SURABAYA | duta.co – Menyaksikan jalannya Pleno PBNU yang dibesut Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar Selasa (9/12/2025) malam inginnya menangis. Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) yang begitu besar umatnya, tiba-tiba menggelar Rapat Pleno dengan segelintir orang. “Sudah begitu, saya yakin, tidak semua yang hadir setuju dengan penetapan Pj Ketum PBNU,” demikian disampaikan HM Maksum Zuber, Mantan Sekjend PP IPNU kepada duta.co, Rabu (10/12/25).

Menurut Maksum, sebagaimana yang beredar di media, tingkat kehadiran peserta Pleno PBNU benar-benar jauh dari cukup. “Kabarnya Mustasyar yang hadir  2, sementara 27 kiai tidak hadir. Jajaran Syuriyah hanya hadir 19, tidak hadir 34. A’wam yang hadir 7, tidak hadir 33. Begitu juga Tanfidziyah hanya ada hadir 21, 41 orang tidak hadir. Lembaga hanya hadir 5, sementara 13 lainnya tidak. Banom cuma ada 2, sementara 12 tidak hadir. Jadi, dari 216 yang hadir hanya 56. Kalau begini, NU bisa berubah jadi ringkih, ‘kucing’ bukan harimau yang penuh wibawa. Apa kita ikhlas?” tegasnya.

Masih menurut Maksum, sedahsyat apapun kesalahan Ketum PBNU (Gus Yahya), itu bisa diatasi dengan baik. Tidak perlu sampai menghancurkan pilar-pilar persatuan NU. “Saya membaca apa yang disampaikan Gus Mus (KH Mustofa Bisri red) di medsos, kalau pimpinan NU sendiri tidak bisa rukun, bagaimana mau merukunkan orang. Kalau pimpinan NU saja sudah tidak mau mendengar saran sesepuh NU (Mustasyar PBNU), lalu untuk apa memimpin NU,” terangnya.

Seperti diberitakan, sebelumnya kiai sepuh menggelar dua kali pertemuan. Pertama, Para kiai sepuh NU bermusyawarah di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, membahas dinamika yang tengah memanas di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Forum ini diprakarsai Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Anwar Manshur, dan Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli.

Hadir para masyayikh dari berbagai daerah, baik secara langsung maupun daring. Di antaranya KH. Anwar Manshur, KH. Nurul Huda Djazuli, KH Ma’ruf Amin (via zoom), KH. Said Aqil Siroj (via zoom), KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. Abdul Hannan Ma’shum, KH. Kholil As’ad, KH. Ubaidillah Shodaqoh, KH. dr. Umar Wahid (via zoom), dan KH. Abdullah Ubab Maimoen (via zoom).

Kedua, sebagai tindak lanjut atas seruan sesepuh NU di Ploso dan merespons persoalan di PBNU yang tak juga rampung, Pesantren Tebuireng Jombang mengambil peran sebagai ruang temu dan tabayun bagi kedua belah pihak.  Tebuireng memiliki akar historis dengan muassis NU. Forum ini mengundang Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU untuk bersilaturahmi dalam format pertemuan yang dirancang menghadirkan suasana tenang dan penuh penghormatan. KH Umar Wahid (Gus Umar) bertindak sebagai sohibul hajat.

Pertemuan ini diatur dalam dua sesi terpisah, konon Syuriyah tidak berkenan bertemu Tanfidziyah. Sesi Rais Aam, serta sesi Ketua Umum dipisah. Para Mustasyar PBNU diundang menjadi penengah, sesuai peran mereka sebagai pemberi nasihat dan pertimbangan dalam organisasi. “Sarannya jelas, tegas dan lugas. Pemakzulan Ketua PBNU tidak sesuai AD/ART. Kalau ada masalah serius bisa diselesaikan dengan mekanisme jamiyah. Kalau pun harus memecat Ketum, caranya benar, tidak asal pecat,” tegasnya.

HM Maksum Zuber di Kantor duta.co dan dua undangan PP Tebuireng. (FT/MKY)

Kedudukan Mustasyar, lanjutnya, jangan hanya jadi pajangan. Mustasyar itu pemberi nasehat. Sehingga luput dari perhatikan para pengamat, pakar dan ahli dalam menganalisa dan mengamati problem solving konflik NU baik datang dari Luar maupun Internal NU. “Kalau Mustasyar dianggap wujuduhu kaadimahi, buat apa nama-nama beliau ada. Kita mendengar KH Ma’ruf Amin yang sarannya tidak dipakai, ini memperihatinkan,” tegasnya.

Ia kemudia merujuk konflik NU menjelang Muktamar ke 27 di Situbondo. Saat itu ada kubu Cipete dan kubu Situbondo. Dengan kebesaran hati para kiai sepuh, akhirnya kedua kubu dikumpulkan dalam sebuah acara ‘tahlilan’ di rumah KH Hasyim Latief, Ketua PWNU Jawa Timur di Sepanjang, Sidoarjo (10 September 1984).

Di rumah KH Hasyim Latief itulah lahir sebuah maklumat bersejarah bernama “Maklumat Keakraban” yang ditandatangani tujuh ulama terkemuka: KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ali Ma’shum, KH Idham Cholid, KH Machrus Aly, KH Masjkur, KH Saifuddun Zuhri, dan KH Achmad Siddiq. Isi maklumat pada intinya adalah mengakhiri konflik, saling memaafkan, dan bersepakat untuk menyukseskan muktamar ke-27 di Situbondo, Desember 1984. “Kami yakin bahwa Mustasyar NU sebagai sumber etika dan moral menjadi sangat penting posisinya. Tidak ada masalah yang selesai dengan amarah,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry