Gerakan perlawanan Surat Ijo tidak bisa dianggap enteng. Mereka siap demo Pemkot Surabaya setiap hari Senin. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Gerakan perlawanan pemegang Surat Ijo Pemkot Surabaya, tidak bisa dianggap enteng. Jika tidak hati-hati, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) bisa-bisa ‘suul khotimah’ di akhir jabatannya. Tiap hari Senin, ribuan pemegang Surat Ijo, sepakat, gantian turun jalan, demo Pemkot.

“Ini puncak perlawanan. Kami sudah berpuluh-puluh tahun jadi ‘sapi perah’. Tidak kuat. Hari ini taruhan terakhir. Kami tidak mau terus-terusan dibohongi. Kabar dari Jakarta sudah disiapkan proses peralihan Surat Ijo, sementara Pemkot Surabaya bilang, ditolak. Kita ajak ‘budal bareng’, mana yang benar. Biar jelas siapa pembohong!,” demikian salah seorang pemegang surat ijo, Budi Josua, kepada duta.co, Senin (10/2/2020).

Menurut Budi, Pemkot Surabaya semakin menunjukkan tidak adanya keberpihakan kepada rakyat, khusus surat ijo. Kalau selama ini Pemkot mengakui keliru, apakah kesalahan itu diterus-teruskan.

“Bayangkan sudah ada ‘lampu hijau’ dari pusat. Presiden sudah membentuk wakil menteri khusus untuk menuntaskan sertipikat seperti Surat Ijo, tapi, Pemkot Surabaya seperti tidak mau tahu,” jelasnya.

Risma, jelas Budi, (dulu) sudah pernah komitmen menuntaskan surat ijo. Dan itu harusnya melekat kepada seorang walikota, membantu warganya, menyejahterakan warganya. Bukan sekedar mencari penghargaan ke luar negeri. “Warga Surabaya butuh layanan yang bagus, bukan penghargaan luar negeri,” urainya.

Masih menurut Budi, yang lebih membuatnya merinding, Risma dalam beberapa kesempatan sudah berjanji, bahkan bersumpah di hadapan Gusti Allah dengan disaksikan para malaikat di kanan-kirinya. Janjinya, akan melepas surat ijo. Tetapi, sampai kini, tidak dilakukan.

“Ini janji di depan Gusti yang Maha Kuasa. Saya hanya khawatir ada akibat buruk dari janji-janji itu. Sebagai warga Surabaya, tentu, tidak ingin terjadi sesuatu yang mengerikan. Tetapi, disi lain, kita saksikan, pemegang surat ijo ini merasa sudah sangat terdholimi,” tegasnya.

Jalan keluarnya? “Kita ajak budal bareng Bu Risma ke Jakarta untuk membebaskan Surat Ijo. Dengan begitu jelas masalahnya, pihak mana saja yang sudah ditemui. Jangan cuma katanya-katanya terus,” kata Budi dengan nada serius. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry