Gus Isfandiari (Keterangan Foto aksarakata.com)
“Ada ajengan-ustad lokal instruksi agar jangan  ikut imam  4 Mahzab. Cukup kembali saja ke Al-Qur’an dan Hadist.”
By Isfandiari MD

ORANG sekarang keterlaluan. Sedikit tahu perkara tapi sudah pede, galak terbuka, lalu kritisi tokoh cemerlang yang levelnya jauh. Ini terjadi semua bidang, politik, musik, olahraga sampai agama. Mereka mengisi celah-celah komunikasi, berseliweran di mana-mana. Beberapa terpengaruh, sepintas paham manut setuju. Ada yang tak peduli, sedikit yang jengkel, beberapa respon balik.

Padahal, mereka ini sumbu pendek. Ilmu cekak alias masih jauh dengan yang dikritisi. Soal agama misalnya, ini paling menarik, karena membahas  spiritualisme- bekal akhirat. Banyak terjadi, ustad lokal lantang kritisi ulama cemerlang yang pengaruhi peradaban Islam.

Dengan gagah ia berpendapat, para ulama itu setara dengan dia dalam keilmuan  bahkan dibawah mereka. Berani-beraninya menilai karya mulia mereka hasil dari  gagal paham, dangkal tak bermutu. Makin ‘sempurna’, dalam kalimat, intonasi beraroma sombong, merendahkan. Giat mereka dipertontonkan di medsos atau live performance panggung-panggung pengajian dan sejenisnya.

Coba pikir, sebatas pemerhati agama berani mengkritisi insan sekaliber Imam Al Ghazali, sang Hujjatul Islam. Merasa tak sepaham, karyanya Ihya Ulumuddin  disebut dangkal dan tak paham hadist.

Memang betul, sang Imam pernah ngaku hanya sedikit memahami hadist. Tapi yang sedikit itu terlalu banyak bagi kita. Jangan salah tangkap, itu musabab rendah hati semata. Kenyataanya jauh!

Beliau ikhtiar serius mencari ilmu hadist. Belajar tekun mendatangi ulama hadist terkemuka, Abu Al-Fatayan, Umar Bin Abi Al Hasan Al Hafidz Ath Thusi dan intens mendalami hadis Bukhari-Muslim.  Abdul Ghafir Al Farisi, ahli hadist kondang yang lahir 350 hijriyah  menilai, ”Di akhir usia beliau, Al Ghazali mengalihkan perhatiannya pada hadist-hadist Rasulullah, kerap berguru kepada banyak ahli hadist.”

Bahkan setahun sebelum wafat, sempat melahirkan karyanya Al-Mustashfa-kitab Ushul Fikih di 504 H. Kepribadian Al Ghazali sangat memukau, begini nasehatnya, “Seseorang akan dapat menyingkapkan suatu ilmu manakala telah mengetahui secara detail sampai ke akarnya-“

Di kesempatan lain menuturkan, “Jangan tergesa-gesa mengemukakan pandangannya, seperti banyak dilakukan pada ulama-“ (dikutip dari buku Tokoh-Tokoh Pemikir dan dakwah Islam- Abul Hasan Ali An-Nadawi).

Dimomen lain, ada ajengan-ustad lokal instruksi agar jangan  ikut imam  4 Mahzab. Cukup kembali saja ke Al-Qur’an dan Hadist. Mungkin terpengaruh pemikir-pemikir Islam terdahulu yang berkeyakinan demikian.

Bedanya, yang sekarang minim karya atau malah tidak berkarya, tidak mengikuti kaidah ilmu hanya sebatas mencari panggung agar dikagumi umat awam. Gawatnya, egonya naik tinggi,  merasa mujtahid-intektual tinggi bukan orang awam yang harus bertaklid.

Padahal Mahzab  Imam Abu Hanifah (Hanafi), Al Imam Maliki (Maliki), Al Imam Muhammad Bin Indris As Syafi’i  (Syafi’i) dan Imam Ahmad Bin Hanbal (Hanbali), arti simpelnya pilihan sesuai petunjuk Nabi Muhammad. S.A.W, bukan aliran, bukan kelompok.

Kenapa harus ada pilihan? Menurut para Ulama, tak semua umat bisa melakukan dengan cara yang sama, itulah hikmah,  indah bukan? Digaris tebal lagi, anti mahzab itu bahaya, tak sesuai ajaran Islam. Salah satunya tertuang dalam buku Syekh Muhammad Ramadhan Al-Buthi, Al-Lamadzhabiyyah Akhtar Bid’ah Tuhadiddu al-Islamiyah. Insan alim kelahiran Turki, 1929 yang berpulang 21 Maret 2013 di Damaskus Mesir.

Di soal agama bolehlah contohkan 2 perkara tadi. Dicari lagi banyak yang membuat hati panas dan tak ada faedahnya bagi kedewasaan intelektual. Tak cuma menyerang daya pikir, tapi terkait juga dengan adab etika rasa dan kepantasan.

Idealnya, ada respek terhadap pendahulu-pendahulu kita. Mereka lahirkan selaksa karya, merangsang ijtihad dan hindari jumud. Jikalau ingin di evaluasi, berpikirlah jernih berdasarkan ilmu mumpuni. Harus diakui, karya-karya alim ulama dahulu mampu membentuk peradaban Islam yang maju dan beradab.

Jadi, jangan kritis bernada merendahkan tanpa bahan cukup untuk menyanggah. Faktanya,  ini semua disampaikan oleh spiritualis karbitan, mereka yang baru saja log in atau ustad phobia kehilangan jama’ah  lantas bertahan lewat kajian kontroversial berdasar emosi  tanpa bangunan ilmu.

Moga secepatnya terbenahi. Umat harus dibentuk agar kuat dalam kompetisi spiritual.  Makin pede dan suvive . Insya Allah….(*)

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry