JAKARTA | duta.co – Wartawan senior Hersubeno Arief bisa memahami kalau Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) itu marah menyaksikan politik adu domba. “Saya melihat Pak Jk tidak hanya marah, karena dia difitnah dan nyaris pecah belah antarumat beragama. Ini berbahaya. Ujungnya banyak pendeta dukung Pak JK,” tegas Hersu panggilan akrabnya kepada duta.co, Minggu (19/4/26).

Menurut Hersu, fitnahnya (kepada Pak JK) luar biasa, sampai urusan bisnis dia dibongkar-bongkar. Dikatakan punya utang Rp30 triliun di Bank Himbara. “Ini sudah keterlaluan dan menghalalkan segala cara,” tegasnya.

Ia merunut kronologisnya. Awalmya Jk melaporkan Rismon ke Bareskrim Polri tanggal 8 April dan disitu dia sebut Jokowi harus segera menunjukkan ijazahnya yang sudah buat kegaduhan selama 2 tahun, pecah belah bangsa, saling maki di TV  antarpendukung. “Tiba-tiba tanggal 12 April Sahat Martin Philip Sinurat, Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) melaporkan Pak JK ke Polda. Sebelumnya ada 2 pemotongan vedio ceramah Pak JK di Masjid UGM. Ini sangat berbahaya,” tambahnya.

Setelah itu, jelas Hersu, Bestari Barus, Ketua PSI Ketemu Jokowi di Solo dan bilang Jokowi menertawakan JK, bahkan hampir terbahak. Jokowi (katanya) malah minta Pak JK tunjukkan ijazah dan surat nikahnya. “Ya bisa dimaknai mereka memfitnah dan mengadukan itu atas suruhan JKW, atau setidaknya inisiatif pendukung Jokowi yang oleh JKdisebut juga Termul

“Walau tidak serang langsung JKW, tapi kata-kata Termul ini, sinyal perang bubat. Keributan ini merugikan JKW karena soal ijazahnya jadi tambah rame.  Jadi Pak JK tidak hanya marah karena dia difitnah. Dan ini nyaris pecah belah antarumat beragama,” tegas Hersu.

Ceramah Jusuf Kalla (JK) di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) memang berujung laporan polisi oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). JK dipolisikan karena dianggap telah menistakan ajaran Agama Kristen lewat ceramahnya yang bertajuk ‘Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar’.

Dalam ceramahnya, JK menyinggung konflik Poso dan Ambon, serta menyebut kedua pihak yang bertikai kerap merasa tindakan membunuh dilandasi keyakinan ‘syahid’. “Ada juga (konflik) karena agama… kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang itu syahid,” kata JK.

Ia juga menegaskan tidak ada agama yang membenarkan pembunuhan. “Tunjukkan sama saya, agama Islam dan Kristen, yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Tidak ada,” ujarnya.

Tidak ada yang salah dalam ceramah itu. Wajar kalau Jusuf Kalla mengeluarkan kekesalannya, apalagi adanya laporan polisi mengenai video ceramahnya tentang ‘mati syahid’ di UGM. JK oleh wartawan ditanya apakah dia merasa dipolitisasi atau tidak dengan adanya kasus ini.

Lalu, JK menjawab dengan mengatakan dirinya tidak mau berspekulasi. Namun, dia merasa masalah ini muncul setelah dia melaporkan Rismon Sianipar ke polisi terkait tudingan mendanai kasus ijazah Jokowi.

JK mengungkapkan dia beberapa kali dihubungi oleh Rismon dan Roy Suryo, namun selalu dia tolak, karena dia ingin berada di posisi netral, mengingat kasus tudingan ijazah palsu Jokowi sedang ramai. Dia pun mengungkapkan kekesalannya tentang masalah ijazah palsu ini yang berlarut-larut sehingga menyeret sejumlah nama.

“Ini soal Rismon ini sudah melibatkan semua orang, dituduhlah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja. Jadi saya marah kenapa? Apalagi saya dituduh kasih Rp 5 M, mana saya kasih Rp 5 M? Ketemu aja tidak tahu saya, kenal pun tidak. Ini buktinya WA-nya. Tidak saya bilang,” kata JK saat jumpa pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026) sebagaimana diunggah detik.com.

JK pun bicara mengenai peran pentingnya dalam karier politik Jokowi. JK mengatakan dia adalah orang yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta. Ia mengatakan bahwa dirinyalah  yang menyodorkan nama Jokowi ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta). Bahkan, dia juga mengatakan Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI karena dirinya. “Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya,” tegas JK.

JK juga mengatakan Jokowi jadi calon presiden saat itu juga karena dirinya yang menjadi calon wakil presidennya. Menurutnya, saat itu, Megawati tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi kalau bukan JK wakilnya. “Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, “Eh belum cukup pengalaman jangan, nanti rusak negeri ini.” Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya.”

“Nah dua tahun dia Gubernur, oke silakan, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, ‘Eh belum cukup pengalaman jangan, nanti rusak negeri ini’, Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya,” katanya.

Menurut JK, saat itu Megawati ingin JK membimbing Jokowi. “‘Kenapa Bu saya mesti wakil?’, ‘karena Pak JK yang paling berpengalaman, bimbinglah dia’. Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilag ‘jangan, Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf’. Ya bukan saya minta, bukan. Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzer buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya, ngerti?” imbuh JK.

Terkait polemik ijazah palsu, JK pun meminta Jokowi membuka ijazahnya. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut. “Sudahlah Pak Jokowi, sudahlah. Kasih lihat ijazah saja. Itu saja. Timbul lagi, sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya yakin itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat berkelahi sendiri, saling memaki masyarakat dua tahun,” tutur Pak JK. (mky,dtc)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry