Muhammad Syaikhon – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

BARANG SIAPA bertakwa kepada Allah, niscaya  Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Tholaq: 2-3)

Jalan menuju kesuksesan adalah dengan cara tawakkal. Tawakkal sangat ditekankan di dalam Islam. Kata “tawakkal” disebut di dalam Alquran tidak kurang dari 30 kali yang tersebar di dalam 19 surah yang berbeda. Tawakal merupakan karakter orang yang beriman sebagaimana firman Allah: “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23).

Tawakkal menurut Imam Al-Ghozali merupakan salah satu pokok agama. Ibnu Qayyim menyatakan bahwa tawakkal adalah setengah agama dan setengah lainnya adalah kembali kepada Allah sebagaimana firman Allah SWT: “Hanya kepada Allah saja aku bertawakkal dan hanya kepada-nya lah aku kembali (QS. Hud: 88)”.

Ibnu ‘Abbas ra. mengatakan bahwa tawakkal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah SWT. Sedangkan Imam Ibnu Rajab berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”.

Menurut Imam Ahmad bin Hambal, tawakkal merupakan perbuatan hati. Artinya, tawakkal bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Juga bukan merupakan sebuah wacana atau sekedar pengetahuan belaka. Tetapi tawakkal merupakan perbuatan hati sehingga tidak bisa diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti berdiam diri tanpa melakukan suatu ikhtiar lahiriyah.

Tawakal Bukan Berarti Meniadakan Ikhtiar

Sikap pasrah yang ditunjukkan dengan  tidak adanya ikhtiar  tidak bisa disebut sebagai tawakkal. Rasulullah SAW telah memberikan gambaran tentang tawakkal sebagaimana beliau sabdakan dalam sebuah  hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban: “Ikatlah untamu dan bertawakkallah.”

Kalau kita perhatikan hadis di atas, maka jelas bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar seseorang berusaha atau berikhtiar terlebih dahulu baru kemudian bertawakkal. Artinya, manusia tidak boleh berdiam diri, berpangku tangan, berenak-enakan, atau bermalas-malasan, sementara urusannya diserahkan begitu saja kepada Allah SWT.

Tetapi kalau hadis di atas kita hubungankan dengan surah Ali Imran ayat 159, yang artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” Maka, kita akan mengetahui bahwa ketika kita baru  sampai  pada tahapan niat saja untuk mencapai sesuatu, atau krentek dalam bahasa Jawa, pada tahapan itu pun kita sudah harus melakukan tawakkal kepada Allah SWT. Dengan kata lain, tawakkal harus kita lakukan baik sebelum maupun sesudah kita berusaha untuk mencapai maksud tertentu.

Adapun perbuatan atau usaha manusia itu terdiri dari 3 (tiga) tahap, yakni: (1) tahap niat, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap hasil. Berdasar pada surah Ali Imran ayat 159 dan hadis Rasulullah SAW di atas, maka tawakkal harus kita lakukan pada akhir setiap tahap. Artinya, kita harus bertawakal kepada Allah SWT dalam keseluruhan tahap perbuatan manusia.

Adapun keutamaan tawakkal adalah Pertama, mendapatkan perlindungan, pertolongan dan bahkan anugerah dari Allah SWT.  “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”( QS. Al-Anfal: 49).

Kedua, mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat, “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”( QS. an-Nahl: 41-42).

Ketiga, hidupnya akan dicukupi oleh Allah SWT, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. At-Thlaaq: 3). Keempat, dicintai oleh Allah, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron: 159).

Kelima, sebagai kunci rizki,“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim). Demikian semoga bermanfaat. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry