Oleh: KH Imam Jazuli Lc, MA

MALAM itu, 14 April 2026, Cirebon terasa lebih sejuk. Ada tamu istimewa di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Tamu itu bukan orang baru. Ini kunjungan ke-7 beliau.

Namanya mentereng: Kiai Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim. Pendiri dan Pengasuh Amanatul Ummah, Mojokerto. Tokoh yang kalau bicara pendidikan, matanya menyala. Saya pun ikutan begitu. Kalau sudah bicara transformasi pesantren, kami bisa lupa waktu.

Kiai Asep adalah bukti hidup. Bahwa NU tidak boleh kalah dari Muhammadiyah dalam urusan amal usaha. Selama ini kita harus jujur—meski pahit: NU kuat di massa, tapi kedodoran di infrastruktur layanan publik yang berkualitas.

Kenapa Muhammadiyah punya banyak rumah sakit top? Kenapa kampus mereka mentereng? Kenapa unit usaha mereka rapi?

Jawabannya satu: SDM.

Dan di situlah titik temu saya dengan Kiai Asep. Kami punya kegelisahan yang sama. Penyakitnya kronis: kader NU banyak yang jadi menteri, banyak yang punya jabatan politik. Tapi coba tengok di bawahnya. Di level Dirjen, Direktur, hingga birokrat teknis. Di sana, kader NU sulit ditemukan. Kosong.

Kenapa? Karena pesantren kita selama ini terlalu asyik di satu sisi, tapi abai pada sisi lain.

Kami sepakat: Pesantren harus berubah. Bukan sekadar ganti kulit, tapi transformasi kurikulum. Kita harus mengembalikan masa keemasan Islam.

Caranya? Menyeimbangkan ilmu agama yang deep dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). “Kita butuh santri yang teknokrat, santri yang dokter, santri yang ahli IT,” ujar Kiai Asep. Saya mengangguk mantap.

Tanpa SDM yang menguasai bidang-bidang strategis ini, jangan harap NU bisa punya rumah sakit berstandar internasional. Jangan mimpi punya universitas riset yang disegani dunia. Kita akan selalu jadi penonton di tengah gegap gempita pembangunan.

Kurikulum pesantren harus inklusif. Terbuka. Adaptif. Jangan alergi dengan perkembangan zaman. Output-nya harus jelas: lulusan yang bisa diterima di PTN terbaik dan kampus internasional.

Di sini letak kemiripan BIMA dan Amanatul Ummah. Visi kami sama: Output Oriented.
Bedanya hanya di “pintu keluar”. Santri Kiai Asep luar biasa di jalur domestik; 95 persen tembus PTN, sisanya luar negeri.

Sementara di BIMA, kami mengambil jalur “nekat” yang terukur: 70 persen santri kami rebut beasiswa di luar negeri, hanya 30 persen yang di PTN. Tujuannya sama. Membanjiri pos-pos strategis bangsa dengan kader yang berjiwa santri tapi berotak teknokrat.

Malam itu kami sadar, NU tidak kekurangan orang pintar. NU hanya kekurangan keberanian untuk mendobrak sistem pendidikan yang stagnan. Kiai Asep sudah lama memulainya di Mojokerto. Saya sedang gas pol di Cirebon.

Kalau setiap kiai punya visi yang sama soal SDM, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, kita tidak lagi bicara soal “NU menang jumlah”. Kita akan bicara: “Rumah sakit terbaik itu milik NU, universitas terbaik itu dikelola santri, dan birokrasi kita diisi oleh orang-orang yang paham kitab kuning sekaligus ahli teknologi.”

Barangkali itulah “jihad” dan ijtihad yang sesungguhnya hari ini. Bukan lagi soal retorika, tapi soal mencetak generasi dan kader bangsa. Wallahu’alam bishowab.

Cirebon, 15 April 2026

*) Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah. Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.*_
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry