KETAHANAN PANGAN : Kepala Rumah Zakat Perwakilan area Jawa Timur Luistanto memberi penjelasan terkait pengolahan dan pemotongan hewan kurban di tengah dampak pendemik covid-19 di Surabaya, Rabu (01/07/2020).  Duta.co/Wiwiek Wulandari

SURABAYA  | duta.co – Jelang Idul Adha, goncangan ekonomi akibat pandemi Covid-19 masih berlanjut, menyebabkan banyak PHK hingga menurunnya tingkat pendapatan masyarakat.

Ditengah kondisi ekonomi yang tidak menentu ini, Rumah Zakat ingin memberikan peluang kepada masyarakat terdampak pandemi untuk menjadi produktif melalui ‘Duta Qurban’ melalui Superqurban.

Di Jawa Timur sendiri Rumah Zakat mentargetkan sebanyak 213 ekor Kambing dan 51 ekor Sapi untuk tahun 1441 Hijriyah ini. Selama Januari hingga Mei 2020, Rumah Zakat secara Nasional telah menyalurkan 146.518 kaleng Superqurban untuk bencana, rawan gizi dan konflik kemanusiaan. Di Jawa Timur sendiri sudah sebanyak 3.789 kaleng untuk daerah bencana (banjir Bondowoso, banjir Lamongan dan musibah kebakaran hingga bulan Mei 2020.

“Di masa peralihan New Normal ini, protap kesehatan Covid-19 tetap berlaku. Malah ada anjuran dari Kementan, Kemenag dan MUI membatasi penyembelihan hewan qurban. Namun bukan berarti kita tidak bisa qurban. SuperQurban bisa jadi salah satu solusi, hewan qurban sesuai syariah, penyembelihan hewan di RPH, jagalnya memakai APD, daging qurban diolah sehingga bisa tahan lama dan penyaluran lebih luas.” kata Listanto, Kepala Rumah Zakat Perwakilan Area Jawa Timur.

Listanto menambahkan momen ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Superqurban.  Untuk itu, Rumah Zakat melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang tetap ingin Kurban tanpa melanggar regulasi salah satunya dengan program Superqurban.

“Harapannya tetap optimistis mencapai target yang ditetapkan. Puncaknya mendekati pelaksanaan Kurban, dan masih ada waktu untuk sosialisasi kepada masyarakat, sejumlah masjid dan instansi,” jelasnya.

Efendi, CEO Rumah Zakat menambahkan sebagai negara yang juga tengah berjuang melawan pandemi Covid-19, Indonesia harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya potensi kerawanan pangan yang bersifat transien sebagai dampak pandemi Covid-19.  Rumah Zakat memberikan solusi dalam ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat yang membutuhkan di masa pandemi melalui program Superqurban.

“Dengan Superqurban jutaan ton daging kurban yang habis tiga hari dapat dioptimalkan menjadi cadangan makanan sebagai ikhtiar terwujudnya ketahanan pangan Indonesia” ujar CEO Rumah Zakat, Nur Efendi

Superqurban merupakan program optimalisasi kurban dengan mengolah dan mengemas daging kurban menjadi cadangan pangan dari protein hewani dalam bentuk kornet ataupun rendang yang tahan hingga tiga tahun.

“Selain memperhatikan aspek syariah, di masa pandemi ini pengelolaan kurban kita lakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang mengacu pada SE. Direktorat Jenderal peternakan dan kesehatan hewan Kementrian Pertanian tentang pelaksanaan kegiatan kurban dalam situasi wabah Covid-19,” tambah Nur Efendi.

Proses pengolahan daging kurban menjadi rendang dan kornet juga mengikuti standar kesehatan Covid-19. Selain itu dengan inovasi Superqurban, pembagian daging qurban tidak akan menimbulkan kerumunan di masyarakat karena Superqurban didistribusikan langsung oleh para Relawan Rumah Zakat secara merata kepada masyarakat terdampak Covid-19, masyarakat yang membutuhkan di kawasan tertinggal, terluar dan terdepan Indonesia, serta daerah yang terkena bencana.

Selama 2019 Rumah Zakat telah menyalurkan 394.208 paket Superqurban, Sedangkan dari Januari hingga Mei 2020 146.518 paket Superqurban telah disalurkan di berbagai wilayah dari Aceh hingga Papua, termasuk kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. imm

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry