Pak Harto (foto kiri bawah) saat menyampaikan kesiapan untuk mundur: Tak Jadi Presiden Ndak akan Patheken. (ft/net)

SURABAYA | duta.co – Pidato Presiden HM Soeharto, Minggu (4/6/23) kembali viral di media sosial. Durasinya pendek, cuma 05:00 menit. Video itu diambil dari C-SPAN (Cable-Satellite Public Affairs Network) sebuah saluran televisi 24 jam Amerika Serikat yang sering menayangkan kegiatan parlemen AS.

Video tersebut diunggah oleh para pengagum Soeharto alias soehartois. Tampak Pak Harto merespon keadaan (situasi) yang ‘runyam’ akibat desakan atau gerakan massa yang menuntut reformasi tahun 1998.

Pak Harto kemudian mengumpulkan sejumlah tokoh dan ulama. Tampak Gus Dur (KH Abdurahman Wahid), Cak Nur (Prof Dr Nurcholish Madjid ), Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), KH Ali Yafie, KH Ma’ruf Amin, Prof Dr Malik Fadjar, dll.

“Ini hari saya mengadakan pertemuan dengan beberapa ulama dan (sudah) tokoh-tokoh masyarakat dan (sudah) pimpinan ABRI,” demikian Pak Hartono mengawali pidatonya tanpa basa-basi.

“Antara lain, saya minta beberapa pandangan dan nasihat (untuk) menghadapi situasi keadaan negara yang sama-sama telah kita alami dan, sama-sama kita ketahui keadaan sekarang ini. Tentu semua ini adalah memprihatinken sekali dari pada kita yang mempunyai rasa tanggungjawab terhadap keselamatan negara dan bangsa ini,” tegasnya.

Pak Harto juga menyinggung soal tuntutan mundur. “Diantara lain adalah, ada keinginan-keinginan agar supaya saya mundur dari kedudukan sebagai presiden. Hanya masalahnya, bagi saya, sebetulnya mundur dan tidaknya, itu tidak menjadi masalah. Yang perlu kita perhatikan itu, apakah dengan kemunduran saya itu, kemudian segera keadaan ini akan bisa diatasi,” tanyanya.

“Sebab bagi saya, soal kedudukan presiden adalah bukan soal yang mutlak bagi saya. Sebelumnya saya sudah mengataken, apakah benar, rakyat Indonesia itu masih percaya pada saya? Karena saya sudah umur 77 tahun. Agar supaya dicek benar-benarlah dari pada semua itu,” sarannya.

“Dan ternyata bahwa semua kekuatan politik, PPP, PDI, Golkar maupun juga ABRI, mengatakan, memang benar sebagian besar daripada rakyat, itu masih menghendaki agar supaya saya menerima, mencalonkan kembali sebagai presiden untuk masa bhakti 1998 sampai dengan 2003,” tegasnya.

Dengan rasa tanggungjawab, jelas Pak Harto, saya terima. Bukan karena kedudukannya, tapi karena tanggungjawab. Lebih-lebih pada saat kita menghadapi kesulitan akibat berbagai krisis tersebut. “Rasa-rasanya kalau saya meninggalkan begitu saja, lantas bisa dikataken, tinggal gelanggang colong playu. Berarti  meninggalkan dari pada keadaan  yang, sebenarnya saya masih harus turut bertanggungjawab,” tambahnya.

Sekali lagi, kata Pak Harto, bahwa, soal mundur bagi saya tidak masalah. Hanya masalahnya rasa tanggungjawab, saya perlu memikirken bagaimana negara dan bangsa kita. “Jadi, saya andaikata belum mengambil keputusan mundur, bukan karena saya tidak mau mundur, tidak.  Tapi bagaimana agar supaya kemunduran saya  ini, negara dan bangsa hendaknya konstitusi kita tetap bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Berarti Pancasila dan UUD 1945 pun tetap bisa dijalanken.”

Sebenarnya Rakyat Tidak Mau Salah

Pak Harto juga menegaskan siap mundur. “Saya punya pendirian untuk tidak menjadi presiden, saya bertekad mandhito dalam arti saya akan lebih dekat dengan Tuhan, kemudian mengasuh anak-anak dengan sebaik-baiknya, supaya menjadi warga negara yang baik. Kepada masyarakat saya akan memberikan nasihat, kepada negara dengan sendirinya, tut wuri handayani, menggunakan segala apa yang kita miliki untuk membantu dan negara tersebut.”

Jadi, pungkasnya, demikianlah. “Ada juga yang mengataken, terus terang saja ini dalam bahasa jawanya: Tidak Menjadi Presiden Ndak akan Patheken,  Jadi kembali kepada warga negara biasa, itu tentunya juga lebih terhormat, tidak kurang terhormat dari pada presiden, asalkan bisa memberikan pengabdian kepada negara dan bangsa.”

Presiden Soeharo juga berpesan jangan sampai ada hasutan kepada rakyat. Karena rakyat itu, sesungguhnya tidak ingin berbuat salah. “Saya mengharap agar semuanya dapat dimengerti, mulai rakyat yang sesungguhnya hentikan segala kegiatan-kegiatan yang akhirnya membawa akibat dari pada penderitaan dari pada rakyat kita. Dengan menghasut lantas mendorong, rakyat untuk berbuat salah.”

“Dan sebenarnya, rakyat itu tidak mempunyai jiwa untuk berbuat salah, tetapi karena kemudian dihasut, didorong dan sebagainya lantas sampai lupa. Dan ini harus kita akhiri, karena bisa membawa nama dan martabat dari pada bangsa kita. Sekali lagi, terima kasih atas perhatian dari pada para wartawan dan saudara-saudara para ulama,” pungkasnya. (mky, net)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry