Prof Dr Imam Mukhlis SE MSi (kalung biru) dan Prof Dr Im Hambali MPd (kalung putih), Guru Besar baru di Universitas Negeri Malang.

MALANG | duta.co – Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan Guru Besarnya (Gubes). Kali ini Prof Dr Imam Mukhlis SE MSi yang menjadi Gubes Ilmu Ekonomi Pembangunan Jurusan Ekonomi Pembangunan dari Fakultas Ekonomi. Serta Prof Dr Im Hambali MPd, yang menjadi Gubes bidang bimbingan dan konseling, Fakultas Pendidikan UM.

Prof Imam Mukhlis sendiri dalam pengukuhannya akan mengangkat karya ilmiah yang  berjudul “Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan dalam Pembangunan Berkelanjutan”. Menurutnya, indikator keberhasilan pembanguan dapat ditilik dari 17 variabel, dimana salah satunya adalah akses masyarakat terhadap pangan. Serta peningkatan daya beli masyarakat diberbagai daerah terutama pelosok.

“Negara dalam konstitusi diwajibkan menyejahterahkan masyarakatnya melalui instrument fiscal dan moneter. Hal ini perlu diperkuat lagi agar kesejahteraan social dan keadilan social tercapai,” ungkap Prof Imam, Rabu (31/03).

Menurutnya, pengentasan kemiskinan sendiri di Indonesia sudah mulai berkurang, hal tersebut diiringi pula dengan diversifikasi pangan. Daya beli dan ketersediaan bahan pangan menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan pembangunan. Maka intervensi pemerintah dalam subsidi harga pangan dan dengan stok yang mencukupi, yang hal tersebut telah dilakukan Pemerintah.

Sedangkan Prof Im Hambali, dalam paparan ilmiahnya mengangkat judul “Membangun Kemandirian Perilaku Ekonomi Melalui Intervensi Komperehensif  Analisis Model Bimbingan dan Konseling Karir bagi Remaja Indonesia”.

Menurutnya, soft skill pada siswa harusnya diperkuat lagi dalam tataran pendidikan formal. Pasalnya, hard skill yang sudah diberikan selama ini akan sirna, tatkala tidak ditunjang dengan soft skill yang memadai.

“Terdapat tujuh soft skill yang penting untuk dilekatkan pada siswa agar dapat mandiri dan optimal dalam bekerja,” ungkap Prof Im.

Ia menjelaskan, tujuh soft skill tersebut yakni, interpersonal skill, keterampilan multikultural (multicultural skill), keterampilan manajemen emosi, juga keterampilan berkomitment, keterampilan peduli sosial, karakter keuletan dan karakter kejujuran.

“Ke tujuh soft skill tersebut semestinya ada intervensi komperehensif dalam membangun karakter anak bangsa, agar hard skill mereka dapat optimal,” pungkasnya. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry