Pemberian penghargaan kepada para mitra dan karyawan PT DLU di Isyana Ballroom Hotel Bumi Surabaya, Jumat (8/3) malam. DUTA/endang

SURABAYA | duta.co– Tarif angkutan pelayaran sampai sekarang masih banyak dikeluhkan pengusaha  yang bergerak di bidang ini.

Karena dibandingkan di luar negeri, tarif di Indonesia masih jauh sangat murah. DI luar negeri tarif sudah mencapai Rp 2.500 per mil sementara di Indonesia masih Rp 700 per mil. Padahal biaya yang dikeluarkan dalam dan luar negeri sama saja.

Pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mengaku dengan tarif yang sekarang ini, perusahaan hanya mampu untuk bertahan.

Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP)Gapasdap, Khoiri Soetomo mengatakan tarif ini salah satu mekanisme supaya keselamatan pelayaran terjamin. Karena salah satu indikator keselamatan pelayaran adalah iklim usaha yang kondusif.

“Tarif yang memadai dan sesuai sangat mendukung iklim usaha yang koondusif itu,” ujar Khori di sela acara pemberian penghargaan pada mitra kerja PT Dharma Lautan Utama (DLU) Jumat (8/3) malam.

Saat ini kata Khori pengusaha hanya mampu bertahan di tengah kondisi usaha yang tidak kondusif ini. Apalagi saat ini usaha angkutan pelayaran ini sudah terlalu banyak.

“Kita sudah over supply. Satu kapal hanya bisa beroperasi 10 hingga 12 hari dalam satu bulan. Ini berat, sangat berat,” tukasnya.

Karena itu moratorium perizinan usaha pelayaran yang sudah lama diajukan Gapasdap ini agar segera dijalankan. Karena moratorium perizinan ini sudah lama diajukan sebenarnya sudah disetujui pemerintah, namun kenyataannya sampai saat ini izin masih saja dikeluarkan.

“Jangan sampai ditambah terus karena ini sudah tidak seimbang dengan keberadaan dermaga dan jumlah permintaan. Contoh saja ya, di Merak – Bakauheni satu hari hanya 34 kapal yang bisa beroperasi tapi izinnya sudah mencapai 72 kapal,” tandas Khoiri.

Karena itu, sampai saat ini PT Dharma Lautan Utama (DLU) selaku pelaku usaha ini tidak akan menambah jumlah kapal yang dimilikinya. “Kalau masih seperti ini tidak akan menambah jumlah kapal,” tandas Direktur Utama PT DLU, Erwin H. Poejono.

Walau kondisi yang agak ‘seret’ ini, PT DLU mencoba mengapresiasi para mitra dan karyawannya agar bisa ikut ambil bagian dalam menciptakan kondusivitas dalam bidang transportasi ini.

Owner PT DLU yang juga anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo mengungkapkan pemberian penghargaan ini sangat penting. Apalagi adanya penghargaan bagi para karyawan yang memiliki kedisiplinan dan loyalitas kerja.

“Karena karyawan yang disiplin menjadi tonggak keselamatan dalam pelayaran. Karena karyawan inilah yang berada di atas kapal, mereka yang mengetahui pertama kali ketika terjadi masalah di atas kapal dan juga yang mengatasi masalah itu. Tidak ada salahnya kalau kita mengapresiasinya,” tukas Bambang. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.