(ki-ka) Wakil Dekan 1 FK Unair, Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG (K), Dekan FK Unair, Prof Dr dr Soetojo, SpU(K), Dr dr Poedjo Hartono, SpOG (K) dan  Dr dr Gadis Meinar Sari, M. Kes membahas satu tahun lebih RS Terapung Ksatria Airlangga. DUTA/endang

Mulai Memanfaatkan Teknologi hingga Pernah Ditupu ‘Donatur’

Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) sudah setahun lebih beroperasi. Sudah ada 25 titik daerah kepulauan, terluar dan terpencil yang dikunjungi. Dan sudah 13.257 pasien merasakan kehadiran layanan ini. Namun semua itu tidak akan pernah ada tanpa ada dukungan dana dari para donatur.

Awal kapal ini diluncurkan banyak orang yang kagum. Namun tidak sedikit yang merasa pesimis. Tak terkecuali para dokter yang ikut mengawali kehadiran kapal ini.

Pesimisme itu tidak lain berkaitan dengan dana operasional kapal dan pengobatan yang akan dilakukan. Karena ternyata biaya operasional itu tidak murah dan tidak mudah didapat.

“Banyak yang pesimis. Karena kalaupun kapal ini berhenti atau tidak jalan, masih tetap butuh biaya karena ada awak kapal yang mengurusi itu semua,” ujar Ketua IKA Unair, Dr dr Poedjo Hartono, SpOG (K).

Dana dari para alumni Unair memang cukup membantu. Namun untuk keberlangsungan kapal ini,  kemungkinan tidak mencukupi. “Ketika kita pertama kali membeli kapal Pinisi itu di Makassar, saya sempat melontarkan, mungkin kita bisa patungan beli kapal Rp 1 miliar ini, tapi selanjutnya bagaimana?” tambah Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG (K).

Berbagai upaya dilakukan pengurus Yayasan Ksatria Airlangga. Menjual merchandise mulai kaos, nug dan sejenisnya. Tujuannya agar terkumpul dana sedikit demi sedikit. Namun semua itu hanya bisa menunjang sebagian kecil dana operasional yang dibutuhkan.

Namun yayasan tetap membutuhkan dana yang besar untuk meneruskan yayasan sosial itu.

“Kalau masalah tenaga medis, tidak ada kekhawatiran. Dokter-dokter spesialis, perawat dan semuanya siap mendukung. Semua gratis mendukungnya. Tapi untuk biaya obat-obatan dan alat-alat medis tetap butuh biaya,” jelas dr Poedjo.

Dengan dana yang ada, kapal ini tetap berjalan. Mengunjungi pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Surabaya dan Madura. Dengan semakin seringnya kapal ini memberikan pelayanan, semakin banyak orang melihat dan membicarakannya.

“Akhirnya ada saja yang mendonasikan uang, obat-obatan dan sebagainya. Tidak hanya itu, dokter-dokter dari daerah lain pun ikut terlibat menjadi tim ketika kita akan berlayar ke satu daerah,” tukasnya.

Sampai saat ini, biaya operasional kapal sekali melakukan perjalanan ke pulau dan melakukan aksi sosial dibutuhkan biaya antara Rp 300 juta hingga Rp 400 juta. Dana-dana itu disalurkan melalui rekening yayasan yang sudah dibentuk setelah kapal ini ada.

“Suka duka itu banyak saat mencari dana. Pernah suatu ketika ada orang SMS, menyerahkan bukti sudah transfer Rp 5 juta.  Tapi setelah itu dia bilang, transfernya kebanyakan nol, saya maunya donasi Rp 500 ribu. Saya bilang, orang ini baik, sudah mau nyumbang Rp 500 ribu itu sudah banyak. Kembalikan Rp 4,5 jutanya. Eh setelah dikembalikan dan dicek di rekening tidak pernah ada nama itu transfer uang. Kita ditipu,” jelas Poedjo sambil tertawa.

Kini, pihak Yayasan lebih berhati-hati setelah kasus ini terjadi. Pengawas Yayasan Ksatria Airlangga dan  Dr dr Gadis Meinar Sari, M. Kes mengakui kini, dana-dana yang masuk ke yayasan cukup beragam.

Selain dana yang masuk ke rekening, ada dana-dana lain yang dimasukkan melalui berbagai aplikasi pembayaran.

“Ada yang melalui kitabisa.com dan sebagainya. Dan itu bukan kita yang membuatnya. Semua atas bantuan banyak pihak yang ingin melakukan sesuatu untuk proyek ini. Alhamdulillah semua membantu,” tukas dr Gadis.

Dengan sistem manajemen yang diterapkan, tidak mengherankan jika RS Terapung Ksatria Airlangga ini bisa masuk dalam ajang Hospital Management Asia 2019.

Di Hanoi Vietnam nanti, RSTKA ini akan hadir menjadi salah satu finalis Asian Hospital Management Award untuk salah satu katagori yakni Community Involvement Project.

“Kita akan hadir di sana semoga bisa menjadi juara dari lima rumah sakit lain di Asia,” tukas dr Gadis.  end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.