Branch HR Manager Noodle Division East Java Branch PT Indofood  Dodod Darmasasi (kiri) membuka spanduk program IRN didampingi  Rektor UTM, Dr Drs Ec Mohammad Syarif di sela sosialisasi IRN di UTM, Selasa (16/4). DUTA/istimewa

BANGKALAN | duta.co  –  Mahasiswa semester akhir di seluruh Indonesia ditantang untuk membuat proposal tentang sistem pangan. Sebisa mungkin mengangkat potensi lokal sehingga bisa menyehatkan, mencerdaskan dan meningkatkan prestasi bangsa.

Tantangan itu diberikan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) melalui program Indofood Riset Nugraha (IRN).

Untuk program ini, IRN sudah berkeliling di banyak kampus di Indonesia. Salah satu yang berkesempatan mendapatkan sosialisasi program ini adalah Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Rektor UTM, Dr Drs Ec Mohammad Syarif menyambut gembira sosialisasi ini. Apalagi tantangan riset mahasiswa ini mengangkat tema yang sudah sangat lekat di kehidupan sivitas akademika UTM.

“Kalau masalah pangan, kita ini tidsk ketinggalan. Dari enam sektor yang kita targetkan, setidaknya dua sektor yang sudah dihilirisasi yakni garam dan jagung,” ujar Syarif di sela sosialisasi di UTM, Selasa (16/4).

Bahkan UTM sudah dijadikan pusat unggulan iptek garam di Indonesia oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

“Kalau masalah inovasi unggulan jagung di sini sudah banyak melakukan. Jadi tidak sulit untuk bisa ikut ambil bagian dalam program IRN ini,” tukasnya.

Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc menjelaskan mahasiswa UTM harus memanfaatkan wahana kompetisi ini terutama yang akan menempuh tugas akhir.

Selama ini diakuinya, mahasiswa ini memiliki ide yang sangat banyak. “Bagaimana ide- ide itu tidak hanya disebutkan lisan tapi dituangkan dalam bentuk proposal,” ujarnya.

Program ini kata Purwiyatno bisa diikuti semua mahasiswa dari berbagai program studi. Tidak terbatas pada prodi yang berkaitan dengan masalah pangan.

“Ini sistem  pangan bukan hanya produk pangan. Semua prodi boleh ikut. Bahkan prodi sosial budaya juga boleh ikut,” tukasnya.

Purwiyatno  mengatakan mahasiswa UTM seharusnya merasa tertantang untuk mengirimkan proposal penelitiannya. Karena Madura ini memiliki potensi pangan luar biasa.

“Jagung dan garam, dua komoditas yang dimiliki Madura. Harusnya mahasiswa UTM berpikir mengolah garam dan jagung  menjadi produk unggul tddak ada  yang bisa melakukan sebaik orang Madura,” jelasnya.

Sekadar diketahui, pogram IRN  2019/2020 ini mengambil  tema “Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal untuk Peningkatan Kesehatan, Kecerdasan dan Prestasi Bangsa”.

Program IRN adalah pemberian dana bantuan riset kepada mahasiswa Strata 1 (S1) yang tengah melakukan penelitian sebagai syarat untuk menyelesaian pendidikannya.

Program IRN yang merupakan program Corporate Social Responsibility Indofood pilar Building Human Capital, terbuka bagi mahasiswa S1 yang tengah menyelesaikan tugas akhirnya dan berasal dari berbagai jurusan.

 Objek penelitian adalah sumber daya pangan lokal berasal dari darat atau laut, seperti aneka pangan sumber karbohidrat (contohnya serelia jagung, sorgum, gandum, aneka umbi, dan sejenisnya),

juga kelapa dan kelapa sawit; rempah-rempah, hasil ternak; hasil laut dan perikanan; serta produk pangan lokal unggul lainnya.

Adapun bidang penelitian meliputi bidang produksi (agro teknologi), teknologi (pasca panen dan pengolahan), kesehatan dan gizi masyarakat, serta bidang sosial ekonomi dan budaya.

Untuk mendapatkan dana penelitian, mahasiswa perlu mendaftarkan proposal penelitiannya melalui www.indofoodrisetnugraha.com atau dengan mengirimkan email ke  [email protected] mulai 8 April hingga 20 Juli 2019.

Syarat lainnya adalah jangka waktu penelitian paling lama 1 (satu) tahun, menyertakan riwayat hidup lengkap mahasiswa dan dosen pembimbing serta penelitian dilakukan di Indonesia.

Seluruh proposal tersebut akan menjalani proses seleksi, baik seleksi administratif, maupun seleksi substantif penelitian. Pengumuman penerima dana IRN akan dilakukan pada September 2019.

Penerima dana IRN juga mendapatkan pendampingan selama penelitian dari Tim Pakar IRN, yang terdiri atas para pakar berbagai bidang.

 Sejak pertama kali diluncurkan di 2006, Program IRN telah menerima sekitar 5.000 proposal dan mendanai lebih dari 750 penelitian mahasiswa.

“Kami berharap melalui Program IRN akan bermunculan riset-riset unggul dari mahasiswa dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, daya saing bangsa serta  pada akhirnya dapat mendukung kemandirian pangan nasional,” ujar Purwiyatno. end/ril

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.