
(Bai’at Amal Sebelas dan Nafi Istbat, Pondok Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah asuhan Sang Mursyid, Syeikh KH. Ali Masykur Musa. Jum’at, 16 Ramadhan 1447 H)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
ALHAMDULILLAH…
Jum’at ini bukan sekadar hari penghulu pada pekan ini. Ia datang seperti angin dari langit yang mengandung wangi taman-taman keabadian. Sebuah anugerah tersembunyi dibuka perlahan, yakni pintu maqam dibuka oleh cinta, dan kami para salik, dengan langkah pelan namun pasti, berjalan menuju-Nya dengan bejana dzikir yang kami bawa dari malam-malam sunyi sebelumnya.
Pagi itu, pukul 05.30, embun masih menggantung tenang di ujung dedaunan pondok, sementara langit Condet menghampar dalam warna pastel yang bening. Di tengah pendopo kayu yang bersahaja dan penuh berkah, mursyid kami, Syeikh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa duduk bersila dengan wajah sejuk mendamaikan.
Tak ada pidato megah, hanya sorot mata yang menenangkan gelombang hati, dan senyum halus yang seolah menghapus kabut batin. Satu per satu murid bersimpuh mendekat kepadanya, bukan sebagai pengikut, tapi sebagai anak-anak ruhani yang datang menjemput restu cahaya.
Shalat malam yang kami dirikan sejak pukul 03.00 dini hari menjadi pembuka jendela langit. Namun sebenarnya perjalanan malam itu telah dimulai jauh sebelumnya. Sejak usai shalat Isya’, para salik berkumpul dalam saf yang rapi. Kami menunaikan shalawat, tarawih, dan witir, lalu malam yang hening itu dilanjutkan dengan dzikir tawajjuhan, khataman, dan Khawājikan, amalan khas dalam suluk Tarekat Naqsyabandiyah yang diwariskan para masyayikh sebagai jembatan ruhani menuju kehadiran Ilahi.
Di dalam lingkaran dzikir itu, suara tidak pernah tinggi. Ia hanya bergema dalam dada.
“Allah… Allah… Allah…”
Seakan setiap lafaz adalah ketukan lembut di pintu langit. Para arif berkata bahwa dzikir seperti ini adalah dzikir khafī, dzikir yang tidak terdengar oleh telinga dunia, namun mengguncang langit ruhani. Sebagaimana firman Allah:
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak dengan suara keras.” (QS. Al-A‘raf: 205)
Malam terus berjalan. Setelah beberapa saat beristirahat, ketika waktu telah mendekati sepertiga malam terakhir, kami bangkit kembali. Saat pukul 03.00, seluruh salik kembali berdiri dalam shalat malam. Dimulai dengan shalat Tahajjud dua salam, lalu shalat Taubat An-Nashuha dua salam, kemudian disempurnakan dengan shalat Li Ridhāillah, Li Syukrillah, dan Li Faḍlillah.
Rangkaian ini bukan semata gerakan badan, tetapi tarian ruh yang memohon agar dibersihkan, disinari, dan didekatkan. Setiap rukuk adalah kerendahan diri. Setiap sujud adalah pengakuan cinta. Allah sendiri menjanjikan kedekatan bagi hamba yang bangun di waktu sunyi itu:
“Dan pada sebagian malam, bertahajjudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Usai shalat malam, kami tidak langsung beranjak. Para salik kembali duduk bersila, tenggelam dalam khataman Khawājikan dan tawajjuhan. Amalan ini wajib dilakukan kembali setelah tahajjud, sebagaimana juga dilakukan selepas tarawih sebelumnya. Di saat itulah dzikir seperti air yang mengendap dalam tanah jiwa, perlahan menumbuhkan taman cahaya di dalam dada. Tidak ada suara selain desah nafas dan tasbih hati.
Ketika langit mulai memucat, aroma dapur pesantren pun perlahan tercium. Para ikhwan dan akhwat berkumpul dalam saur bersama, hidangan sederhana yang terasa begitu nikmat karena dimakan dalam keberkahan kebersamaan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di meja-meja sederhana itu, tak ada percakapan panjang. Hanya senyum, doa, dan rasa syukur. Para salik memahami bahwa bahkan makan sahur pun adalah bagian dari ibadah.
Tak lama kemudian, suara azan Subuh menggema dari surau pesantren. Kami berdiri kembali, membentuk saf yang rapat dalam shalat Subuh berjamaah. Cahaya pagi mulai turun perlahan, seolah langit ikut menyaksikan perjalanan ruhani para pencari-Nya.
Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan oleh para malaikat.” (QS. Al-Isra: 78)
Maka demikianlah malam dan fajar berlalu di dalam suluk. Dari Isya’, Tarawih, Witir, menuju dzikir tawajjuhan, khataman, dan Khawājikan, lalu bangkit kembali dalam Tahajjud, Taubat, dan shalat-shalat cinta lainnya, hingga akhirnya disempurnakan dengan sahur dan Subuh berjamaah. Semua itu bukan sekadar rangkaian ibadah. Ia adalah perjalanan pulang. Perjalanan seorang hamba yang perlahan-lahan menyadari bahwa seluruh hidupnya hanyalah langkah kecil menuju Allah.
Dan di tengah sunyi itu, hati para salik mulai memahami sebuah hikmah para arif: “Barang siapa mengetuk pintu Allah pada waktu malam dengan kerendahan hati, maka pada waktu pagi ia akan dibukakan pintu rahmat.”
Ramadhan pun menjadi taman ruhani. Dan suluk adalah jalan sunyi untuk menemukan kembali Cahaya yang sejak awal telah ada di dalam diri.
Dan kini…, pagi itu, tak sekadar matahari yang terbit, tapi langit dalam jiwa kami terbuka.
Kami dipanggil untuk naik. Bukan naik dalam makna ruang, tapi dalam kedalaman kesadaran.
Dari amal 9 yang telah kami jaga dengan peluh, kami kini memasuki maqam Amal 11, seperti seseorang yang masuk ke dalam taman ruhani yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih penuh rahasia.
Amal 11 bukan sekadar penambahan angka dzikir menjadi 11.000 kali sehari semalam, melainkan perluasan medan dzikir ke dua latifah yang selama ini tersembunyi dan tertidur, yakni Latifah Nafsī Nāṭiqah dan Latifah Jāmi’ul Bàdàn.
Nafsī Nāṭiqah, terletak di pusat ubun-ubun kepala, adalah pusat kesadaran rasional manusia, akal, logika, dan argumentasi. Pada maqam ini, para salik diajarkan untuk menundukkan akal fikir di bawah bimbingan qalbu.
Dzikir tidak lagi diproses oleh logika, melainkan mengalir dalam samudra rasa. Inilah saatnya akal belajar sujud pada hati, dan hati menjadi lisan yang berbicara kepada Langit.
Sementara itu, Latifah Jāmi’ul Badan, latifah tubuh yang menyebar di seluruh jasad adalah maqam penyerahan total. Seluruh tubuh menjadi tempat dzikir. Setiap sel, setiap urat, sepanjang aliran darah bahkan tulang sumsum pun diajak mengucap “Allāh”.
Dzikir tak lagi berpusat di lidah atau dada saja, tapi menjalar seperti arus gelombang elektromagnetik di jaringan tubuh. Ini adalah maqam di mana seluruh diri menjadi wasilah untuk menyebut, mengingat dan bahkan merasa ‘bersama’ Tuhan.
Dan sebagai mahkota, pagi itu juga kami diberi amanah untuk memikul dzikir Nafi-Itsbat:
Lā ilāha illā Allāh…
Lā ilāha illā Allāh…
Lā ilāha illā Allāh…
Dzikir ini, bagaikan pedang tajam yang membelah tabir wujud. Nafi, adalah penafian mutlak, tidak ada ilah, tidak ada kekuasaan, tidak ada keberadaan, tidak ada daya, dan…. semua tiada, kecuali Allah.
Itsbat, adalah penetapan tunggal, kecuali Allah, Dzat Yang Maha Nyata dan Maha Hadir.
Dzikir ini bukan suara, tapi kejadian.
Bukan bacaan, tapi penyaksian.
Bukan amal lisan, tapi pembatalan seluruh wujud hingga tinggal Wajah-Nya yang kekal abadi.
Wahai ruh yang sedang mencari…
Ketahuilah bahwa suluk bukan tentang banyaknya gerakan, atau kerasnya suara dzikir.
Ia adalah proses pelarutan, hingga diri kita melebur dalam samudra La ilaha illa Allah.
Dan di hari Jum’at penuh cahaya ini, kami tidak hanya naik maqam. Tetapi lebih dari itu, kami serasa dilahirkan kembali.
Dengan dzikir yang menjadi daging, dan cinta yang mengalir bersama aliran darah,
Kami menapak jalan yang tak bisa dilihat mata,
Tapi bisa dirasakan oleh yang hatinya telah dihidupkan oleh cinta dan cahaya Ilahi.
#SulukRamadhan1447H
#AmalSebelas
#NafiItsbat
#SulukNaqsyabandiyah
#PondokPasulukanAlMasykuriyah
#SyeikhAliMasykurMusa




































