Tampak Kiai Sholeh saat memimpin Istighotsah untuk keselamatan Jawa Timur di Gedung Astranawa yang dihadiri putra Mbah Maimun Zubair. (FT/RIDHO)

SURABAYA | duta.co – Tangis lirih jamaah terjadi di mana-mana. Hampir seluruh jamaah masjid dan musholla di sekitar Surabaya, Sidoarjo yang sedang rutinan yasin-tahlil, membacakan fatihah untuk kiai kita, KH Sholeh Qosim. Grup-grup WA warga nahdliyin tak henti-hentinya mengabarkan sosok beliau.

“Baru saja saya terima dari jamaah Masjid Mapolda Jatim, bahwa, beliau berkenan hadir untuk acara Istighotsah di Mapolda, Ahad (13/5) besok,” begitu kisah yang terbaca dari grup WA nahdliyin, Kamis (10/5/2018).

Kepergiannya begitu mendadak. Tidak ada tanda-tanda sakit serius. Bahkan Kiai Sholeh kapundut saat menjalankan salat. “Telah wafat Guru kita KH Sholeh Qosim-Ngelom Sepanjang Sidoarjo, ba’da maghrib jam 18.30 dalam keadaan sujud dan tasbih masih di tangan. Semoga Allah swt angkat derajat beliau dan diberikan khusnul khotimah. Amin,” demikian disampaikan keluarga besar Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) Pengurus Cabang Sidoarjo-Jawa Timur.

Hal yang sama disampaikan KH Zahrul Azhar Hans atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang. Kiai Sholeh adalah alumni pesantren tersebut. “Keluarga besar PP Darul Ulum turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian beliau. Kiai Sholeh adalah sosok alim allamah, kiai yang santun dan tidak pernah melupakan almamater pesatrennya,” demikian disampaikan Gus Hans panggilan akrab putra almaghfurlah KH As’ad Umar pengasuh PP Darul Ulum, Jombang ini kepada duta.co.

Duka cita juga datang dari KH Ali Mustawa pengasuh PP Syahlaniyah, Jrebeng, Krian. Menurut Kiai Ali, sosok Kiai Sholeh Qosim sangat dibutuhkan bagi NU dan Indonesia. Beliau tidak pernah silau dengan godaan dunia. “Kiai yang alim dan istiqomah. Kita sangat kehilangan, semoga kita diberi kekuatan Allah swt untuk meneruskan perjuangan beliau,” jelasnya.

Dimasa hidupnya, KH Sholeh terkenal sebagai ulama yang selalu memberi semangat bagi semua orang. Hal ini diakui Nawawi warga Desa Kramat Jegu Taman, Sidoarjo. Sebagai seorang murid dirinya mengaku mendapat banyak pelajaran dan motivasi untuk berjuang bagi kemaslahatan umat.

“Beliau pernah menyemangati saya saat akan merenovasi masjid di desa saya. Saat itu banyak ditentang masyarakat. Semuanya akhirnya berjalan dengan lancar atas masukan dan saran beliau,” kenangnya.

Banyak kenangan dan motivasi yang dijadikannya sebagai pegangan hidup, salah satunya soal berjuang untuk kebenaran. “Satu yang saya ingat dari beliau, hidup harus berjuang, dan dikatakan berjuang itu ada musuhnya. Jadi jangan pernah takut dimusuhi saat berjuang di jalan yang benar,” ungkapnya.

Menurut informasi, jenazah beliau dimakamkan usai sholat Jumat, di kompleks makam pesantren Ngelom. Allahummaghfirlahu warhamhu wafihi wafuanhu. Al-fatihah! (zal)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.