BAHAS INTOLERAN: Alissa Wahid (berkerudung) bersama Dr Achmad Muhibbin Zuhri (lima dari kanan), Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Iqbal (empat dari kiri), Wakil Ketua DPRD Surabaya Masduki Toha (tiga dari kiri) pada seminar di Kampus B Unair, Senin (16/1/2017). (duta/wiwiek wulandari)

SURABAYA | Duta.co – Berdasarkan survei jaringan Gusdurian Indonesia, masyarakat Indonesia memiliki tingkat toleransi rendah. Mereka menganggap kelompok yang tak sepaham sebagai musuh. Paham ini menjadi sikap yang tumbuh subur. Intoleransi pun jadi penyakit yang bisa merongrong heterogenitas Indonesia.

Sekretaris Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Munawaroh (Alissa Wahid) mengatakan, pihaknya telah melakukan survei secara ofline dan survei sosial media di enam kota besar di seluruh Indonesia.

“Enam kota tersebut meliputi Surabaya, Bandung, Makassar, Jogjakarta, Pontianak, dan Semarang,” ujarnya dalam seminar bertema “Surabaya Outlook 2017: Menolak Intoleransi, Melawan Radikalisme” di Aula Prof Soetandyo Gedung C Fisip Kampus B Universitas Airlangga, Senin (16/1).

Survei yang dilakukan September sampai November 2016 itu, menurut Alissa, dilakukan bekerja sama dengan International NGO Forum On Indonesian Development (INFID). Survei bertujuan, pertama, merekam persepsi anak muda terhadap radikalisasi agama dan ekstrimisme dengan kekerasan melalui survei. Kedua, mengetahui narasi besar ekstrimisme, memahami pesan-pesan kunci ekstrimisme, dan mengetahui pola penyebaran pesan ekstimisme melalui pemetaan internet dan media sosial.

Survei dilakukan dengan wawancara atau tatap muka langsung dengan 1.200 responden terpilih di enam kota besar Indonesia tersebut. Responden ini berumur 15-30 tahun dengan perbandingan jenis kelamin berimbang.

Dari hasil survei, kata adik Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) ini, ditemukan mayoritas generasi muda (88,2 persen) sangat tidak setuju dengan kelompok agama yang menggunakan kekerasan. Sementara generasi muda yang setuju dengan kelompok agama yang menggunakan kekerasan hanya 3,8 persen. Sisanya 8 persen tidak tahu dan tidak menjawab.

Hasilnya, meski ada kecenderungan penurunan toleransi di kalangan anak muda, tetapi mayoritas anak muda tidak menyukai tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama. Mereka beranggapan, amaliyah agama tidak akan suci jika dilakukan dalam bentuk terorisme dan kekerasan.

“Jadi mereka ini tidak setuju terhadap terorisme, kekerasan dan segala bentuk macam praktik yang merugikan orang lain,” terang Alissa Wahid.

Namun sayang, sikap terhadap kelompok lain cenderung intoleran. Sikap intoleran ini ada dua kecenderungan, yakni memandang kelompok lain yang tak sepaham sebagai musuh, tetapi mereka tidak setuju dengan kekerasan. Alissa Wahid memandang, dua hal ini harus disikapi secara arif oleh negara dan masyarakat yang peduli terhadap multikulturalisme.

Alissa juga menyampaikan, peran media sosial saat ini turut mempengaruhi praktik bernegara dan bermasyarakat, terutama mengenai ekstremisme. Sering ada cuitan di sosial media yang menyatakan kelompok tertentu terzalimi, tertindih, sehingga harus melakukan perlawanan.

Dua Situasi ‘Simalakama’

Bicara pada forum yang sama, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya Dr Achmad Muhibbin Zuhri yang hadir sebagai pemateri menyampaikan, masyarakat saat ini sedang menghadapi dua situasi.

Pertama, ada gerakan yang menegakkan akidah dan bersikap intoleransi serta mengabaikan kebhinnekaan. Kedua, ada gerakan yang mengedepankan toleransi dan kebhinnekaan, tetapi mengabaikan akidah dan identitas agama.

“Kedua situasi ini menjadi persoalan serius yang sedang kita hadapi, ini harus mendapatkan perhatian bersama,” ujar Dr Muhibin.

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UINSA Surabaya ini mengatakan, seharusnya bertoleransi tidak boleh menghilangkan identitas primordial agama. Misalnya simbol agama tertentu adalah sarung dan kopiyah, maka tidak boleh melepas sarung dan kopiyah. Sebab, tidak bisa memaksakan identitas agama tertentu menjadi identitas agama lain.

Mantan Pengurus Cabang PMII Surabaya ini menegaskan, toleransi bukan berarti membenarkan semua, tetapi harus menghargai terhadap kelompok lain. “Toleransi paradoks dengan dakwah, toleransi bukan membenarkan semua, karena kalau gitu gak asik, tetapi harus menghargai. Tugas kita adalah dakwah saja, tugas Tuhan memberi hidayah. Itu sikap dakwah NU, hanya dakwah saja, hidayah urusan Tuhan,” terangnya.

Cak Muhibbin, sapaannya, sudah saatnya melakukan langkah preventif dan tindakan tegas terhadap radikalisme dan intoleransi. Kedua penyakit akut ini sering menular lewat pendekatan teologis dan sosiologis. Misalnya, lewat dakwah agama dan penanaman pendidikan.

“Misalnya dakwah dan pendidikan harus mengetengahkan wisdom (kebijaksanaan) dari agama, bukan klaim kebenaran, secara sosial melalui kegiatan kultural dan kerja sama antar berbagai kelompok etnis,” ucapnya.

Radikalisme di Surabaya

Wakil Ketua DPRD Surabaya Masduki Toha yang juga hadir sebagai penyaji mengaku pernah didatangi oleh kelompok radikal. Mereka mengajak untuk melakukan jihad dengan cara melakukan kekerasan. Radikalisme dan intoleransi menjadi penyakit yang menghantui Kota Surabaya.

“Ini problem di Surabaya, saya pernah didatangi 10 orang berjenggot yang ngajak radikalisme. Saya diam saja. Mereka pikir saya terpengaruh, padahal saya ini kan mantan ketua Ansor dua periode. Saya ketawa aja mereka ngomong soal radikalisme,” ucapnya.

Politisi PKB ini memandang Pemkot Surabaya harus bekerja cepat untuk meredam meluasnya radikalisme dan intoleransi. Surabaya sejauh ini sudah melakukan pemetaan wilayah (mapping) untuk mendeteksi penyebaran paham garis keras.

Laporkan ke Polisi

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Iqbal mengatakan,  maraknya sikap intoleran dan radikalisme hingga ke media sosial  harus ditangani bersama. Yaitu dengan menggandeng berbagai pihak akademisi hingga masyarakat agar segera menyampaikan jika ada kelompok yang dianggap intoleran.

“Sementara diawasi, tetapi bila ada kelompok yang melakukan pelanggaran pidana bukti cukup akan kami proses hukum,” ungkapnya usai menjadi pembicara seminar “Surabaya Outlook 2017: Menolak Intoleransi, Melawan Radikalisme” di Kampus B Unair, kemarin.

Hanya saja, kondisi Surabaya menurut dia masih kondusif. Komunikasi juga masih terjalin antar-Ormas. Terkait sosial media ia juga mengimbau agar warga tidak mudah percaya karena banyak hoax. Hal ini merupakan strategi pemecah-belah indonesia.

“Kami para polisi sering cangkruk dan ikut sholat jamaah dengan memakai seragam bukan berarti riya. Tetapi kami ingin keberadaan kami dirasakan warga dalam negara ini,” lanjutnya.

Ia menegaskan warga Indonesia harus melawan intolerasi dan menolak radikalisme. Dan, Gus Dur merupakan tokoh yang benar-benar menginspirasi toleransi dalam negara Indonesia. azi, end

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan