JOMBANG | duta.co – Menarik! Seminar menyambut ‘120 Tahun Pesantren Tebuireng’, Jumat (23/8/2019) di Gedung KH M Yusuf Hasyim Lt III, Tebuireng, Jombang, menarik disimak. Seminar yang mengambil tema besar ‘Memadukan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional’ ini seakan ‘menggugah’ insan pesantren, bahwa, tantangan ke depan, jauh lebih berat.

“Jangankan untuk mengantisipasi 25 tahun ke depan. Memprediksi 5 tahun ke depan saja, sangat sulit. Merumuskan pendidikan untuk generasi milenial sekarang, tidaklah mudah,” demikian disampaikan KH Halim Mahfudz, MA Ketua Panitia Harlah ‘120 Tahun Pesantren Tebuireng’ dalam sambutan pembukaannya.

Karenanya, Gus Iim, panggilan akrabnya, berharap seminar ini mampu menyingkap dengan jelas, pendidikan macam apa yang perlu dikembangkan di pesantren, tentu, dengan berbagai prespektifnya. “Jangan sampai tamatan pesantren atau santri ini tertinggal oleh jamannya,” tegasnya.

Diakui, bahwa, tantangan pesantren sekarang tidaklah kecil. Tetapi, itu bukan berarti para kiai-kiai terdahulu, bebas dari masalah. Mantan wartawan Harian Surya ini mengisahkan bagaimana sejarah berdirinya Pesantren Tebuireng.

Tahun 1899, demikian Gus Iim, di tempat ini (Tebuireng red.), di desa yang menjadi sarang perjudian, begal, pencuri, almaghfurlah Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng. Diawali dengan pondok gedek (bambu) almaghfurllah Kiai Hasyim Asy’ari menghadapi semua tantangan itu seorang diri.

“Saat itu belum ada Polsek, belum ada Koramil. Beliau hadapi sendiri. Padahal usia beliau masih 28 tahun, setingkat santri senior. Setelah itu, beliau mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), berjuang demi kemerdekaan Republik, menggerakkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Hari ini, 120 tahun, kita saksikan Pesantren Tebuireng berkembang begitu pesat,” tegasnya.

Di samping kehebatannya, Gus Iim juga membeber sejumlah masalah, tantangan. Terutama ketika santri harus menghadapi revolusi industri 4.0. Dijelaskan, Indonesia sendiri sedang mengejar kenyataan tersebut, di mana seluruh pemangku pendidikan diharapkan mampu melaksanakan kurikulum dengan basis teknologi.

“Dan, lagi, generasi santri tidak boleh tertinggal oleh jamannya,” tegasnya.

Tak kalah menarik adalah paparan data yang disampaikan KH Abdul Hakim Mahfudz. Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng ini dalam sambutannya, menjelaskan, bahwa, dinamika di dunia pendidikan, termasuk dunia pesantren, tidak bisa dihindari.

Hari ini, jelasnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan agama begitu kuat. Sekarang banyak orangtua menyekolahkan anaknya di Madrasah Ibtidaiyah (MI), sehingga banyak sekolah-sekolah umum tutup. Dijelaskan, bahwa, pesantren memiliki banyak keungggulan, diantaranya pendidikan karakter atau akhlaq yang kuat.

Tetapi, bukan berarti tanpa problem. Problem yang harus dihadapi di antaranya adalah mutu guru, berikut kesejahteraannya. Ia mengisahkan betapa masih memprihatinkan mutu guru kita. Ketika dilakukan uji kompetensi terhadap 180 guru misalnya, ternyata hasilnya (yang lulus) sangat sedikit.

“Ketika dipakai standar nilai 80, ternyata tidak ada satu pun yang lulus. Diturunkan nilainya 70, juga tidak ada yang lulus. Diturunkan lagi ke angka 60, baru 10 orang yang lulus. Ini berarti masih mencapai 6%  dengan dinilai terendah,” jelasnya.

Seminar yang diawali dengan narasumber M Luthfillah Habibi SEI, MSA dari PP Sidogiri dan Dr H Ahmad Zayadi, MPd dari Kemenag RI dengan topik ‘Peran dan Sumbangsih Pesantren dalam Mencerdaskan Bangsa’ ini juga menarik diikuti.

Hadir dalam acara tersebut KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Prof Dr KH Nasihin Hasan, Dr Mif Rohim dan sejumlah perwakilan dari berbagai pondok pesantren di Pulau Jawa. (van)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry