Tampak dari kanan Rektor UNESA Prof Dr Nurhasan, MKes. Prof Dr Wasis MSi, Prof Dr Tatag Yuli Eko Siswono SPd MPd dan Prof Dr Erman MPd. dan Ketua SENAT ((FT/DOK/UNESA)

SURABAYA | duta.co – Universitas  Negeri Surabaya (UNESA) berhasil menambah tiga Guru Besar baru. Selasa (26/11/2019), bertempat di Gedung Rektorat Lt 11, ketiga Guru Besar itu — Prof Dr Erman MPd, Prof Dr Tatag Yuli Eko Siswono SPd MPd dan Prof Dr Wasis MSi — dikukuhkan oleh Rektor ENESA, Prof Dr Nurhasan, MKes.

Dalam pidatonya, Prof Dr Nurhasan menegaskan, bahwa, tantangan Guru Besar ke depan semakin kompleks, semakin tidak mudah dijawab. Makanya diperlukan kerja keras dari para Guru Besar ini. “Saat ini, UNESA memiliki 59 Guru Besar. UNESA juga berharap tiap tahun ada percepatan Guru Besar,” tegasnya.

Menurut Prof Dr Nurhasan, salah satu kewajiban guru besar adalah melahirkan karya ilmiah berupa buku. Tetapi, harus pula diakui, bahwa, hari ini buku atau bahkan guru, bukan satu-satu sumber pengetahuan.

“Di tengah derasnya teknologi informasi, buku dan guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Bahkan orang tua pun, tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Sekarang kita saksikan ada sumber lain yang lebih cepat dan akurat dibanding buku dan guru. Dalam kondisi demikian, bisa jadi, mahasiswa lebih tahu (terlebih dulu) dibanding dosennya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof Dr Nurhasan mengingatkan, tugas berat Guru Besar sekarang adalah membuat terobosan baru, seperti apa model pendidikan ke depan.

“Apalagi kita sekarang memiliki Mas Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim red) yang muda dan kreatif. Maka, di era digital ini diperlukan keberanian untuk kreasi, inovasi dan kolaborasi bersama stake holder dan mitra lain. Memang berat, tetapi, ini sekaligus peluang emas,” jelasnya.

Terobosan Baru

Dalam pidato ilmiahnya, Prof Dr Erman MPd membedah tentang masifnya media sosial dari WhatsApp (WA), facebook, twitter, Instagram dll yang berkembang di masyarakat. Meski diakui banyak sisi positifnya, tetapi, gempuran medsos itu membutuhkan kecermatan tersendiri. Jika tidak, hanya akan memunculkan kegaduhan dan kesalahpahaman.

Untuk itu, Erman menyarankan, pertama, agar ada pembelajaran yang berbasis isu-isu makroskopik di era industri 4.0 ini. “Ini penting dan sangat dibutuhkan untuk membekali siswa dalam mengolah informasi-informasi dari beragam sumber yang beredar di berbagai media sosial,” jelas Erman.

Kedua, pembelajaran yang berbasis isu-isu makroskopik dapat mencegah siswa salah paham, bahkan bisa meningkatkan motivasi belajar (sains) siswa. Ketiga, pembelajaran yang berbasis makroskopik dapat meningkatkan literasi sains siswa.

“Keempat, pembelajaran yang berbasis konteks dalam era industry 4.0 ini, akan memiliki makna lebih luas dalam mengolah informasi untuk mencegah salah paham dan hal-hal yang tidak diharapkan terjadi di masyarakat,” urainya dalam pidato yang bertajuk ‘Pembelajaran Berbasis Isu-isu Makroskopikuntuk Mencegah Salah Paham dan Promosi Literasi Sains’.

Sementara Prof Dr Tatag Yuli Eko Siswono SPd MPd menyampaikan pidato ilmiahnya bertajuk ‘Berfikir Kreatif dan Pengajuan Masalah Matematika’. Prof Dr Wasis MSi memilih membedah pembelajaran IPA-Fisika dengan judul ‘Meaningful Assessment dalam Pembelajaran IPA-Fisika’. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry