Oleh: Suparto Wijoyo*

APA yang terucapkan adalah manifestasi pikir dan batinnya. Gelegak kekeruhan dan keriuhan keadaan yang bersumber dari suaranya mencerminkan kelas kerumun pendengarnya yang nyawiji dengan pemilik pangucap.  Jiwa-jiwa kesatria  tidaklah bebas mengucapkan kekesalannya, karena ada mandat atas dirinya. Pelajaran budi pekerti  selalu ditanamkan kepada para murid yang mengenyam bangku sekolahan. Bersekolah berarti mendidikan diri untuk meningkatkan derajat tingkah lakunya. Kaum priyayi memang tidak sama dengan rakyat kebanyakan tetapi sejatinya priyayi akan menjeburkan ruhaninya pada kawulanya. Prajurit beda dengan komandan yang tingkat celotehnya  menandakan karakternya.

Tatkala ada tokoh mengumbar kata “berantem” kepada pecintanya tentu beragam narasi bisa dihasilkan. Konstalasi diri serta kosmologi pergaulan batinnya  terekam jejaknya: dengan siapa selama ini bergaul sehingga keberanteman menjadi kata yang sangat fasih diucapkan. Senyampang kata “berantem” dihadirkan dalam panggung kekuasaan dengan rentetan kekesalan sebelumnya berupa kata “gebuk” sewaktu lagi gandrung kebhinnekaan dan seolah  paling Pancasila. Kata gebuk hadir dari bilik kekuasaan untuk selanjutnya menyebar ke lapangan bangsa. Dua kata yang menyimbulkan tindak ekspresif yang sangat badaniyah. Pengunggahan istilah yang tiada kritik mengakibatkan hal itu dianggap sebagai “kata sakti”.

Gebuk dan berantem telah bersemliwer meski tidak bagus untuk menjadi referensi politik santun. Suasana selanjutnya sedikit teduh sampai munculnnya kata sontoloyo. Muatan istilah yang marak di tahun 1940 dengan tulisan Islam Sontoloyo Bung Karno dalam menyuarakan kekesalan yang sangat tematik tetapi tidak menjalar dalam ruang pemerintahan. Kini kata sontoloyo bermuatan ejekan yang menghunjam dengan tetap disemat penuh tepukan para pendukung yang menunjukkan keberpihakan vulgar.

Khalayak akhirnya tak kuasa untuk menepikan sontoloyo yang sudah terlanjut berjalan beriring di tengah jalur yang disambut  kata genderuwo. Inilah julukan yang sangat menyeramkan dengan detak ketakutan sebagaimana anak-anak yang bermain dengan debar malam yang mencekam atas  hadirnya genderuwo, hantu artifisial yang dicetak pikiran. Keadaannya semakin beronak dengan debur yang membuyarkan isi  kampanye yang mencerdasan dengan disuntingnya  kata tabok. Ya menabok adalah bentuk bertindak sementara tertabok berarti pengorbanan sedangkan tabokan menandakan aksi berlawanan.

Simaklah semua kata tersebut dalam bingkai jiwa nan batinmu. Sudikah orang-orang bernalar sehat untuk melakukan tindakan-tindakan itu selama semua urusan berbangsa dan bernegara ini dapat dirembug. Para  pemimpin ojok sampek bermetamorfosos menjadi penguasa yang  “mengusik” ketenangan siapa saja. Kalau kalian tidak mempan diajak  berantem maka dirimu tak jua boleh  disontoloyokan  untuk diperlihatkan sepasukan genderuwo yang menabok  kewajaran. Sejatinya rakyat ini sudah sering ditabok dengan kenaikan TDL, BBM dan sembako yang semakin semarak di pasaran. Kebijakan kenaikan barang-barang itu berbarengan dengan rupiah yang nyungsep dan dolar yang melangit. Itulah sesunguh-sungguhnya genderuwo. Apabila hal ini belum mempan menaklukkanmu, maka akan ada langkah berikutnya berupa jaring-jaring pasal yang bisa ditebar atas nama penegakan hukum.

Tariklah nafas dalam-dalam agar kita tidak turut dalam kelindan kata kekerasana verbal yang amat terang. Kalaulah kekuasaan yang diperoleh dengan pemilu berbiaya triliunan itu mengakibatkan kekerasan di antara kita,   buatlah apa pemilu itu. Pemilu yang berbasis kata kekerasan tidak elok diselenggarakan karena pemilu itu harus mampu mendidik dengan kecerdasan. Pemilu yang tidak mencerdaskan terkesan akan ada keculasan dan sampai di sinilah kita bertanya: untuk apa semua itu dihelat  apabila perilaku santun kian terjauhkan. Suasananya semakin mengikis nilai kewarasan dengan beragam argumen dangkal sambil memunculkan kehendak untuk membuat formasi pilihan yang nyoblos adalah orang-orang gila dengan stadium berapa pun. Antara yang waras dan yang gila memiliki bobot sama dalam satu tarikan suara. Sebuah komparasi yang ganjil.

Tentu pembaca akan terus menjaga diri dengan tetap berpedoman sebagaimana dalam judul tulisan ini. Kita tidak perlu menjadi petinggi yang selalu dicitrakan berkedudukan tinggi melalui segala cara yang dikuasai. Dalam lingkup ini saya teringat puisi Conrad Aiken  dalam bukunya Twentieth Century American Poetry tahun 1949 yang menarik perhatian sastrawan besar, pelopor angkatan 45, Chairil Anwar seperti ditulis H.B. Jassin (2018). Puisi Preludes To Attitude alias Fragmen memberikan pesan yang sangat aksiomatik bagi saya:

Kau asing, aku asing

Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah bersilang

Kau menatap, aku menatap

Kebuntuan rahasia yang kita bawa masing-masing

Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung?

Lupa diri terlambung tinggi

Semua itu karena perebutan kekuasaan yang oleh Raja Balkh, Ibrahim bin Adham dibuangnya. Ibrahim bin Adham yang wafat tahun 782 M ini memiliki keterpanggilan batin untuk berkelana  menjadi manusia biasa tanpa  kekuasaan. Dia lempar kemegahan kerajaan dengan mengenakan jubah robek penuh tambalan. Tapi ketahuilah bahwa yang ngeladeni orang alim ini  tidak terbatas pada manusia melainkan angin, awan-tanah dan hujan berebut membaktikan dirinya.

Para pecinta kisah-kisah sufi sangat mafhum bagaimana Ibrahim bin Adham sewaktu hendak menambal jubahnya yang terobek di tepian sungai Tigris, tiba-tiba jarumnya terjatuh ke sungai yang mengalir deras. Orang yang menyaksikan terus bergumam merasa sedih dan membatin: nasib apa yang dialami oleh Ibrahim bin Adham, dari penguasa nomor satu dalam imperium besarnya, kini terlunta dalam perjalanan dengan busana  jubah penuh tambalan, dan  jarumnya pun tidak sudi bersahabat dengannya. Tuhan benar-benar mencabut semua nikmatnya. Begitu pikir awam yang melihat dengan kasat mata jasadnya, tetapi “kelam ruhaninya”.

Selanjutnya apa yang  terjadi. Ibrahim bin Adham cukup mengucap lirih dengan penuh iman, “kembalikan jarumku”. Sontak berpuluh-puluh ikan datang menyodorkan jarum emas untuk dipersembahkan kepada sang maulana. Dia mengulang ungkapannya, kembalikan jarumku: seekor ikan anakan melompat mendekat sambil menyerahkan jarum milik “pangeran pengelana” ini. Subhanallah.

*Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry