SEMARANG | duta.co – Ketua JMQH Kota Semarang, Nailul Izzah AH mengatakan, Jamiyyah Mudarasatil Qur’an lil Hafidzat (JMQH) bukan sebatas perkumpulan ibu-ibu untuk bertadarus, lebih dari itu memiliki visi-misi yang jelas.

“Ini saya dipeseni untuk menggencarkan sosialisasi tentang visi misi JMQH,” kata Nailul saat memberikan sambutan peringatan hari lahir (Harlah) kedua JMQH Kota Semarang di Pondok Pesantren (Ponpes) Durrotu Ahlissunnah Wal-Jama’ah (Durrotu Aswaja/PPDA), Banaran Gunungpati Kota Semarang Jawa Tengah, Ahad (28/11/2021) pagi.

Dia menyebut misi itu antara lain misinya memperbaiki bacaan Al-Qur’an sebagaimana perintah untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, memahami isi Al-Qur’an, dan membina keluarga sakinah dengan generasi penerus penghafal Al-Qur’an, “Gerakan baca tartil, gerakan buka tafsir, membina keluarga sakinah dan mencetak generasi penghafal Al Quran,” jelasnya.

Ia lantas mengungkapkan sekilas sejarah pendirian JMQH sudah dideklarasikan pertama kali pada tahun 1975. Saat itu baru diikuti para hafidzah yang ada di Kabupaten Pati. Namun perkembangannya tidak sesuai dengan harapan sehingga Ketua Umum JMQH Umi Maftuhah, AH medeklarasikan ulang pada tahun pada 15 Rajab 1432H atau 17 Juni 2011 di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), “Sejak kegiatan di MAJT banyak kabupaten/kota dideklarasikan,” ungkapnya.

“Umi Maftuhah saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan deklarasi JMQH, semoga semakin banyak deklarasi JMQH. Hafidzah berkiprah, Indonesia barokah,” tegasnya.

Memberikan taushiyah, Ning Nawal Arafah Yasin menerangkan, perbedaan syafaat Al-Qur’an dengan shalawat yakni syafaat Al-Qur’an bukan hanya pada pembacanya saja, tapi juga keluarga. Dia tegaskan ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah, ahlul qur’an ahlullah. (rif)

Keterangan Foto: Pengurus JMQH Kota Semarang memotong tumpeng perayaan Harlah kedua. (rif)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry