Andi Budi Sulistijanto menghadiri majelis taklim di Surabaya.

SURABAYA | duta.co – Teror bom masih menjadi momok menakutkan. Peristiwa Sibolga Sumatera Utara menjadi alarm pengingat bahwa penganut islam radikal di Indonesia belum sepenuhnya bisa diatasi. Karena itu, Caleg DPR RI Dapil Jatim 1 (Surabaya-Sidoarjo) nomor urut 2 dari Partai Golkar Andi Budi Sulistijanto mendorong masyarakat mentradisikan budaya Majelis Taklim dan Yasin-Tahlil.

Menurutnya, dengan cara saling berkumpul dalam majelis taklim atau yasin tahlil, masyarakat ikut berperan dalam menjaga lingkungan sosialnya agar tetap kondusif. “Harus peka terhadap tetangga, jangan dimusuhi, diajak bicara. Pencegahannya masing-masing lingkungan harus peka terahdap lingkungannya. Kegiatan ini positif yang bisa diikuti oleh siapa saja, dibudayakan dan ditradisikan serta dikembangkan,” ujarnya, Minggu (24/3/2019).

Wakil Ketua Lakpesdam PBNU ini mengaku sudah menyiapkan program pembinaan terhadap 1000 majelis taklim dan yasin tahlil yang tersebar di kawasan Surabaya dan Sidoarjo. Sebab, kegiatan majelis taklim dan yasin tahlil yang diadakan di rumah-rumah warga atau di luar masjid dan musholla ini akan berdampak pada kehidupan sosial yang harmoins.

“Kerena mereka akan bersinergi untuk memantau linkungan. Kalau lingkungannya ngak kondusif masyarakat yang akan rugi sendiri,” tegasnya.

Gus Andi, sapaannya, menegaskan, ajakan memerangi radikalisme dengan media majelis taklim dan yasin tahlil ini sejalan dengan nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) an-nahdliyah yang memiliki empat prinsip dasar, tawasuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), ta’adul (tegak lurus atau adil), dan tasamuh (toleransi).

Nilai tawasuth mengajarkan masyarakat agar tidak terjebak kepada faham yang esktrim kanan dan ekstrim kiri. Menurut Gus Andi, aliran yang berhaluan kiri cenderung tidak mengakui pancasila, sedangkan yang berhaluan kanan identik dengan ajaran islam yang ekstrim bahkan cenderung radikal.

“Tawazun itu berimbang. Kita punya pedoman al-quran dan al-hadits, ijma’ dan qiyas, kita juga harus pakai akal sehat. Menghardik orang tua tidak boleh, lebih dari itu akal sehat kita tidak boleh, misal membunuh orang tua. Akal sehat ini bisa mengimbangi dalam hidup dan bernegara,” jelasnya.

Ketua DPP Partai Golkar bidang keagamaan dan ormas agama ini menjelaskan, nilai toleransi dan adil dalam berbangsa dan bernegara juga tidak kalah pentingnya. Apalagi Indonesia menjadi Negara yang dipenuhi dengan berbagai suku, agama, ras dan bahasa yang berbeda.

“Maka tasamuh (toleranasi) ini penting. Karena banyak ras, suku, dan agama, supaya tetap rukun tidak mudah terpancing oleh provokasi,” tukasnya.  azi

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.