Keterangan Foto: Para narasumber dalam agenda Media Gathering SUN Energy di Surabaya.kiri Roni Herwanto (Utility Manager PT Pakarti Riken). Berbaju batik Drs. Arif Khamzah, M.Si. (Kabid Pemberdayaan Industri Disperindag Jatim), di tengah Oky Gunawan (Chief Sales Officer SUN Energy), Eko Hajar Prakoeswo (Quality Assurance & Sustainability Manager PT Avia Avian Tbk),

SURABAYA | duta.co — SUN Energy menegaskan komitmennya memperkuat implementasi Standar Industri Hijau (SIH) di Jawa Timur melalui solusi keberlanjutan terintegrasi, seiring meningkatnya kebutuhan energi di sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi provinsi tersebut. Hal ini disampaikan dalam agenda media gathering di Surabaya, Kamis (11/12/2025).

Sebagai provinsi dengan struktur ekonomi yang didominasi industri pengolahan berkontribusi 31,16% terhadap perekonomian pada Triwulan III-2025 Jawa Timur disebut membutuhkan percepatan transisi energi demi memenuhi target operasional rendah karbon dan standar industri hijau. SUN Energy menyatakan telah mengoperasikan lebih dari 40 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) industri di wilayah ini dengan kapasitas terpasang lebih dari 40 MW.

Dari operasional PLTS tersebut, SUN Energy mencatat produksi listrik bersih lebih dari 36 juta kWh per tahun, serta penurunan emisi lebih dari 28.000 ton CO₂, setara penanaman lebih dari 467.000 pohon setiap tahun. Lima sektor industri yang paling cepat mengadopsi solusi energi surya meliputi industri kertas, FMCG, komponen otomotif, plastik dan kemasan, serta pengolahan kayu.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Disperindag menegaskan bahwa percepatan penerapan SIH menjadi salah satu strategi mempertahankan daya saing industri. Sejak 2023, pemprov membentuk Forum Industri Hijau Jatim sebagai ruang kolaborasi lintas sektor.

Kepala Bidang Pemberdayaan Industri Disperindag Jatim, Drs. Arif Khamzah, M.Si., menyatakan bahwa SIH akan menjadi standar penting untuk industri yang ingin tetap kompetitif di pasar global.

“Industri Hijau memberikan arah yang jelas untuk meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, dan memperkuat daya saing. Sertifikasi industri hijau kini bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi parameter penting bagi industri berorientasi ekspor,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan seperti CBAM Uni Eropa, tuntutan kepatuhan keberlanjutan dari pembeli global, hingga kesiapan menuju Emission Trading System (ETS) menjadi tantangan yang harus diantisipasi industri Jawa Timur sejak dini.

Menanggapi arah kebijakan tersebut, SUN Energy memposisikan diri sebagai katalis transformasi industri melalui layanan Sustainability-as-a-Service, meliputi energi surya, sistem penyimpanan baterai, pengelolaan sumber daya air, hingga elektrifikasi kendaraan operasional.

Chief Sales Officer SUN Energy, Oky Gunawan, menegaskan bahwa industri tidak bisa menunda proses transisi energi.

“Persaingan industri semakin ketat. Transformasi menuju operasional rendah emisi adalah langkah yang harus dilakukan segera. SUN Energy kini hadir dengan ekosistem solusi keberlanjutan terintegrasi untuk memastikan efisiensi biaya, penurunan emisi, sekaligus kepatuhan SIH,” ujarnya.

Sejumlah perusahaan besar di Jawa Timur telah merasakan dampak positif dari implementasi energi surya dan standar industri hijau.

Quality Assurance & Sustainability Manager PT Avia Avian Tbk, Eko Hajar Prakoeswo, mengatakan bahwa penerapan PLTS menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

“Kolaborasi dengan SUN Energy memperkuat fondasi energi terbarukan kami dan meningkatkan efisiensi operasional. Ini mendukung upaya memenuhi standar lingkungan yang kini menjadi tuntutan pasar global,” jelasnya.

Sementara itu, Utility Manager PT Pakarti Riken Indonesia, Roni Herwanto, menjelaskan bahwa PLTS berkapasitas 2,6 MW yang dioperasikan bersama SUN Energy memberi dampak signifikan pada stabilitas energi perusahaan.

“Solusi ini membuat kami lebih siap menghadapi regulasi industri otomotif global yang makin ketat terhadap jejak karbon,” tegasnya.

SUN Energy menilai bahwa teknologi energi surya dan solusi keberlanjutan terintegrasi menjadi jalan paling efektif bagi industri untuk menekan emisi, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat citra produk ekspor. Perusahaan mengajak seluruh pelaku industri di Jawa Timur aktif memenuhi Standar Industri Hijau dan mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060. (gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry