MALANG | duta.co – Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna mencegah radikalisme di kalangan mahasiswa. Dengan narasumber diantaranya,   Wakil Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Deputi Bidang Hukum Advokasi, dan Pengawas BPIP RI, Wakil Dekan III FS UM, serta Ketua Departemen Hkn FIS UM.

Menurut Wakil BPIP RI, Prof Dr Hariono Mpd, bahwa Indonesia adalah negara dengan kesatuan yang memiliki keanekaragaman suku dan agama. Maka ia tidak ingin Pancasila hanya sebagai pemersatu bangsa, akan tetapi juga sebagai roh yang bisa membawa kemajuan negara Indonesia. Untuk itu perlu toleransi yang dapat diartikan sebagai perilaku manusia yang tidak menyimpang aturan, dengan menghormati dan menghargai tindakan orang lain.

“Dengan toleransi akan meningkatkan rasa persaudaraan, terhindar dari perpecahan, pemersatu perbedaan, dan meningkatkan rasa nasionalisme,” ungkap Prof Hariono, Sabtu (13/03).

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Yusuf Hanafi SAg MFilI, selaku Wakil Dekan III FS UM, menyatakan, mahasiswa wajib memiliki moderasi beragama yang bertujuan pencegahan radikalisme. Generasi muda masih dalam proses pencarian jati diri. Sehingga kaum muda wajib dipahami agama yang tidak sebatas doktrin tekstual semata, namun perlunya pengalian aspek ajaran agama secara kontekstual dan interdisipliner.

Salah satunya dengan strategi moderasi beragama dengan mengedepankan keseimbangan dan jalan tengah, sehingga tidak terjebak pada sikap keagamaan yang radikal.

Acara ini dibuka langsung oleh Rektor UM, Prof Dr AH Rofi’uddin MPd, dan dilengkapi pula oleh dua narasumber yang lain. Yakni Deputi Bidang Hukum, Advokasi, dan Pengawas BPIP RI, Kemas Ahmad Tajjudin SH MH, dan Ketua Departemen Hkn FIS UM, Dr Didik Sukriono SH Mhum.

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry