Staf khusus Presiden bidang Sosial, Angkie Yudistia (kanan) saat berswafoto bersama penyandang disabilitas di Gedung BK3S Surabaya, Senin (14/6/2021). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Suntoro dan istrinya Asti Asadah sejak pagi, Senin (14/6/2021) sudah hadir di Gedung Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jatim kawasan Tenggilis Surabaya.

Dengan kursi rodanya, Suntoro semangat untuk ikut Pelatihan Pemberdayaan Disabilitas di Era Pandemik Dengan Memanfaatkan Platform Digital yang digelar sebuah ecommerce, JDID.

Asti setia mendorong suaminya yang memang harus duduk di kursi roda karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri. “Kami ingin belajar, inilah kesempatan kami untuk bisa mengembangkan diri. Tidak begini-begini saja,” ujar Suntoro.

Suntoro selama ini bekeja sebagai staf kantor notaris di Surabaya. Sambilannya, dia berjualan kopi di depan RS Soewandie setiap malam. Tapi, sejak pandemi, jualan kopinya agak tersendat, namun Suntoro tetap saja berjualan karena tuntutan hidup. “Maklum semua pada takut, kalau jualan sepi ya dimaklumi,” tuturnya.

Karena itu, dia dan istrinya ingin sekali mengubah konsep berjualannya. Dari berjualan secara langsung menjadi jualan online.

“Kami tahu, jualan online sedang booming, tapi kami tidak tahu caranya. Makanya ada pelatihan JDID untuk disabilitas, kami sangat senang. Kami ingin belajar terutama pelatihan meracik kopi dan menjualnya secara online,” jelasnya.

Apa yang menjadi keinginan Suntoro dan Asti juga menjadi keinginan banyak kaum disabilitas di Indonesia. Kaum disabilitas juga sangat terdampak pandemi Covid-19. Terutama kondisi ekonomi mereka. Karena itu, membangkitkan kembali kondisi ekonomi para disabilitas ini perlu dilakukan dan membutuhkan kerjasama berbagai pihak.

Perusahaan e-commerce JDiD bekerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya, Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) menggelar pelatihan ini agar disabilitas bisa memanfaatkan teknologi untuk bisa mengembangkan bisnis dan bisa menghasilkan uang.

Juru Bicara Presiden Bidang Sosial, Angkie Yudistia mengatakan, orang normal saat ini banyak yang terdampak pandemi, apalagi kaum disabilitas. Sebanyak 38 juta disabilitas di Indonesia dan 4,9 juta yang ada di Jawa Timur sangat membutuhkan bantuan agar bisa bangkit di masa sulit seperti ini. “Kita harus merangkul mereka. Sinergi dan kolaborasi juga harus dilakukan,” ungkapnya.

Hal itu kata Angkie, sejalan dengan visi dan misi Presiden Jokowi, agar disabilitas ini menjadi salah satu target dari vaksinasi. Ketika sudah terbentuk herd immunity dari para disabilitas, maka menggairah ekonomi komunitas ini harus segera dilakukan.

“Salah satunya untuk menggairahkan perekonomian disabilitas dengan memanfaatkan teknologi. Tidak sulit sekarang mau jualan itu, asalkan punya handphone. Handphone jangan hanya dibuat selfie, tapi dibuat untuk akses dunia digital, punya barang, upload, ada yang beli, dapat keuntungan. Akses platform digital untuk meningkatkan ekonomi. Ini era adaptasi baru, butuh talenta digital,” jelas Angkie.

Seniot Media Relations Manager JDID, Adhi Pratama mengatakan, pelatihan ini diberikan karena selama ini tidak ada ecommerce yang menyentuh kaum disabilitas.

“Dan banyak disabilitas itu yang belum mengenal ecommerce. Mereka belum melek digital, butuh bimbingan dan pelatihan. Itulah mengapa sejak Maret 2021 lalu kami mencoba untuk memberikan pelatihan pada kaum disabilitas ini,” ujar Adhi.

Ada lima kota yang disinggahi untuk pelatihan ini, yakni Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya dan Denpasar. “Tujuannya memberikan edukasi pada mereka bahwa teknologi digital bisa digunakan untuk siapa saja, tanpa memandang fisik dan kondisi sosial,” tukas Adhi.

Progam pelatihan ini akan berlangsung secara berkesinambungan dan akan terus dilakukan untuk membina kaum disabilitas ini agar mandiri secara ekonomi dan kembali bangkit dari keterpurukan akibat pandemi. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry