Menkes Nila Djuwita F Moeloek didampingi para pimpinan Unair dan FK Unair memukul gong menandai dibukanya INA TIME di Surabaya, Sabtu (6/4). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co –  Penderita tuberculosis (TB) di Indonesia masih sangat tinggi. Dari data World Health Organization (WHO) pada 2018 lalu, Indonesia berada di posisi ketiga kasus terbanyak setelah India dan China.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila Djuwita F Moeloek mengaku prihatin dengan kondisi ini. Namun, berada di urutan ketiga sudah lebih baik daripada tahun sebelumnya yang berada di posisi dua setelah India.

Nila yang hadir dalam acara Indonesia Tuberculosis International Meeting (INA TIME) mengungkap data bahwa estimasi penderita TB di Indonesia mencapai 842 ribu dan kasus yang ditemukan 514.773. Dan 39 persen masih belum dilaporkan.

“Masih besar kasus ini di Indonesia. Kita sudah melakukan banyak upaya dan sampai saat ini terus berupaya,” ujarnya.

Ada banyak sebab mengapa penyakit ini sampai saat ini masih menjadi momok di Indonesia. Sehingga tak berlebihan jika pemerintah  menjadikan penyakit ini sebagai skala prioritas.

Pengobatan penyakit ini yang sangat lama terkadang membuat pasien menjadi bosan. Sehingga para pasien ini memilih untuk berhenti alias drop out (DO) dari pengobatan yang sudah dijalani. Apalagi bagi penderita TB RO (resisten obat/kebal obat).

Jika pengobatan TB biasa memakan waktu enam bulan dengan mengkonsumsi obat-obatan secara teratur, maka passien TB RO akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Bisa mencapai 20 bulan dengan sistem pengobatan yang membuat pasien banyak menyerah.

Mereka harus disuntik, harus mengkonsumsi obat-obatan di klinik kesehatan atau dokter yang menangani setiap hari karena tidak boleh dibawa pulang.

Tidak hanya itu, pasien akan mengalami dampak negatif yang ditimbulkan dari mengonsumsi obat-obatan itu bagi kesehatannya. Misalnya mengalami gangguan di kulit misalnya gatal, mengalami gangguan fungsi ginjal dan sebagainya.

Ini yang membuat pasien memilih untuk tidak lagi melanjutkan proses pengobatannya. Mereka lebih memilih di rumah dengan kondisi TB yang terus menyerang dan menggerogoti tubuhnya.

Dengan kondisi itu, maka pasien tadi akan menularkan virus TB itu ke lingkungan sekitar. Bahkan menurut penelitian, jika satu orang terkan TB maka 20 orang di sekelilingnya harus diperiksa, karena mereka berpotensi juga tertular penyakit ini.

“Karena TB itu bisa menular lewat udara. Penderita berbicara dengan lawan jenis tanpa ditutupi, di lawan bicaranya bisa tertular apalagi kalau kondisinya sedang tidak sehat. Jadi begitu mudahnya penyakit ini menyebar. Kalau satu penderita tidak diobati, maka akan semakin banyak yang tertular,” jelas Nila Moeloek.

Pakar TB dari RSU dr Soetomo dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr dr Soedarsono, SpP (K) mengakui saat ini memang yang sulit adalah melakukan pengobatan kepada pasien TB RO. Pasien dengan kondisi itu semakin banyak ditemukan.

Dengan semakin banyak ditemukan, maka pengobatan semakin sulit dilakukan. Karena banyak pasien yang memilih DO alias tidak melanjutkan pengobatan karena beban berat yang disandangnya untuk mengkonsumsi obat dan dampaknya bagi kesehatan tubuh lainnya.

“Ini yang kadang tidak bisa diterima pasien. Pasien merasa sendiri menjalani pengobatan yang sangat berat. Bayangkan harus disuntik, tiap hari harus minum obat dengan datang ke tempat layanan kesehatan, belum lagi mengalami gatal-gatal, masalah di pencernaan, ginjal dan sebagainya akibat mengkonsumsi obat itu,” jelas Sudarsono.

Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang terkadang sulit dijangkau layanan kesehatan. Budaya dan tingkah laku masyarakat yang masih belum sepenuhnya menyadari pola hidup bersih dan sehat.

“Kalau menderita batuk ya harus pakai masker. Kalau sudah tahu batuknya tidak sembuh-sembuh maka berprilakulah dengan baik agar tidak menulari orang lain,” tukas Nila Moeloek.

Perlu Peran Serta Semua Pihak Termasuk Peneliti

Diakui dr Sudarsono, untuk bisa menangani masalah ini, dukungan dari orang-orang terdekat pasien sangat dibutuhkan. Terutama dalam mendukung pasien untuk rutin mengonsumsi obat-obatan dan melakukan pemeriksaan.

“Terutama bagi pasien TB RO, dukungan keluarga sangat penting. Jangan biarkan mereka merasa sendiri menjalani pengobatan yang menjemukan dan menyakitkan. Jadi dukungan itu sangat-sangat dibutuhkan,” tandasnya.

Menkes Nila Moeloek pun mengungkapkan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) yang melibatkan 21 kementerian di Indonesia, seahrusnya menjadi salah satu pendongkrak untuk memberantas penyakit ini.

“Namun, dengan masih tingginya angka penderita bisa dibilang Germas ini tidak jalan,” tukasnya.

Nila Moeloek mengungkapkan untuk mengatasi masalah ini, pendekatan keluarga memang yang utama. Puskesmas yang menjadi garda terdepan layanan kesehatan di pelosok daerah harus aktif mendeteksi masyarakat yang memiliki ciri-ciri TB.

Tidak hanya itu, fasilitas kesehatan swasta, peran serta TNI Polri yang berada di daerah juga harus ditingkatkan.

“Juga masyarakat yang ada di lembaga pemasyarakatan (lapas), pondok pesantren harus waspada mendeteksi penyakit ini. Pondok pesantren di Indonesia itu ada 28 ribu dan dalam satu kamar ada banyak santri. Kalau satu terkena TB, bisa jadi semua santri bisa terkena,” jelasnya.

Diakui Menkes, dengan pendekatan keluarga yang baik maka keberhasilan pengobatan juga bisa baik. Bahkan dari data yang ada, pada 2017 lalu keberhasilan pengobatan TB ini  di sebagian Pulau Jawa, Sulawesi dan Sumatera bisa mencapai 89 persen.

Selain itu, pemerintah berharap adanya peran serta para peneliti di lembaga pendidikan untuk melakukan kajian dan riset tentang penyakit ini. Tujuannya untuk mengetahui secara pasti tentang penyakit ini di masyarakat.

“Semua kita biayai lo, pemerintah siap mengucurkan dana untuk penelitian ini. Jangan khawatir,” tukas Nila Moeloek.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof Dr dr Soetojo, SpU (K)  mengatakan, saat ini sudah banyak dosen di FK Unair yang meneliti tentang TB ini. Apalagi Unair memiliki Institute of Tropical Disease ( ITD) yang menjalin kerjasama dengan peneliti dari Jepang.

” Memang masih banyak TB yang belum diatasi, bukan masalah penyakitnya saja tapi kesadaran penderitanya,” tukasnya.

Ia menegaskan topik TB masih selalu menarik diteliti apalagi kasusnya masih banyak sekali. Sehingga peneliti bisa menemukan temuan lebih baik dalam penanganannya.

Sementara itu, dr Sudarsono mengungkapkan saat ini para dokter mencoba untuk mempersingkat proses pengobatan khususnya bagi pasien TB RO.

Karena jika pengobatan tetap dilakukan seperti sekarang ini, di mana pasien banyak yang DO, dia mengaku tidak yakin pada 2050 Indonesia akan terbebas dari penyakit ini.

Tidak hanya mempersingkat waktu pengobatan, dr Sudarsono menegasskan para dokter juga mencoba untuk tidak melakukan penyuntikan pada pasien, cukup dengan obatan-obatan oral yang dikonsumsi setiap hari.

“Karenanya kami harus berpikir keras. Kalau begitu dengan waktu yang singkat dan hanya memakai obat oral, berarti dosis obat itu harus ditambah. Atau ada cara lain yang sampai saat ini terus kami pikirkan dan mencari solusinya,” jelas dr Sudarsono.

Dengan cara ini diharapkan semua pasien yang ditemukan bisa ditangani dengan baik dan bisa sembuh dengan maksimal.

“Kalau misalnya 100 pasien kita temukan, maka 100 pasien itu bisa menjalani pengobatan dengan baik dan 100 pasien itu pula bisa sembuh,” tukasnya.  end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.