“Ramadhan: bulan suci yang di dalamnya dialiri panggilan-panggilan spesial bagi orang-orang yang beriman. Panggilan yang khusus, super khusus dan memiliki supremasi spesifik.”
Oleh Suparto Wijoyo*

ALHAMDULILLAH, Ramadhan 1447 H datang, ‘disambut’ perayaan Imlek 17 Februari 2026, tahun 2577 Kongzili. Berdasarkan astrologi China, tahun 2026 ini sebagai Tahun Kuda Api. Tahun yang merefleksikan kelincahan yang penuh semangat, tahun yang menggambarakan beragam gerak juang meraih kemakmuran, bukan sekadar keberuntungan, karena di dalamnya ada api yang melambangkan kekuatan berusaha yang membara.  Kepada Saudara-saudaraku Tionghoa terluncurlah ucapan dengan disertai doa: Gong Xi Fa Cai alias Xin Nian Kuai Le (新年快乐) atau Xin Nian Hao (新年好): Tahun Baru yang sangat baik. 

Kebaikan ini semakin sempurna dengan hadirnya bulan Ramadhan, bulan yang disucikan, bulan yang amat dimuliakan umat Islam. Bulan yang memberikan harapan dan kenyataan yang diperjanjikan, yang syarat kemuliaan, bahkan kemakmuran. Lihat saja nanti selama perjalanan Ramadhan. Sambutan umat sangat kentara. Persiapannya sedemikian rupa sehingga nuansanya diwarnai kemeriahan. Lampion-lampion Imlek memperkaya ornamen Ramadhan 1447 H. Kekayaan sosial terbangun penuh suka cita. Sepekan menjelang Ramadhan tahun ini, saya sudah merasakan detak jantung hajatan puasa di mana-mana. Perjalanan saya ke Makasar diliputi paduan kultural yang menandakan kerukunan. Warna merah menyala ala Imlek berpadupadan dengan nuansa sambutan kedatangan tamu agung Ramadhan yang menawarkan sajian-sajian iftar. Hotel-hotel dan restoren dihiasi ”keragaman yang manunggal” warna Imlek dan Ramadhan. Di Lombok NTB demikian pula adanya. Begitu pun di Banjarmasin yang semarak berbagai hajatan bershalawat maupun haul-haul akbar yang dilaksanakan dengan kekhusukan paripurna. Geliat ekonomi sontak membuncah dengan aneka jajanan yang dihelat sepanjang jalan dekat acara. Mall-mall di Jakarta juga ramai, termasuk di Surabaya.

Pada 17 Februari, saya kembali sampai di metropolitan. Langsung bersambung ke Kantor MUI Provinsi Jawa Timur yang menggelar agenda Pra Raker MUI Jawa Timur. Rapat yang gelar untuk membentuk kelembagaan yang mengoperasikan berbagai aktivitas MUI ke depan selama lima tahun. MUI Jawa Timur mempersiapkan program kerja dengan sungguh-sungguh yang dihadiri pengurus harian lengkap. Persaudaraan dan kerukunan umat mesti dijaga. Guyup rukun nan kompak, rancak menjemput puasa Ramadhan yang digelorakan seluruh peserta dengan memberikan ucapan Marhaban ya Ramadhan 1447 H. Sontak hal ini melarutkan suasana lebih spiritual untuk menghormati hari-hari berpuasa Ramadhan.

Sungguh masa tarikh setahun rentang waktu Ramadhan 1446 H ke 1447 H terasa singkat. Hal ini saya yakini karena padatnya gerak ikhtiar setiap manusia modern yang memiliki ”jam terbang” tiada henti berkhidmat. Kesibukan tersebut terjadwal rapi dan setiap hari tiada waktu luang kecuali untuk ”menghambakan diri” menjalankan tugas masing-masing dalam profesi yang digeluti. Tiba saatnya bulan Ramadhan hadir dengan panggilang yang terus terngiang. Deret waktu setahun yang lalu menjadi kenangan yang monumental dalam balutan Ramadhan 1447 H. Komunikasi dengan Redaksi Harian Duta Masyarakat terjalin kembali. Bersambung lagi untuk menebarkan memori serta prediksi tentang apa yang selalu unik di Ramadhan 1447 H ini. Memotret dan merekam setiap kejadian peribadatan yang sangat berdampak sosial ini, melalui tulisan untuk disebarluaskan kepada pembaca dalam kolom khusus yang diberi nama Talbiyah Ramadhan.

Memang talbiyah (لَبَّيْكَ) memiliki makna lughowi memenuhi panggilan, yang lazim ditempatkan dalam koridor sebagai bacaan saat ihram haji atau umrah, dengan ungkapan dengan lafadz terindah: “Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak”.  Inilah doa yang amat populer dilantunkan dengan tuntunan jiwa-jiwa bersukma mulia yang terpanggil untuk menjalankan ibadah haji dan/atau umrah. Siapapun akan meneteskan air mata ruhaninya yang tersembunyi dalam ekspresi keterpanggilan yang sangat teologis ini.

Demikianlah Ramadhan yang di dalamnya dialiri panggilan-panggilan spesial bagi orang-orang yang beriman. Panggilan yang khusus, super khusus dan memiliki supremasi spesifik. Bacalah Perintah puasa yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183: yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn. Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Panggilan ini berbobot khos, khusus panggilan puasa Ramadhan itu hanya bagi orang-orang yang dikualifikasi beriman. Saya percaya para pembaca adalah orang-orang khusus yang terpanggil untuk beramadhan. Panggilan yang menyempurnakan seruan sejak kaum sebelum kita.

Inilah talbiyah ramadhan, bulan yang menurut sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kewajiban di bulan yang lain”. Selamat ber-ramadhan.

*SUPARTO WIJOYO adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry