Puspandam Katias – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

SEJARAH konsep Industri 4.0 sebagai revolusi industri keempat dikenalkan pada tahun 2011 di Jerman, dimana objek fisik, manusia, mesin yang cerdas, aliran produksi serta proses bisnis terintegrasi melintasi batas organisasi.

 Ini berbeda dengan masa revolusi industri sebelumnya, dimulai dari penemuan mesin uap pada abad ke-18 untuk mencapai peningkatan produktivitas yang tinggi.

Kemudian pada tahun 1900-an dimulai revolusi industri 2.0 dengan ditemukannya tenaga listrik, dengan semakin efisien teknologi lini produksi, agrobisnis dan pertambangan.

Masuk era revolusi industri ketiga atau 3.0, pada tahun 1970 atau 1990-an, dimana otomatisasi mesin dan peralatan dilakukan dalam industri. Selanjutnya pada tahap revolusi industri keempat atau 4.0, dengan cepat, perubahan efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas, dimana koneksi mesin, sistem, dan bisnis menciptakan jaringan cerdas di seluruh rantai nilai yang dapat saling mengontrol secara mandiri.

Ledakan kemajuan teknologi yang terkait dengan revolusi industri keempat termasuk robotika canggih, augmented dan virtual reality, Internet of Things, konektivitas dan pelacakan digital, Big Data dan pencetakan 3D.

Di antara sejumlah perkembangan lainnya, telah mengarah pada situasi di mana teknologi semakin melampaui kemampuan individu dan organisasi untuk beradaptasi. Dititik inilah daya kompetitif bisnis menjadi kritikal dan peran pengelola bisnis menjadi sangat penting untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang tepat dan strategis.

Contoh bisnis transportasi, seperti taxi konvensional kalah bersaing dengan taxi online merupakan contoh mudah yang bisa kita pahami dalam menggambarkan bisnis yang kolaps karena gagal mengantisipasi dan bertransformasi dengan perubahan lingkungan.

Sumber daya utama dalam organisasi bisnis adalah aset manusia, dimana pemimpin atau manajer dituntut mampu menyelesaikan masalah dengan solusi yang tepat dengan pola pikir membuat proses bisnis menjadi lebih efisien dan optimal.

Fenomena masa-kini adalah meningkatnya orang-orang dalam organisasi dengan proporsi generasi Z atau generasi milenial yang identik dengan dunia digital, sehingga antisipasi tahun 2030 akan menjadi momentum penting dimana bonus demografi akan terjadi, karena digital native atau generasi milenial akan menjadi variabel penting dalam proses bisnis.

Apa yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin? Kunjungan saya di kantor pusat Google Asia-Pasific, menemukan dan merasakan bagaimana kantor tanpa mesin absensi dan Lary Page (pendiri Google) mendesain setiap kantor Google layaknya seperti taman bermain bagi karyawannya.

Kantor lengkap dengan cafetaria gratis disetiap lantai, ini sejalan dengan Kolind dan Botter dalam bukunya Unboss, pola pikir pemimpin bisnis konvensional yang hanya berorientasi uang dan kekuasaan, sudah tidak relevan lagi, dan bisnis ini akan merugi dimasa depan.

Daya saing didapat dari format organisasi pembelajaran; suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembejaran mandiri sehingga organisasi tersebut memiliki kecepatan berpikir dan bertindak dalam merespon beragam perubahan yang dihadapinya.

Proses ini tentunya bukan menjalankan bisnis seperti sekarang atau dahulu, juga meminimalkan birokrasi organisasi yang rumit dan kaku, pemahaman bos vs karyawan diganti dengan hubungan yang setara, lokasi kerja tidak lagi terpatok oleh lingkup geografis, bisnis dikelola oleh leader (pemimpin), bukan bos, serta mendasarkan pada nilai, bukan power (kekuasaan).

Kolind dan Botter selanjutnya memberi pemahaman bahwa pemimpin bisnis dalam mengantisipasi era revolusi industri 4.0 agar organisasi bisnisnya dapat bersaing dapat mengelola.

Pertama, aset sumber daya manusia masa depan itu ingin diperlakukan sebagai individu dengan nilai dan sasaran mereka sendiri dengan memperhatikan kesejahteraan dan perkembangan diri sesuai pilihannya dimasa depan, bukan disamakan sekedar seperti faktor produksi.

Kedua, karyawan masa depan lebih banyak menjalankan pekerjaan berbasis pengetahuan dan mengerjakan lebih sedikit tugas rutin atau adminstratif.

Ketiga, organisasi bisnis masa depan akan berhasil jika selalu memperbarui atau menyesuaikan diri dengan daya inovasi dan perubahan (change management).

Keempat perusahaan masa depan akan berhasil jika memadukan berbagai teknologi dan pengetahuan dari ranah-ranah yang berbeda; terakhir, perusahaan masa depan akan berhasil jika mereka berkolaborasi dengan organisasi lain. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.