JOMBANG | duta.co – KH Ainul Yaqin, pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ), Jogoroto, Jombang, Jawa Timur mewanti-wanti santrinya, agar tidak mengikuti jalannya. Karena zaman sekarang, berbeda jauh dengan masa lalu.

“Dulu, saya menganggap pelajaran bahasa Inggris itu, haram. Bahasanya orang kafir. Bahasanya ahli neraka. Sekarang sangat diperlukan untuk dakwah. Santri jangan kuper, harus menguasai Bahasa Arab dan Inggris,” jelasnya dalam acara penyerahan ijazah kepada 23 santri yang naik ke jenjang Ulya, Senin, (31/8/2020) di PPHQ Raoudhotusshofiyah cabang Kemirigalih, Jogoroto, Jombang.

Agar santri menguasai Arab dan Inggris, maka, PPHQ melakukan kerjasama dengan pendiri Kampung Inggris, Pare, Kediri. Konsep pengembangan bahasa Arab dan Inggris ini, kemudian diterapkan santri di tengah menghafal Alquran.

Mbah Yaqin saat menyerahkan ijazah kepada santri. (FT/ist)

“Ini juga belum cukup, anak-anakku. Seluruh santri harus menguasa baca kitab kuning. Tantangan dakwah di masyarakat semakin jamak. Maka, selain hafal Alquran harus jago baca kitab, lancar bahasa Arab dan Inggris,” tegas Mbah Yaqin panggilan akrabnya, sambil menegaskan bahwa PPHQ menekankan hamilil quran, lafdhon, wa ma’nan, wa amalan.

Ribuan Santri Menyebar ke Penjuru Negeri

Pondok Pesantren Hamalatul Quran memang telah ‘melepas’ ribuan santri terbaiknya. Pesantren Alquran ini, bertekad untuk melanjutkan ide Hadratus syaikh KH Hasyim Asyari dan KH Muhammad Yusuf  Masyhar dengan misi mencetak pribadi muslim, insan kamil, hamilil quran lafdhon wa ma’nan wa amalan.

Diakui Mbah Yaqin, awalnya, memang sempat pesimis, bahwa, ia bisa meneruskan ide Mbah Hasyim dan KH Muhammad Yusuf  Masyhar ini. “Saat itu, ada dua hal yang tampak mustahil dalam pikiran manusia. Dalam istilah Jawa ‘koyok kodok mancik rembulan’ (seperti katak menginjak bulan). Tetapi, dengan semangat baja, berusaha keras, maka, yang mustahil itu menjadi kenyataan,” demikian disampaikan di depan ratusan santri.

Kiai yang selalu tampil sederhana, ini berhasil membawa PPHQ menempati posisi strategis dalam pengembangan Tahfidzul Quran.  Kini hampir 2000 santri dari penjuru nusantara, tumplek blek di Jogoroto. Tetapi, baginya, bukan jumlah santri yang diandalkan, melainkan kualitas bacaan serta pengamalannya.

Dari kiiri, Kang Biri, Ustad Taufiqur Rohman, Mokhammad Kaiyis saat menyerahkan ijazah. (FT/ist)

“Pesantren ini memperkuat qiroah muwahhadah, sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca dan melagukan alquran ala Kiai Muhammad Yusuf Masyhar dari Madrastul Quran Tebuireng. Di samping itu, pembekalan kemampuan komunikasi verbal berbahasa internasional, Arab dan Inggris sesuai dengan kebutuhan era modern,” jelasnya.

Hebatnya lagi, PPHQ juga dikenal sebagai pesantren penghafal alquran tercepat. Rata-rata hanya butuh waktu bulanan, kurang dari setahun. Tidak heran, kalau kemudian pesantren ini menjadi jujugan putra-putra kiai dari berbagai daerah.

Tak kalah menarik ketika menyaksikan para santri adu kreatif dalam acara penyerahan 23 ijazah santri yang mengikuti program PPS (Pondok Pesantren Salaf). Acara ini juga disertai serah terima jabatan kepala sekolah dari Kang Faiq kepada Kang Bisri.

“Saya ini cuma ‘kepala negara’, tukang tunjuk-tunjuk. Pemerintahnya ya Kang Bisri ini. Jadi kalau ada serah terima, itu hanya seremoni, aslinya Kang Bisri ini yang menjalankan selama ini,” katanya begitu merendah.

Ketika dua santri memberikan sambutan pelepasan. Keduanya menggunakan dua bahasa berbeda, Arab Inggris. “Hafal Alquran, jago baca kitab, lancar bahasa Arab-Inggris. Apalagi misi beliau adalah quran village, lulusan PPS akan menjadi tenaga pendidik Pesantren Collaboration Jogoroto (PCJ),” tambahnya.

Selain Mbah Yaqin, Kang Faiq, Kang Bisri, Kang Rois, hadir juga M Taufiqur Rohman, alumni PTIQ Jakarta dan pasca sarjana Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang. Tampak pula H Muhtazuddin SH dan Mokhammad Kaiyis mewakili Yayasan PPHQ Roudhotussofiyah. (muh)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry