(Catatan Sunyi Hari Ke-4 Suluk Ramadhan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pondok Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah Batuampar Condet Jakarta; Ahad Pahing, 12 Ramadhan 1447)

Oleh: Abdur Rahman El Syarif

HUJAN semalam adalah air mata langit yang jatuh dalam diam, seperti zikir para salik yang membasahi bumi tanpa gaduh. Malam itu, langit seolah turut berdoa, menyaksikan para pejalan sunyi memijak karpet malam menuju gerbang ruhani yang tak terlihat mata.

Di pendopo yang tegak bersahaja, di bawah atap langit yang telah dibasuh rahmat, malam bergulir dalam hening yang panjang namun penuh makna.

Shalat demi shalat ditegakkan, dimulai dengan tahajjud yang membuka langit kesunyian, lalu taubat an-nashuha yang memecah tangis dalam dada masing-masing. Setiap sujud terasa bagai mencium debu di kaki sang Kekasih yang telah lama ditinggalkan.

Lalu mengalir shalat li ridhaillah, lis syukrillah, dan lifadhlillah, seolah tubuh bukan lagi milik jasad, melainkan sekadar perahu yang membawa ruh menuju Samudera Cahaya.

Dipimpin langsung oleh Sang Mursyid, Ashhabu al-Karamah, Syeikh KH. Ali Masykur Musa, suluk malam itu berubah menjadi bahtera penyelamat, menampung air mata, luka-luka batin, dan harapan yang mulai kembali bertunas.

Ketika tawajjuh dimulai, semua menjadi bisu. Waktu seperti berhenti sejenak, menunduk menyaksikan manusia dan jiwanya kembali bercakap dengan Tuhannya. Tidak ada kata. Hanya detak jantung dan linangan air mata. Nafas terasa lebih dalam, seolah setiap helaannya membawa nama-Nya turun ke relung paling tersembunyi.

Di sela hening yang panjang itu, malam Ramadhan perlahan bergeser menuju ujungnya. Lampu-lampu temaram di pendopo kayu memantulkan cahaya keemasan pada tiang-tiang jati yang kokoh dan lantai yang masih menyimpan dingin hujan semalam. Dari dapur sederhana di sudut halaman, mengepul aroma nasi hangat, sayur bening, dan teh panas yang diseduh dengan doa-doa lirih.

Para salik bangkit perlahan dari samudera diamnya. Mereka duduk melingkar, bersahaja, dalam sahur yang bukan sekadar menguatkan jasad, tetapi juga meneguhkan niat. Suara sendok beradu pelan dengan piring menjadi zikir yang lain, zikir yang membumi. Ada senyum yang tipis namun teduh, ada mata sembab yang kini memancarkan ketenangan. Di antara suapan yang sederhana, terselip syukur yang tak terucap, karena mereka tahu: ini bukan hanya makan sebelum fajar, ini adalah perjamuan ruhani di ambang cahaya.

Kayu-kayu pendopo seakan menyerap setiap doa yang terhembus bersama uap teh hangat. Angin dini hari menyusup lembut dari sela-sela dinding terbuka, membawa bisik tasbih dedaunan. Dan ketika waktu imsak semakin mendekat, suasana menjadi lebih khidmat, hening yang tidak kosong, melainkan penuh dengan kesiapsiagaan menuju hari yang baru.

Lalu datanglah fajar, dengan wajah yang lebih jernih dari biasanya. Seperti seorang tamu agung yang telah lama dirindukan, Subuh tiba sebagai cahaya pertama kemenangan. Dan entah mengapa… pagi itu terasa sangat berbeda.

Pendopo tampak seperti singgasana bagi para ruh yang telah ‘dihidupkan kembali’. Pepohonan yang rindang di halaman menunduk seperti saksi bisu atas pengakuan dosa dan kerinduan yang terucap lirih sepanjang malam. Rerumputan yang masih basah seperti permadani hijau yang disusun para malaikat untuk menyambut para salik yang telah ‘menang’ dalam pergulatan malam.

Kokok ayam bekisar dari sangkar ukir di kanan-kiri pendopo terdengar bak genderang kebangkitan. Kicau kutilang di ranting pohon bersahutan, seolah menggemakan nafiri semesta yang mengelu-elukan kedatangan Sang Maharaja Cahaya, sosok batin yang telah memenangi perang melawan nafsunya sendiri.

Salik-salik duduk bersila dalam diam, tapi dada mereka bergemuruh. Mata mereka berkaca, tapi hati mereka bersinar. Ada yang masih menahan tangis, ada yang tersenyum dalam haru, dan ada pula yang menunduk terlalu lama, tak sanggup menghadapi pagi yang datang begitu suci.

Pagi ini, mereka bukan lagi manusia biasa. Mereka adalah penziarah waktu, pencinta abadi, dan anak-anak suluk yang mulai ditimang oleh Cahaya. Mereka tahu, jalan masih panjang. Tapi setidaknya hari ini, mereka telah sampai pada satu titik, yang oleh para auliya disebut sebagai “nafas pertama yang benar-benar hidup.”

Dan semuanya berawal dari air mata, malam, dan seuntai doa yang tulus.(*)

#SulukRamadhan1447H
#PPAlMasykuriyah
#SyeikhAliMasykurMusa
#NaqsyabandiyahKhalidiyah

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry