“Seberapa keras persaingan dan konflik, kata-kata sarkastik itu tidak layak diucapkan apalagi dari seorang tokoh agama. Karena itu dilarang dalam agama.”
Oleh Dr Faiq Ihsan Anshori LC, MA*

JUJUR. Dua bulan terakhir perasaan saya telah mengalami sirkus, jungkir balik, dan akrobatik. Betapa tidak? Di internal  tubuh NU terjadi keretakan yang tak terelakkan, akibat dari konflik para elit PBNU. Dari konflik elit struktural merembet dan menjalar ke kaum alit struktural. Siapa pengikut siapa berseberangan dengan pengikut siapa. Itu saya rasakan dan memicu ketegangan akibat kubu-kubuan antar pengikut pro Syuriah vs Tanfidziyah. Suasananya sudah mirip masa pemilu atau lebih panas dari pergolakan politik khususnya di kalangan NU. Ini akan jadi memori buruk sejarah pergolakan NU.

Perasaan yang Terguncang

Semula saya bergembira mendengar kabar dan membaca berita kalau PBNU telah terjadi Akad Islah di Lirboyo;  menyepakati muktamar dipercepat dan mengembalikan kembali semua jabatan yang sebelumnya telah dipecat, yaitu Ketua Umum PBNU dikembalikan lagi kepada Gus Yahya dan Sekjend dikembalikan lagi kepada Gus Ipul. Selesai.

Kabar gembira itu sempat menjadikan bangga bagi para alumni Lirboyo seperti saya ini. Ternyata almamaterku, pesantren luhur Lirboyo berhasil meng-islah-kan PBNU dengan elegan dan bermartabat.

Tetapi kegembiraan itu kembali terusik dan goyah oleh pernyataan Rais Aam KH. Miftahul Akhyar sehari setelah acara islah di Lirboyo itu. Usai mengisi acara doa bersama di Masjid KH Hasyim Asy’ari Jakarta Barat, Rais Aam menyatakan bahwa Ketum PBNU masih dijabat oleh Pj KH Zulfa Musthofa dan bercerita kalau beliau sudah bicara langsung kepada Gus Yahya kalau keputusan pleno di Hotel Sultan masih berlaku. Jika menginginkan perubahan maka harus melalui mekanisme organisasi; sidang pleno babak kedua.

Setelah menyimak statement Rais Aam itu, saya menjadi mempertanyakan kegembiraan saya atas pencapaian islah yang terjadi di Lirboyo itu. Seraya bergumam, apakah ada ketidaksesuaian antara realitas dan bukti material yang terjadi sebenarnya di lapangan dengan apa yang ada di dalam berita itu? Sebab dalam berita dikatakan kalau posisi Ketum PBNU dikembalikan lagi ke Gus Yahya, sedangkan setelah dikonfirmasi langsung kepada Rais Aam tidaklah demikian.

Catatan saya, Rais Aam nampaknya sedang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Di Lirboyo itu forum konsultasi yang berisi tabayun Rois Aam dan Syuriyah kepada para mustasyar, bukan forum yang lain. Kalau ada suara lain dianggap sebagai aspirasi kultural yang secara organisatoris tidak mengikat dan bukan keputusan apapun. Boleh dibilang hanya sekedar wacana biasa saja.

Lalu, ada secercah harapan muncul kembali ketika ada berita silaturahmi Gus Yahya bersama kubunya ke pesantren Miftahussunnah asuhan Rais Aam KH. Miftahul Akhyar di Surabaya. Di sana sorot media menayangkan ritual cipika-cipiki, rangkulan, makan bareng, foto bareng, dan paling spektakuler adegan Gus Yahya menangis. Hadir pula Gus Ipul yang dianggap lawan berat Gus Yahya dalam kemelut PBNU. Seperti ada indikasi penyesalan. Berita bagus tampaknya.

Syahdan, meski sudah islah Lirboyo dan silaturahim di Miftahussunnah Surabaya, terasa semakin memudar dan buyar rasa bahagia saya itu setelah mendengarkan statemen dan manuver Gus Yahya kalau Sekjend PBNU adalah Amin Said Husni, bukan Gus Ipul. Diperkuat lagi ketika Gus Yahya menghadiri Napak Tilas Berdirinya NU bersama Amin Said Husni yang dianggapnya sebagai Sekjend. Tentu saja ini akan mendapatkan respon serius dari semua elit PBNU khususnya dari Gus Ipul dan kubunya.

Seolah ini sudah berbalas pantun atau saling sahut-sahutan laksana burung-burung yang sedang berbalas, sahur manuk, antara Rais Aam KH. Miftahul Akhyar dengan Gus Yahya yang mengindikasikan kandasnya harapan dan aspirasi yang dibangun di Lirboyo itu.

Setelah para elit PBNU sudah memberikan pernyataan masing-masing, rasa sedih kembali merajai hati saya. Ini bukan karena faktor apapun. Tetapi karena mungkin ini karena akar masalah yang paling mendasar yakni soal zionisme dan tata kelola keuangan yang terindikasi melanggar syar’i, telah diabaikan dan Gus Yahya justru melakukan perlawanan massif dan menggunakan tekanan kultural yang tidak menghiraukan mekanisme organisasi.

Kesedihan saya semakin membuncah dan kembali dijungkirbalikkan ketika membaca kata-kata sarkastik seperti setan, asu (babi), boikot, dan sumpah serapah seraya mendoakan tidak berkah pada lembaga seorang kiai dan hal-hal buruk lainnya kepada para tokoh dan kiai yang mendukung keputusan Rais Aam dan Syuriyah atas pemecatan Gus Yahya dari Ketua Umum PBNU. Seberapa keras persaingan dan konflik, kata-kata sarkastik itu tidak layak diucapkan apalagi dari seorang tokoh agama. Karena itu dilarang dalam agama. Mendoakan hal-hal buruk pada orang lain adalah perbuatan tercela menurut agama yang harus dihindari. Al-idza’ lil ghair dzanbun; menyakiti orang lain adalah dosa.

Jika dalam menyikapi perbedaan dengan umpatan dan serapah serta kata-kata tak patut dari pengikut organisasi pewaris para ini, maka itu sejatinya telah keluar dari harakah wa tsaqafah an-Nahdliyyah (gerakan-kultur NU) yang mengutamakan kelembutan argumentasi dan dakwah bil hikmah. Agaknya kata-kata sarkastik dalam menyikapi perbedaan agak mirip dengan gerakan FPI. Termasuk kaum muda NU dari gawagis sampai awam yang ikut terpapar.

Saya akhirnya terus menata hati dan husnuzhan (baik sangka) menyatakan bahwa kalau itu bukan pernyataan dari para kiai, ulama dan masyayikh terhormat yang saleh dan sabar yang saban hari total waktunya hanya untuk mengaji, mengurus santri, dan menerima tamu atau santri yang mau konsultasi atau sekedar sowan ngalap berkah.

Para masyayikh, para kiai dan ulama saya meyakini mereka tidak sempat menganalisa mendalam atau sama sekali tidak tertarik pada persoalan kubu-kubuan dalam konflik, melainkan hanya ingin semuanya baik-baik saja dan jika ada persoalan diselesaikan dengan baik, tidak dengan kata-kata sarkastik. Pada mereka yang saling tebar ancaman dan fitnah, bersegeralah untuk sadar dan bermuhasabah diri. (*)

*Dr KH Faiq Ihsan Anshori LC, MA. adalah Aumni Pondok Pesantren Lirboyo, Al-Azhar University, dan Pengasuh Pesantren al-Fattah Kuningan.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry