Oleh: Suparto Wijoyo *

DI PINGGIR-PINGGIR kota dan di pojok-pojok halaman yang ramai oleh kerumunan orang di Surabaya –sejak peristiwa meledaknya bom di hari Ahad-Senin, 13-14 Mei 2018– kini, ramai spanduk dipasang memenuhi ruang kawasan. Narasi dan pesannya serupa dengan nada yang khas Kota Pahlawan: Teroris Jancuk. Saya pun super setuju dan mafhum. Sebuah unggahan kosa kata yang melambangkan kegeraman. Melalui peran akademik yang melekat,  dalam kelas-kelas perkuliahan, saya membuka dengan doa bersama bagi keselamatan umat manusia, sambil mendedar keriuhan jiwa yang mendesahkan luka, duka, dan derita atas kejadian yang menistakan kemanusiaan.

Ruh yang semburat dari raga yang menyerta dalam bunyi ledakan bom merupakan wujud tindakan nirnalar pelakunya atas nama apa pun. Apalagi membawa-bawa seruan agama. Rasa khawatir dan gelisah seketika menimpuk kaum beriman di kala bisikan keras itu diikuti telunjuk yang serempak bahwa pelakunya beragama Islam. Sebagai pengiman dalam kemilau tauhid atas risalah Nabi Muhammad saw, tentu semakin tertindih sedih. Arah kebijakan kian kentara ke mana cibiran hendak dilayangkan, selanjutnya fitnah atas Islam semakin dibungkus penuh kebencian.

Dalam pekan ini dan hari-hari mendatang, saya khawatir akan tampak langgam yang nyaris sempurna, gentar hendak ditebar mengikuti irama gelegar yang sumbunya berasal dari kaum yang tengah memungut atribut para teroris.  Mereka mengenakan ‘lencana’ iman yang terlihat sangat Islami, hingga seluruh sorot mata publik membuncah emosinya dengan membawa-bawa Islam. Agama yang oleh Allah swt difirmankan sebagai “penyempurna ajaran-Nya” dengan sebutan Rahmatan Lil ‘Alamin, hendak ditagih janjinya. Pemeluk berkopyah, berjenggot, bersurban, berhijab, serta yang bercadar pun memberikan ‘cuwitan’ atas ngerinya situasi yang menimpa. Dan kaum penebar teror itu sesungguhnya bukan representasi kaum muslimin wal muslimat.

Semua orang yang cerdas dan berkewarasan amatlah paham betul betapa damainya ajaran Islam. Dalam agama ini terliterasikan semua sendi kehidupan, dari urusan yang sangat remeh-temah dalam keluarga sampai bagaimana melakukan pergaulan bernegara, hingga rute jalan ke surga. Semua diberi pengajaran dan tuntunan. Kemanusiaan yang dijunjung penuh kemuliaan telah diberikan pedoman oleh Rasulullah yang telah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dalam diri Rasulullah saw itu terdapat teladan paling lengkap, karena Nabi Muhammad saw memang uswatun hasanah. Untuk itulah gelombang sirahnya harus terus diupayakan agar setiap pengikutnya menjadi ‘duta kenabian’ yang memperkenalkan Islam sebagai agama kedamaian, agama yang dipanggul pemilik iman yang berlaku penuh kemuliaan.

Jalan surga yang ditawarkan oleh Islam amatlah mudah. Anda menyingkirkan duri di jalan, bersedekah, bahkan cukup memberi senyum kepada sesama, tiket ke surga sudah ada dalam genggaman. Para pengiman Rasulullah Muhammad saw bekerja keras membangun keluarga dan bermanfaat bagi sesama merupakan ‘pundi-pundi’ asupan meraih surga. Bukankah kita semua telah lama mendengar dan suka-suka ‘mendendangkan’ sinambi leyeh-leyeh tentang sabda bahwa ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya’. Sudahkah kita di hari ini, saat ini, bermanfaat bagi sesama, sesama manusia atau sesama hamba Allah swt? Anda sirami bunga dan rumput-rumput di tanam, Anda rapikan pakaian, Anda santuni sanak-saudara, handai taulan, Anda beri sungging manis dan ucapan salam kepada yang kau jumpai, adalah manifes akhlak mulia yang memartabatkan Islam.

Sejatinya sangatlah gamblang soal laku sederhana yang menunjukkan ketinggian adab umat Islam, dan teror tentu saja amatlah jauh dari pengajaran Islam. Gelegar dari bom di mana pun di dunia merupakan bentuk tindakan brutal yang anti-kemanusiaan dan iman. Setiap dentum bom yang menggelar dan mengguncang jiwa ataupun raga adalah manifes kejahatan yang paling keji. Penyebar ketakutan  adalah kemunkaran dan wajib ditindak tegas. Dan selama ini dentum itu sejatinya telah lama terpentaskan dalam panggung yang merisaukan kaum beriman. Dentum bom itu terus mengoyak kemanusiaan dan sangatlah tidak pantas disemat oleh orang-orang beragama. Bom yeng tiap hari digelar di Palestina, adalah penistaan agama. Bombardir yang mengoyak Iraq, Libya, Afghanistan, Rohingya, serta negara-negara merdeka dan berkedaulatan, kemudian dintervensi atas nama hukum-hukum internasional sepihak, pastilah jauh dari ajaran  keberadaban.

Dalam situasi bulan Ramadan ini, saatnya saya bertanya kepada diri sendiri. Pendengaran siapa yang terlalu lama tersumbat sehingga baru dapat mendengarkan suara-suara tangis yang lirih tentang ketidakadilan. Setiap jiwa yang hanya mampu mendengar sebuah ledakan dan mengabaikan setiap yang lirih sejatinya itulah batas kepedulian yang terbangun olehnya. Teror itu mendentumkan dan melayangkan jiwa secepat yang direncanakan, sebuah kedurjanaan yang dengan mudah untuk disulut dalam kelambu penuduhan: Islam agama pelakunya.

Adakah kita mendengar keriuhan yang tidak terkatakan akibat satu keluarga yang menguasai beribu-ribu dan berjuta-juta hektare ranah Ibu Pertiwi, bagaimana perihnya menyaksi bermiliar ton emas-tembaga dikeruk dari gunung-gunung yang menjulang itu. Lantas, nilailah pendirian ‘toko-toko’ yang tidak mengenal ‘toleransi’ atas peracangan di gang-gang sempit yang semakin menyesak, dan orang putus asa itu memilih nenggak cukrik, mereka mati, mereka meneror diri sendiri, di kala yang kuat tidak terjamah.

* Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

 

 

 

Tinggalkan Balasan