Muhammad Syaikhon, S.H.I., M.H.I – Dosen FKIP

SYUKUR berasal dari kata syakara-yasykuru-syukran wa syukuran wa syukranan. Artinya pujian atas kebaikan dan penuhnya sesuatu. Dalam Alquran, kata syukur dan derivasinya disebutkan sebanyak 75 kali.

Menariknya, al-Quran juga menyebutkan jumlah yang sama untuk kata Bala (Musibah). Sebagian mufassir mengatakan bahwa sepertinya Allah swt ingin menjelaskan adanya musibah itu karena kurangnya bersyukur kepada-Nya.

Syukur adalah kebalikan dari kufur. Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat kufur adalah menyembunyikannya. Syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dengan disertai ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendakNya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur tersusun atas tiga perkara. Pertama,  Ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberinya serta meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah dan yang lain hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat.

Kedua, Hal (kondisi spiritual), yaitu pengetahuan dan keyakinan yang melahirkan tentramnya jiwa menjadikan seseorang senang dan mencintai pemberi nikmat dalam bentuk ketundukan dan kepatuhan. Ketiga, Amal Perbuatan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan yang menampakkan rasa syukur dengan memuji Allah SWT dan anggota badan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Lalu bagaimanakah caranya kita bersyukur?.

Quraish Shihab (seorang ahli tafsir) telah menjelaskan macam-macam cara bersyukur. Pertama, Syukur dengan hati, yakni menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah SWT yang akan mengantarkan diri untuk menerima dengan penuh kerelaan tanpa keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.

Kedua, Syukur dengan lidah, yakni mengakui anugerah dengan mengucapkan hamdalah serta memuji-Nya. Ketiga, Syukur dengan perbuatan, yakni memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai tujuan penganugerahannya serta menuntut penerima nikmat untuk merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah SWT.

Manfaat bersyukur telah dijelaskan dalam surat an-Naml ayat 40, antara lain: Pertama Menghilangkan kesusahan. Bersyukur berarti kita mengingat Allah dan dengan mengingat-Nya maka kita akan diberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita akan diberikan solusi dan kemudahan dalam problematika kehidupan.

Hal ini sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 152 yang artinya: ”Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepadaKu.”

Kedua, Menambah rezeki dan menangkal adzab. Allah SWT akan menambahkan nikmat dan menjauhkan adzab bagi orang yang bersyukur sesuai dengan penjelasan dalam surat Ibrahim ayat 7 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azdab-Ku sangat pedih’.

Ketiga, Mendatangkan kesembuhan. Dengan bersyukur, Allah SWT akan menyembuhkan penyakit seorang hamba dan akan memberikan nikmat yang jauh lebih baik dari sebelumnya, seperti halnya dalam kisah nabi Ayub as .

Keempat, Mengantarkan ke Surga. Dengan bersyukur, seseorang akan merasa puas atas nikmat yang dikaruniakan Allah swt sehingga dia akan masuk surga sebagaimana dalam keterangan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan Nasa’i tentang calon penghuni surga yang tidak pernah menipu dan khianat terhadap seorang muslim, dan tidak pernah iri hati dan dengki atas karunia yang Allah swt berikan kepada orang lain.

Adapun fakor penghalang seseorang untuk bersyukur adalah pertama, Hati yang sempit, yakni hati yang disetir oleh hawa nafsu yang selalu mendewakan materi dan dipenuhi perasaan-perasaan negatif.

Kedua, Mudah mengeluh dan iri hati yang akan melahirkan pikiran-pikiran dan sifat-sifat negatif dalam diri seseorang.

Ketiga, Memandang remeh terhadap nikmat Allah swt yang akan menjadikan penghalang tumbuhnya rasa syukur pada diri seseorang. Keempat Cinta dunia dan enggan berbagi karena khawatir menjadi miskin.

Kelima, Mudah putus asa yang membuat seseorang jadi enggan bersyukur karena menjadikan rintangan serta penghalang sebagai kambing hitam untuk sebuah kegagalan.

Dan akhirnya berhenti berjuang dan menyalahkan nasib atas kegagalan yang diterima. Sudah seharusnyalah kita bersyukur, karena nikmat yang telah diberikan Allah SWT tidak akan bisa dihitung sesuai penjelasan QS. Ibrahim ayat 34. Demikian semoga bermanfaat. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.