Oleh Imam Shamsi Ali*

NEW YORK | duta.co – Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa mempersiapkan generasi (preparing generation) bukan dengan magic. Tidak dalam sebuah kedipan mata. Bukan dadakan dan bukan pula tanpa rencana dan kesungguhan.
Keseriusan para nabi dan rasul untuk mempersiapkan generasi masa depan itulah yang menjadikan mereka, tidak saja meminta kehadiran anak cucu. Tapi yang terpenting adalah agar anak cucu yang dikaruniakan di kemudian hari adalah anak cucu yang saleh dan salehah (Shalihuun was sholihaat), anak cucuk yang baik (dzurriyah thoyyibah).
Kepedulian seperti itu yang ada di pada nabi Ibrahim AS ketika meminta agar generasi Mekah, cucu-cucunya dari keturunan anak pertamanya Ismail AS diutuskan kepada mereka seorang rasul yang akan meyakinkan keimanan mereka.
Doa Ibrahim AS itu diabadikan dalam Al-Quran: “Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah (sunnahku)”.
Kita juga diingatkan tentang nabi Zakariyah AS yang ketika secara akal manusia tidak Mungkin lagi memiliki anak keturunan karena umurnya yang uzur dan isterinya yang mandul (aaqir). Tapi dorongan untuk punya anak demi kelanjutan misi dakwahnya beliau (AS) siang malam menengadahkan tangannya kepada Penciptanya.
“Wahai Tuhanku, berikanlah padaku dari sisiMu seorang anak yang baik (dzurriyah thoyyibah)”.
Artinya di tengah keinginan yang sangat dalam untuk memiliki keturunan tidak menjadikan Ishak AS panik dan lupa bahwa anak yang diminta bukan sekedar anak lahiriyah. Tapi juga anak spiritulitas. Anak yang memilki iman dan Islam serta komitmen dakwah di jalan Allah.
Doa beliau itulah yang dikabulkan dalam wujud seorang anak yang bukan sekedar saleh. Tapi juga seorang nabi yang luar biasa bernama Yahya. Sebuah nama yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya.
Maka setelah menemukan lahan yang subur, sehat, dan baik untuk tumbuhnya generasi manusia masa depan, langkah selanjutnya adalah seperti pada bagian kedua di bawah.
Kedua, menanamkan nilai-nilai Robbani (ketuhanan) dari awal.
Pendidikan dalam Islam itu bukan sekedar transfer informasi (ilmu). Tapi mencakup semua aspek dasar hidup manusia. Yaitu fisik, akal dan ruh.
Tap dari ketiga aspek itu, yang dibahas pada bagian-bagian selanjutnya, aspek ruh menjadi sangat mendasar. Esensi kemanusiaan manusia adalah pada ruhnya. Ruhlah yang menjadikan manusia sebagai makhluk khusus. “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam ciptaan yang terbaik” (ahsana taqwiim).
Aspek ruhiyah ini tidak akan terpisahkan dari tiupan ruh kesucian Ilahi (nafakha fiihi min ruuhinaa) yang terpatri dalam tabiat dasar manusia yang disebut “fitrah” (kesucian dasar) manusia.
Dari sinilah perlu disadari bahwa pendidikan dalam Islam bukan memulai dari sesuatu yang tidak ada. Tapi sejatinya menjaga dan menumbuh suburkan apa yang sudah ada pada anak. Yaitu fitrah manusia itu sendiri.
Karenanya pendidikan yang dalam Arabnya disebut “tarbiyah” berasal dari kata “rabaa-yarbuu-ribaa” (tumbuh, berkembang atau subur). Persis ketika modal dikembangkan menjadi lebih dengan persentasi tertentu yang kemudian dikenal dengan isitlah “riba”.
Fitrah inilah yang menjadi modal utama kehidupan manusia. Fitrah ini bukan sesuatu yang baru di saat dimulai pendidikannya. Tapi sesuatu yang secara inheren (mendasar) menjadi bagian dari hidupnya sejak awal. Semua terlahir dalam keadaan fitrah.
Orang tuanyalah yang kemudian gagal menjaga dan menyuburkan fitrah itu, sehingga anak menjadi orang yang tidak sejalan dengan fitrah atau saya menyebutnya identitas dasarnya. Dia menjadi manusia yang memiliki jalan hidup yang lain.
Oleh karena fondasi sekaligus identitas sejati manusia adalah fitrahnya, dan fitrah manusia terwujud dengan “tiupan ruh ilahiyah”, sudah pasti pula sentuhan pertama dari proses pendidikan adalah sentuhan Robbani (nilai-nilai ketuhanan).
Bagaimana realisasi nilai-nilai Robbani dalam pendidikan? Semua ada pada “Allah” sebagai pusaran semua pergerakan rumah tangga. Dari motif awal menikah (niat), proses pernikahan (sesuai aturan syariahnya), hingga kepada hal yang paling privat sekalipun semuanya punya koneksi keilahian (kesucian).
Ambillah contoh kongkrit satu hal. Ketika sepasang suami isteri melakukan hubungan (jima’) dan lupa koneksi uluhiyah (niat dan baca doa) maka menurut informasi Rasulullah SAW, sejak itu syetan telah mengambil bahagian dalam prosesnya. Jika hubungan itu ditakdirkan sebagai jalan bagi pasangan itu untuk mendapatkan anak, maka sejak awal syetan sudah punya porsi dalam mempenharuhi hidupnya.
Intinya adalah bahwa untuk meyakinkan persiapan generasi yang solid, tidak saja secara fisik dan akal, tapi tidak kalah pentingnya solid dalam aspek spiritualitasnya, perlu perhatian serius dalam menjaga dan menyuburkan fitrah manusia. Dan fitrah manusia sejatinya memerlukan sentuhan-sentuhan Robbani sejak langkah awal perjalanan hidupnya.
Sentuhan-sentuhan Robbani ini menentukan perjalanan hidup sang anak. Cara pandang (aqliyah) anak, prilaku karakter anak, dan semua hal yang terkait dengan hidupnya akan diwarnai oleh kesuburan atau kegersangan fitrahnya.
Itulah barangkali gambaran sederhana Rasulullah SAW ketikan mensabdakan: “Sesungguhnya pada setiap tumbuh itu ada segumpal darah, yang jika baik akan baik semua anggota tubuhnya. Tapi jika rusak akan rusak semua anggota tubuhnya. Itulah hati”.
Sehat sakitnya hati manusia ditentukan bagaimana seseorang itu menjaga fitrahnya. Sekali lagi menjaganya dengan sentuhan-sentuhan ilahiyah. Dan sungguh Islam dalam perangkapnya lengkap untuk itu. Dari hubungan suami isteri, di saat kehamilan, di saat melahirkan (adzan), aqiqah, sunat, dan seterusnya. Semuanya menjadi bagian dari sentuhan keilahian demi menjaga dan menyuburkan fitrah manusia.
Ketiga, perencanaan yang matang dan menyeluruh. (Bersambung)
* Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation New York AS.

 

“Saudaraku, kami terus mengajak semuanya untuk menjadi bagian dalam perjalanan dakwah di Amerika melalui pembangunan pondok pesantren pertama Amerika. Untuk donasi dapat dilakukan melalui (klik support): www.nusantaraboardingschool.com
Atau
Rekening Indonesia:
Rek rupiah : 1240000018185
An. inka nusantara madani
Bank Mandiri
Jazakumullah khaer!’

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.