dr Irmawan Farindra, MSi. – Dosen Fakultas Kedokteran (FK)

SEBAGAI salah satu negara yang terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Di 2022, masyarakat dihadapkan dengan kondisi musim kemarau yang berbeda dari musim kemarau sebelumnya.

Pada Mei, BMKG mencatatkan beberapa wilayah Indonesia mengalami fenomena suhu panas dengan suhu lebih dari 35 derajat celcius. Kondisi cuaca yang panas disertai dengan teriknya sengatan sinar matahari dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti sunburn, heatstroke, dehidrasi, masalah kulit dan sebagainya.

Sunburn atau kondisi dimana kulit terbakar akibat terlalu lama terpapar sengatan matahari (ultraviolet = UV) yang menjadi salah satu masalah kesehatan ketika musim kemarau. Kondisi ini sunburn pada umumnya tidak hanya disebabkan oleh sengatan sinar matahari, beberapa sumber sinar UV lainnya, seperti “tanning-bed” atau “tanning-salon” juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya sunburn.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Kondisi ini menyebabkan perubahan pada lapisan epidermis (kulit ari), dimana lapisan tersebut akan kehilangan keratinosit. Selain itu, pada lapisan dermis kulit juga mengalami perubahan vaskular dalam waktu 30 menit setelah terpapar yang meliputi pembesaran sel endotel dan degranulasi sel mast sehingga mengakibatkan edema.

Penelitian yang dilakukan oleh Guerra dan Crane, menjelaskan sinar UVA dan UVB keduanya berperan dalam sengatan matahari, namun sinar UVB merupakan sinar yang bertanggung jawab untuk merusak DNA secara langsung dengan menginduksi pembentukan dimer siklobutana timin-timin.

Ketika dimer ini terbentuk, tubuh menghasilkan respon perbaikan DNA, yang meliputi induksi apoptosis sel dan pelepasan penanda inflamasi seperti prostaglandin, reaktif oksigen spesies, dan bradikinin.

Hal ini menyebabkan vasodilatasi, edema, dan rasa sakit yang diterjemahkan menjadi kulit merah klasik yang menyakitkan, terlihat pada sunburn di kulit. Selain itu, paparan kulit terhadap UVB menyebabkan peningkatan kemokin seperti CXCL5 dan mengaktifkan nosiseptor perifer, yang menghasilkan aktivasi berlebihan dari reseptor rasa sakit pada kulit.

Kondisi sunburn umumnya akan sembuh dengan sendirinya, tanpa memerlukan invetervensi lebih lanjut. Namun, untuk mempercepat atau mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, Anda dapat melakukan beberapa langkah berikut ini:

1. Menghindari paparan sinar matahari untuk mencegah terjadinya kerusakan kulit lebih lanjut, khususnya pada jam 10 pagi hingga jam 4 sore.

2. Perbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi.

3. Jika terpaksa harus beraktivitas saat siang hari, gunakanlah tabir surya untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari.

4. Menggunakan anti-inflamasi non-steroid untuk mengurangi rasa sakit yang timbul.

Walaupun cenderung umum terjadi, kondisi sunburn tidak boleh dianggap remeh, karena jika diabaikan akan meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk memahami penyebab, pencegahan, dan pengobatan ketika mengalami sunburn untuk mengurangi peningkatan resiko kanker kulit. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry