Teaching Factory di SMKN 1 Malang yang dipermak oleh Alfamidi. DUTA/istimewa

MALANG | duta.co – Teaching Factory yang ada di SMKN 1 Malang kini lebih modern.  Hal itu setelah PT Midi Utama Indonesia Tbk atau Alfamidi melakukan perombakan. Program pendidikan ritel di SMKN 1 Malang itu memang bukanlah hal baru.

Program ini sudah berjalan sejak 2017 lalu bersama PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, perusahaan pengelola ritel Alfamart.

Seiring tuntutan pasar, program ini pun terus dikembangkan dan kali ini dengan menggandeng Alfamidi.

Alfamidi dalam rilisnya kepada Duta, Kamis (21/2) menyebutkan, pihaknya melakukan up date kurikulum ritel maupun teaching factory SMKN 1 ini adalah karena bisnis ritel terus berkembang.

Hal itu pun direspon positif oleh terang Retno Utami, selaku Kepala Sekolah SMKN 1 Malang.

“Kalau dulu ada Alfamart dengan konsep minimarket sekarang ada pula Alfamidi yang masih saudaranya dengan konsep yang lebih luas dan lebih lengkap lagi,” terang Retno Utami.

Salah satu perubahan yang paling menonjol dalam kurikulum ritel SMKN 1 Malang yang dilakukan dengan Alfamidi adalah adanya teori tentang bagaimana mengatur dan memajang barang dagangan yang bersifat segar seperti buah dan sayur (fresh food).

Bahkan, dalam Teaching Factory yang ke 21 di Indonesia itu, juga sebagai laboratorium ritel SMKN 1 Malang ini pun bakal dilengkapi dengan buah dan sayur atau bahan makanan segar.

“Ya, ini agar in-line dengan teori ritel yang diajarkan di kelas karena mengatur alur bahan makanan segar baik buah maupun sayur tidak semudah barang kemasan lain. Jadi mesti hati-hati dan beda perlakuannya,” terang Budi Santoso, Kepala Cabang Alfamidi Jawa Timur.

Program kurikulum ritel merupakan program sosial perusahaan Grup Alfa baik Alfamart maupun Alfamidi yang concern di bidang pendidikan dan kewirausahaan.

Di Alfamidi sendiri, program yang dinamakan Alfamidi Class ini baru berjalan 2 tahun. Kurikulum ritel ini hanya dikhususkan bagi siswa jurusan pemasaran.

Tujuan program ini adalah untuk menyiapkan tenaga kerja siap pakai di bisnis ritel maupun daring serta membekali siswa dengan ilmu dasar kewirausahaan.

“Kalau ada siswa lulusan kurikulum ritel ini ingin langsung bekerja, Alfamidi siap menerima tanpa test dengan grading (level) satu tingkat dibanding pelamar umum. Namun jika ingin berusaha sendiri, para siswa minimal sudah dibekali ilmu cara berdagang,” papar Budi.

Budi berharap, para siswa-siswi yang mengambil program ritel dapat memanfaatkan dengan baik kesempatan tersebut untuk menimba ilmu ritel sebanyak-banyaknya.

“Saat ini pemerintah tengah gencar mencanangkan program pendidikan vokasi dimana lulusan SMK diharapkan telah memiliki atau menguasai keahlian tertentu. Nah, kerja sama dengan Alfamart dan Alfamidi ini merupakan salah satu bentuk dari pendidikan vokasi,” terang Retno. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.