SURABAYA | duta.co – Saifuddin SPd, petugas (guide) Museum Nahdlatul Ulama (NU) yang, selalu menuntun dan memberikan informasi mengenai seputar sejarah NU, mengaku sering ‘kedodoran’ saat menghadapi kecepatan siswa-siswa terkait teknologi pendidikan.

“Ini ‘memaksa’ kita (Museum NU) harus mampu menjawabnya. Misalnya, ketika mereka mendapat penjelasan, maunya mereka bisa akses langsung secara digital. Sehingga, mereka tidak perlu berkumpul dalam satu titik, mendengarkan penjelasan secara fisik,” demikian Mas Udin, panggilan akrab Saifuddin SPd usai mendampingi 81 pelajar SMP Walisongo, Gempol kepada duta.co, Selasa (24/1/23).

Digitalisasi Museum NU, tambahnya, sudah menjadi keniscayaan. Ia kemudian memberikan contoh, bagaimana pengunjung dengan mudah mendapat informasi terkait kisah dari seluruh benda bersejarah. “Mereka tinggal pencet sudah bisa mendapat informasi lengkap. Kecepatan ini yang harus kita lakukan,” terangnya.

Menurut alumni UIN-SA Surabaya ini, selama ini memang ada nilai lebih bagi mereka yang, berkunjung ke Museum NU. Setidaknya, bisa lebih cepat terberitakan di duta.co.

“Syukur, kalau duta.co menyertakan keputusan-keputusan penting terkait NU. Misalnya, tentang Komite Hijaz, ini bisa mereka baca lengkap di duta.co. Karena di Museum NU hanya ada surat balasan Raja Saud, meski pun ini fakta sejarah yang sangat penting,” terangnya.

Dari data pengunjung, sejumlah sekolah memang sudah menjadikan Museum NU sebagai jujugan memperkaya hasanah, sekaligus pemahaman siswa-siswi tentang NU. Seperti disampaikan Kepala Sekolah  SMP Walisongo, Gempol, Lailatul Rifqiyah, bahwa, Museum NU menjadi kegiatan rutin (berkunjung) bagi siswa-siswinya untuk memperdalam Aswaja An-Nahdliyah.

Selain SMP Walisongo, Gempol, Pasuruan, dalam data pengunjung juga tercatat sejumnlah sekolah di Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Blora, Rembang, Depok, Bogor, Blitar, Tulungagung, Trenggelek, Kediri, Malang, Probolinggo, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dll.

“Setelah Covid, ada rombongan dari Malaysia, Afghanistan serta sejumlah pengamat Islam dari luar negeri. Melihat eksistensi NU yang kian kokoh di usai 1 abad, maka, modernisasi Museum NU sudah menjadi keharusan,” demikian Ustad Kahfi Suharto, Ketua Yayasan Museum NU Surabaya.(mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry