
Aulia Ineke dan Budi Setiyawan merupakan pasangan suami istri yang menjadi perawat di zona merah RSI Surabaya Ahmad Yani Surabaya (RSI AYani).
Aulia sebagai Kepala Ruang Isolasi dan Budi Setiyawan sebagai Kepala Instalasi Rawat Darurat (IGD). Ada banyak suka dan duka mereka alami selama setahun lebih berdampingan dengan pasien Covid-19.
—
Menemui pasangan ini kini lebih mudah. Karena pasien Covid-19 yang dirawat di RSI AYani tidak lagi sebanyak dulu. “Alhamdulillah, kami bisa bernafas lega. Keadaan mulai membaik. Pasien berkurang jauh,” kata Aulia tersenyum ketika ditemui, Kamis (27/5/2021).
Memang, di RSI AYani sendiri, saat ini hanya merawat beberapa pasien Covid-19. Bahkan ruangan yang selama ini dijadikan ruang isolasi kini hanya tinggal tiga ruangan. “Bersyukur sekali, semua terkendali,” tambah Aulia yang didampingi suaminya, Budi Setiyawan.
Aulia dan Budi kembali teringat kejadian saat pertama kali virus ini datang. Selama menjadi perawat diakui keduanya belum pernah mengalami pandemi seperti ini. Sehingga mereka mengaku bingung bagaimana menangani pasien.
“Ada pasien pertama kali datang dengan kondisi seperti Covid-19, kami bingung. Ruang isolasi belum siap, semua belum ada fasilitas dan alatnya. Selama 20 jam, pasien itu tidur di IGD sebelum akhirnya kami rujuk karena keterbatasan sarana prasarana,” ujar Budi.
Budi yang memang bertugas di IGD menyadari bahwa risiko dia sangat besar. Karena semua pasien dengan berbagai kondisi pasti akan melalui IGD. Tapi, saat RSI AYani sudah menyiapkan ruang isolasi untuk pasien, Aulia semakin bingung. Karena pihak manajemen memintanya untuk menjadi kepala ruangan isolasi.
Syok dan tak menyangka, dia dipilih. “Tapi saya berpikir, jika suami di zona merah, ya sekalian saja saya juga di zona merah. Agar kami ini sama-sama siap secara mental bisa saling berbagi dan mendukung. Ya hanya menyiapkan mental anak-anak dan keluarga yang pada awalnya menolak,” tutur Aulia.
Di awal-awal, banyak duka yang dialami. Alat pelindung diri (APD) yang tidak tersedia, anak buah yang harus dimotivasi agar semangat melayani pasien, memberikan layanan yang maksimal hingga harus mengondisikan anak-anak di rumah agar tidak kontak dengan kedua orang tuanya.
“Tapi anehnya, yang ada di pikiran kita itu hanya pasien. Bagaimana merawat pasien sebaik-baiknya dan bisa sembuh. Kalau anak-anak sudah ada yang menjaga, bahkan kami sudah mempersiapkan menitipkan mereka ke eyangnya. Tapi karena sudah menerapkan tata laksana dengan baik di rumah, anak-anak tetap memilih tinggal di rumah,” tutur Aulia.
Karena kata Aulia, pasien Covid-19 itu berbeda dengan pasien-pasien lainnya. Tidak boleh kontak dengan keluarga, sendirian dirawat di rumah sakit. Stres, depresi selalu menyerang pasien sehingga membuat penyakit bertambah parah.
Dari sana, Aulia selalu berpikir bagaimana perawat di ruang isolasi tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang tenaga medis tapi juga menjadi penghibur. “Karena kamilah satu-satunya keluarga pasien. Yang berhari-hari selalu bersama. Bagaimana kami tidak selalu memikirkan mereka karena mereka sangat bergantung pada kami,” kata Aulia.
Tidak mengherankan di ruang isolasi Mina, yang merupakan ruang isolasi bertekanan negatif, paling banyak membuat TikTok. Itu tidak lain untuk menghibur pasien. Bahkan pasien yang bisa berjalan diajak untuk bermain TikTok. “Pasien Covid-19 harus bahagia untuk mempercepat kesembuhannya,” tutur Aulia.
Tidak hanya itu, Aulia dan Budi merasa seneng karena pihak manajemen RSI AYani selalu menerima usul mereka. Contohnya menjadikan ruang isolasi tidak menyeramkan seperti yang dipikirkan orang.
Pihak RSI AYani bersedia menyulap ruang isolasi menjadi ruangan yang nyaman bagi pasien untuk beraktivitas. Sehingga ketika ada sembilan pasien dalam satu keluarga mulai kakek, nenek hingga bayi, datang dengan kondisi Covid-19, RSI AYani siap melayani.
“Ya di ruangan harus bisa menjadi tempat bermain bagi anaknya. Ada tempat aktivitas untuk yang tua dan sebagainya. Dengan begitu pasien tidak stres,” jelas Aulia.
Aulia dan Budi jadi senang ketika pasien Covid-19 bisa sembuh dan berkumpul bersama keluarganya. Ucapan terima kasih dari pasien dan keluarganya merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa bagi Aulia dan Budi.
“Itu tidak bisa terbeli dengan apapun. Kami ikut senang dan haru ketika pasien berhasil sembuh. Semua berkat bertolongan Alloh SWT,” kata Aulia.
Namun sebaliknya, keduanya akan sangat sedih ketika ada pasien yang ‘menyerah’ dan harus meregang nyawa di hadapan mereka. Di balik baju hazmat yang tebal, air mata keduanya tak terasa mengalir.
“Sedih kami tak terbendung ketika melihat pasien sudah menyerah seperti itu. Tapi semua sudah takdir, kami sudah berupaya sekuat tenaga,” ungkap Aulia.
Kesukaan lainnya dirasakan Aulia dan Budi ketika menyaksikan pasien menikah secara virtual dari ruang isolasi. Ada juga seorang ustadz yang menuntut jamaahnya membaca dua kalimat syahadad dari dalam ruang isolasi. “Semua sudah kami rasakan, perasaan campur aduk tak menentu,” tandas Aulia.
Dikucilkan Lingkungan
Aulia dan Budi sadar, risiko profesi mereka sangat besar. Apalagi di awal-awal pandemi. Keduanya bersedia menjadi kepala ruangan di zona merah dengan pertimbangan risiko yang harus dihadapi.
“Awalnya ada penolakan dari keluarga, orang tua bahkan pembantu saya. Tapi saya kasih penjelasan akhirnya mereka semua terima. Ya itu kami harus terapkan prokes ketat di rumah,” kata Aulia.
Di rumah, Aulia dan Budi memisahkan diri dengan anggota keluarga yang lain. Beruntung rumah mereka dua lantai. Lantai atas untuk anak-anak dan pembantu, lantai satu untuk Aulia dan Budi.
Tidak hanya itu, Aulia dan Budi, harus membersihkan diri sebelum pulang ke rumah. Sampai di rumah, keduanya harus segera mandi dan tidak bertemu dengan kedua anaknya. Bahkan, kedua anaknya dilarang untuk masuk ke kamar mereka saat awal pandemi.
Baju keduanya tidak boleh dicuci bersamaan dengan baju nak-anaknya. Aulia harus mencuci sendiri baju kerja dia dan suaminya. Alat makan pun juga disendirikan tidak boleh campur. “Bahkan saya tidur pakai masker. Karena saya tetap harus berpikir, istri saya bisa menulari saya,” tandas Budi.
Di awal-awal, lingkungan tempat tinggal mereka menjauh karena tahu mereka bertugas di ruang isolasi. Aulia dan Budi sadar diri. Tak sekalipun mereka keluar rumah selepas bertugas. “Rumah RSI, rumah RSI begitu setiap hari. Kami juga tidak ingin membawa virus ke keluarga dan lingkungan,” kata Aulia.
Beruntung, pada Ramadan 2020, lingkungan sekitar mulai berubah empati pada keduanya. Tetangga mulai banyak mengirimi mereka makanan, takjil untuk buka puasa dan sebagainya. “Mungkin lingkungan sudah mulai tahu, bahwa kami garda terdepan penanganan Covid-19,” kata Aulia.
Kini semua sudah mulai mereda. Aulia dan Budi tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Protokol kesehatan selalu mereka terapkan. Bahkan hazmat yang panasnya minta ampun, tetap mereka kenakan saat bertugas.
Selama bekerja, mereka sudah terbiasa ‘berpuasa’ tidak makan dan minum untuk menghindari buang air kecil dan besar. Karena kalau terjadi, mereka harus buka pasang hazmat yang sangat ribet. “Persiapan sebelum bertugas itu 30 menit sampai satu jam. Kalau harus buka pasang, waktu kami malah tersita untuk hazmat bukan melayani pasien,” tuturnya. end





































