Jember Award 2026 bukan semata-mata penghormatan terhadap capaian personal, melainkan dapat dimaknai sebagai apresiasi terhadap sebuah model religious leadership yang mampu mempertemukan tradisi dan modernitas, ilmu dan pengabdian, ulama dan umara, pesantren dan dunia global, serta nilai-nilai keislaman dan agenda kemanusiaan.
Di sinilah kepemimpinan menemukan maknanya yang paling tinggi: bukan sekadar tentang siapa yang berada di depan, tetapi tentang seberapa luas keteduhan yang diciptakan, seberapa kuat persaudaraan yang dirawat, seberapa nyata perubahan yang dihasilkan, dan seberapa panjang kemanfaatan yang diwariskan bagi generasi mendatang.
Penghargaan tersebut menjadi semakin bermakna karena Prof. Halim dikenal mengedepankan komunikasi harmonis, dialog, moderasi, dan kerukunan umat.
Yang menarik, kepemimpinan Prof. Halim tidak dibangun melalui suara yang keras, tetapi melalui keteladanan yang kuat. Ketegasan tidak harus hadir dalam kemarahan; keberanian tidak harus ditampilkan dengan kegaduhan; dan perubahan tidak selalu lahir dari konfrontasi. Kadang, perubahan justru tumbuh dari ketenangan yang memiliki arah, kelembutan yang memiliki prinsip, dan keteladanan yang memiliki daya transformasi.
Penghargaan The Religious Leadership, Education, and Social Harmony Award dalam ajang Radar Jember Award 2026 yang diterima Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A., Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, bukan sekadar penghargaan personal. Lebih dari itu, apresiasi tersebut dapat dibaca sebagai pengakuan publik terhadap model kepemimpinan keulamaan yang teduh, lemah lembut, tenang, tetapi sekaligus transformatif, inovatif, kreatif, progresif, adaptif, dan berkelanjutan. MUI Jatim menyebut penghargaan itu diberikan atas konsistensi Prof. Halim dalam merawat persaudaraan umat, memupuk moderasi beragama, serta membangun komunikasi harmonis antara ulama, umara, dan masyarakat. Berita MUI Jatim tentang penghargaan Prof. Halim Soebahar
Yang menarik, kepemimpinan Prof. Halim tidak dibangun melalui suara yang keras, tetapi melalui keteladanan yang kuat.
Tidak selalu tampil dengan retorika yang meledak-ledak, tetapi menghadirkan ketenangan yang mampu meredakan ketegangan; tidak kehilangan ketegasan, tetapi menyampaikannya dengan kelembutan; tidak terjebak pada romantisme tradisi, tetapi juga tidak memutus akar tradisi.
Inilah karakter kepemimpinan yang dalam perspektif peradaban dapat disebut sebagai “kepemimpinan teduh yang menggerakkan perubahan”— soft in manner, firm in principle, transformative in impact. Kepemimpinan semacam ini sangat relevan bagi MUI sebagai rumah besar para ulama yang harus mampu menjadi penyejuk umat sekaligus pemberi arah bagi masyarakat dan bangsa.
Dimensi transformatif tampak ketika nilai-nilai keulamaan tidak berhenti pada nasihat, tetapi diterjemahkan menjadi perubahan kelembagaan dan sosial. Dimensi inovatif dan kreatif terlihat dalam upaya mempertemukan khazanah keislaman dengan kebutuhan pendidikan modern. Sedangkan karakter progresif dan adaptif tercermin dalam keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, jejaring akademik, serta kerja sama lintas institusi.
Bahkan, kiprah pendidikan Prof. Halim menunjukkan bagaimana pesantren dapat menjaga tradisi keilmuan klasik sekaligus membuka ruang bagi pendidikan formal dan kolaborasi internasional. Dengan demikian, modernisasi tidak ditempatkan sebagai lawan tradisi, melainkan sebagai instrumen untuk membuat tradisi mampu menjawab tantangan zaman.
Di sinilah letak pentingnya gagasan Wasathiyah Islamiyah. Kepemimpinan yang teduh bukan berarti pasif; moderasi bukan berarti kehilangan keberanian; kelembutan bukan berarti kelemahan. Justru kepemimpinan wasathiyah adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan keluwesan strategi, antara tradisi dan inovasi, antara idealisme dan realitas, antara kepentingan umat dan kepentingan kebangsaan. Dalam konteks MUI Jawa Timur, paradigma tersebut dapat menjadi energi besar untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah, sekaligus memperkokoh posisi ulama sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat dan bangsa.
Karena itu, penghargaan kepada Prof. Halim sepatutnya tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi momentum pelembagaan nilai kepemimpinan. MUI Jatim dapat terus mengembangkan model collaborative leadership yang mempertemukan ulama, umara, akademisi, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, dunia usaha, media, pesantren, dan masyarakat sipil dalam satu ekosistem kemaslahatan. Kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, tetapi dari seberapa luas manfaat, perubahan, persatuan, dan keberlanjutan yang berhasil diwujudkan.
Pada akhirnya, Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar menghadirkan sebuah pelajaran penting bahwa pemimpin besar tidak selalu harus berada di tengah gemuruh. Ada pemimpin yang bekerja melalui ketenangan, membangun melalui kelembutan, menyatukan melalui dialog, dan mengubah keadaan melalui gagasan serta keteladanan. Dari kepemimpinan seperti inilah lahir sebuah catatan peradaban: teduh dalam sikap, kuat dalam prinsip, cerdas membaca zaman, berani melakukan perubahan, dan konsisten meninggalkan kemanfaatan yang berkelanjutan. Itulah wajah kepemimpinan ulama yang dibutuhkan umat dan bangsa di masa depan—kepemimpinan yang tidak sekadar memimpin zaman, tetapi ikut menyiapkan peradaban.(*)





































