ORASI : Sunaryo saat orasi di depan Kantor Pemkab Kediri (duta.co/Nanang Priyo)

KEDIRI | duta.co -Sama-sama kader berlogo Banteng Moncong Putih yaitu PDI Perjuangan, selain sosok Khoirul Anam dikenal vokal dan dianggap kerap membuat ulah, kali muncul tokoh baru bernama Sunaryo, Ketua PAC PDI Perjuangan Purwoasri.

Dengan penuh nyali dan berani mengucapkan kata-kata pengecut kepada dua pejabat yang diberangkatkan dari partai yang sama, Bupati Kediri, dr. Hj. Haryanti Sutrisno dan Ketua DPRD Kabupaten Kediri, Sulkani.

“Jangan pilih bupati dan anggota DPR yang sekarang jadi, semua pengecut. Bupati jangan pengecut,”kata Sunaryo yang menunjuk ke rumah pribadi Bupati, memang berhadapan dengan Kantor Pemkab.

Dia pun kemudian menyebut nama Sulkani dengan ucapan yang sama. “Pak Sul, anda jangan jadi pengecut, katanya wakil rakyat, anda dipilih untuk mewakili rakyat, kenapa tidak hadir temui rakyatnya,” ucapnya penuh semangat.

Sesaat kemudian, saat aksi digelar kemarin, dia turun dari mobil, memang didesign sebagai podium panggung.

“Saya benar-benar sakit hati, mungkin masih banyak kader atau pengurus anak cabang yang bernasib sama dengan saya. Namun mereka hanya bisa diam, tapi ini kasus terjadi di desa kami dan anak kami ingin bekerja mengabdi di desa juga ditolak,” terangnya.

Kenapa ucapan pengecut ditujukan kepada Bupati dan Ketua Dewan, Sunaryo mengaku bahwa Perda maupun Perbup yang membuat adalah mereka. Tidak pernah dilakukan sosialisasi, bahkan sempat digugat ke Mahkamah Agung. Ternyata praktek di lapangan, ada dugaan rekayasa atas pengisi perangkat desa.

“Jika Bupati dan Ketua Dewan masih bersaudara, apa di pemerintahan desa mau dibuat begitu juga. Terus buat apa dibuat undang-undang anti KKN. Bila yang mengisi jabatan itu masih keluarga kepala desa. Bagaimana pemerintahan bisa sehat, apakah ada jaminan menjadikan pelayanan kepada rakyat semakin baik. Itu penjelasan yang ingin saya dengar langsung dari Bupati maupun Ketua Dewan yang terhormat,” tegasnya.

Namun, memang terbukti selama tiga kali digelar orasi, tidak satupun orang yang diharapkan bisa ditemui. Sejumlah alasan pun disampaikan perwakilan Bupati, saat menemui mereka.

“Silahkan saja panjenengan ngomong waleh (bosan, red), kok tiap demo yang nemui saya. Mau aksi berapakali pun, jawaban yang diberikan jelas tetap sama,” jelas Sukadi, Kabag Hukum Pemkab Kediri. (nng)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.