Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, Sutrisno Bachir berbicara dalam acara Dialog Ekonomi bersama para calon wisudawan Uinsa, Selasa (10/9). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Balai Latihan Kerja (BLK) perlu terus dikembangkan. Bukan hanya di BLK yang selama ini, tapi harus menyentuh hingga ke pondok pesantren (ponpes) dan kampus-kampus terutama kampus berbasis Islami.

Namun BLK itu harus diberi sentuhan lain bukan seperti yang selama ini ada. Harus ada nilai plus yang ada di dalamnya. “Jadi BLK Plus. Apa plusnya? Plusnya diberikan modul-modul dan kurikulum kewirausahaan secara benar. Bukan hanya terampil tapi juga ada ilmu secara teorinya, ada kurikulumnya. Sehingga wirausahawan itu bukan hanya karena keturunan tapi juga karena pendidikan, bisa dipelajari lah,” ujar Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Sutrisno Bachir.

Sutrisno berbicara di depan para calon wisudawan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa) di Auditorium kampus setempat, Selasa (10/9). Dalam kesempatan itu, Sutrisno meminta Uinsa segera memiliki BLK plus ini. Karena itu sangat penting bagi para lulusan.

“Jadi outputnya bukan hanya ijazah tapi keterampilan yang bisa langsung diterapkan ketika mahasiswa sudah lulus,” tandasnya.

Dengan begitu, kata Sutrisno, nantinya akan muncul lulusan-lulusan yang bisa berwirausaha dari kalangan muslim.  Sehingga nantinya jumlah pengusaha muslim di Indonesia ini terus bertambah. Dan upaya-upaya pemerintah dalam mengembangkan program ini bisa berjalan maksimal.

“Apalagi banyak program pemerintah untuk membantu para pengusaha pemula ini. Nantinya dana-dana itu bisa disalurkan melalui wirausahawan-wirausahawan muslim terutama dari dua organisasi besar yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,” tukasnya.

Diakui Sutrisno, dirinya sudah menyampaikan program BLKPlus ini kepada Presiden Jokowi dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Hanif Dhakiri. Pemerintah sangat menyetujui program ini dan akan segera merealisasikannya.

“Karena kenyataannya jumlah pengusaha Indonesia ini hanya 1,7 persen dari total penduduk. Dan mayoritas bukanlah muslim,” tuturnya.

Di era teknologi ini, kesempatan untuk menjadi pengusaha semakin berkembang. Bahkan para perempuan muslimah pun berkesempatan untuk berwirausaha tanpa meninggalkan kodratnya sebagai istri dan ibu rumah tangga.

“Makanya semua bisa bergerak menjadi pengusaha. Jangan takut memulai. Karena menjadi pengusaha itu harus bisa nekat,” tandas Sutrisno.

Selain Sutrisno, acara tersebut juga menghadirkan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, Sulaiman. Dalam hal ini, Sulaiman menekankan pada pentingnya kejujuran untuk bisa sukses menjadi wirausahawan.

Karena tanpa kejujuran, semua itu mustahil bisa diwujudkan. “Amanah itu penting, sangat-sangat penting,” tandasnya.

Para calon wisudawan Uinsa tidak hanya diberikan pencerahan tentang wirausaha. Mereka juga diberikan konsultasi job carrier bersama para psikolog handal. “Ke-1.200 wisudawan dari 45 prodi di sembilan fakultas itu diharapkan nantinya bisa memanfaatkan ijazah dan keterampilan yang dimiliki untuk bisa berkarier dan mengabdi pada bangsa dan negara,” jelas Plt Rektor Uinsa, Dra Wahidah Br Siregar. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry